Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 May 2009

Memahami dan Dipahami

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: …man layarhamu layurham (...barangsiapa yang tidak mengasihi maka tidak akan dikasihi-oleh Allah). Dari hadits ini kita dapat pahami bersama bahwa sesuatu akan datang pada kita menakala kita telah melakukan sesuatu.

Sesuatu dalam hadits ini adalah tentang kasih sayang atau cinta. Dimana seseorang akan dicintai oleh orang yang dikenalnya, dihormati oleh orang disekitarnya, dipahami oleh sekelilingnya , tentunya setelah orang tersebut mencintai atau menyayangi, menghormati atau memahami orang lain yang dikenalnya.

Inilah dialektika yang digunakan juga oleh Stephen R Covey dalam salah satu kebiasaan bagi orang-orang sukses dalam hidupnya. Yaitu kebiasaan untuk 'mampu' memahami orang lain untuk kemudian dipahami oranglain. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang kadang masih sering dipraktekkan di lapangan sosial. Dimana orang hanya mau dipamahi atau dihormati atau dikasihi atau dipedulikan oleh orang tanpa mau belajar bagaimana untuk memahami orang yang ada di sekelilingnya.

Seperti kawan sekerja saya yang tidak mau mengerti apa yang terjadi pada orang lain. Tetapi selalu menuntut orang lain untuk paham siapa dan apa keperluan dirinya. Sampai-sampai pernah mengatakan bahwa; saya ya seperti ini. Jadi tolong dimengerti… Atau kadang dengan kata lain; usia saya sudah 35 tahun. Tidak mungkin saya merubah perilaku saya yang seperti ini. Anda harus tahu itu...

Saya pribadi kadang berpikir mengapa orang bisa begitu amat percaya dirinya bersikap seperti ini. Apakah tidak pernah ia bertanya pada diri sendiri bagaimana orang sekelilingnya melihat dia? Dan saya menjadi kasihan pada dirinya yang semestinya, dengan potensi dan kompetensinya mampu untuk menjadi jauh lebih baik dari apa yang ada pada dirinya sekarang. Namun karena sikap perilaku yang tidak mau memahami orang, maka sangat boleh jadi jika pada tahun-tahun mendatang orang lain belum berani memberikan amanah yang lebih besar atau lebih menantang yang semestinya dari atasannya.

Untuk itu, marilah kita mencoba memahami orang yang ada di sekeliling kita terlebih dahulu. Sebagai kapital kita untuk kemudian nantinya mereka memahami kita. Semoga. Amien.

Jakarta Barat, 11 Mei 2009.

6 comments:

Anonymous said...

memahami memang tidak mudah pak... berubah juga tidak mudah...hehehehe tetapi dengan terus belajardan kontemplasi serta rendah hati..insya Allahjadi modal utama

Anonymous said...

subhanallah ...alangkah indahnya hidup, bila kita bisa mempraktekkan seperti dalam hadist tsb, kita bisa memahami orang lain dengan kasih sayang. Maka mulai dari diri sendiri tanpa harus memaksa orang lain memahami kita. Makasih pak agus, semoga ini bisa menjadi panutan dalam kehidupan sosial kita sehari-hari.

Rumyani

Er Supeno said...

Alhamdulillah, pak Agus. terima kasih atas pencerahannya. Masih segar dalam ingatan saya pesan pak covey, ndilalah kok hari ini diingatkan lagi sama penjenengan. matur nuwun

Anonymous said...

yah...itulah manusia..., itu mungkin juga dianggapnya sebagai hak bagi orang itu untuk bersikap, tapi perlu juga orang itu belajar untuk tidak selalu "merasa bisa" tapi juga harus "bisa merasa", jangan seperti katak dalam tempurung nantinya....astagfirulloh...

Kie.Zakiyah^_^ said...

stuju pak agus.....kita memang harus mulai dari diri sendiri...jgn pernah menuntut orang lain kalau kita sendiri tidak mau melakukan..saya pernah punya pengalaman dalam hal ini, ketika saya menuntut teman saya u/ membagi cerita ttg feelnya, saya harus memberikan contoh, apakah saya juga share sama teamn saya itu..alhamdulillah setelah saya share lebih dulu, dia juga akhirnya mau berbagi dgn saya...hal ini juga yang harus kita (guru ) lakukan di kelas, ketika menuntut anak u/ rapi, tenang, membaca, dll..apakah kita sudah melakukan hal itu??
keep spirit^_^

Anonymous said...

Bu Diah: Agree... pak agus. karena kita adalah social human yang tidak bisa hidup sendiri di dunia ini.; walaupun terkadang bila datang sikap melo kita inginnya sendiri dan tidak ingin diganggu dengan siapa-siapa. tapi tidak setiap saat manusia merasakan hal itu. pasti saat-saat tertentu saja dan itu bisa dihitung dengan jari.

seperti juga team work, tidak bisa berhasil seorang diri tanpa bantuan dari anak buah. seorang presiden tidak akan menjadi presiden tanpa dukungan dari isteri atau keluarga, dan tim sukses tentunya.
Memahami orang lain butuh waktu dan usaha maksimal dari diri sendiri, kita tidak akan bisa memahami orang lain sebelum kita memahami diri sendiri.
Mario teguh mengatakan, kalau kamu mau membanggakan anakmu maka banggakanlah dirimu sendiri. artinya kita harus mulai dari diri sendiri.
Atau berusaha untuk mengerti dan berfikir, jika ada teman kita yang mengalami kesulitan dan musibah, bagaimana jika itu terjadi pada diri saya sendiri, apa yang harus saya lakukan? apakah saya tetap dengan sikap ego saya atau menyingkirkan itu?
Terkadang ego memang memegang peranan dan manguasai hati kita, tetapi bagaimana hati sebagai pimpinan utama dalam tubuh dan bertanya pada hati nurani. hati nurani itu adalah bisikan yang paling tepat, bahkan ada yang mengatakan bahwa hati nurani adalah suara Tuhan.
Memahami butuh perjuangan, berat mungkin.
Pernah terjadi pengalaman pada diri saya, saat saya mau menikah, saya berfikir bahwa apakah saya sudah siap untuk berbagi dan memahami pasangan hidup saya. Allah akan tahu kapan saatnya kita siap atau belum siap untuk berbagi dan memahami pasangan hidup. Saat itu, takdir allah menggariskan bahwa saya dinilai sudah mampu dan siap untuk berbagi dan memahami karena itulah allah memberikan jodoh untuk saya.
tetangga juga termasuk orang lain, Islam mengajarkan kalau kita sedang memasak maka banyakkanlah kuahnya untuk dibagikan kepada tetangga. Tetangga lingkungan kerja kita adalah teman partner, anak buah, atasan, Office Boy juga.
Perlu sikap yang usaha yang keras bila kita ingin memahami orang lain dan jangan mengkambing hitamkan watak atau perilaku kita, karena itu bisa diubah oleh kita sendiri.
Kisah sufi menceritakan, ada seorang ahli tasawuf, ahli ibadah yang siap siap untuk masuk syurga tetapi ditahan oleh Allah karena hubungan dia dengan tetangganya tidak bagus dan menyakiti orang lain. Itu tanpa kesadaran dia karena asyiknya beribadah kepada Allah. Apalagi kiya yang secara sadar melakukan hal itu, bau syurgapun tidak akan tercium untuk kita.
Saya masih tetap belajar dan belajar.
SEMANGAT!!! *_*.....