Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 April 2015

Lagi, Terlambat Kerja

Catatan saya hari ini masih tentang terlambat kerja. Ini sepertinya banyak yang mengalami. Sebagai bagian dari komunitas lembaga pendidikan formal, terlambat kerja sama artinya dengan terlambat absen, dan bisa juga meski tidak terlambat absen di kala masuk kantor tetapi terlambat mengajar di dalam kelas. Jadi inilah yang menjadi runyam jika Bapak atau Ibu guru terlambat. Karena bisa jadi terlambat absen sesuai jam kantornya tetapi juga bisa terlambat mengajar di kelasnya.

Tentunya ada seribu satu argumentasi mengapa bisa sampai terlambat. Mulai dari kondisi fisik yang memang kurang sehat ketika bangun sehingga mengakibatkan terlambat masuk kamar mandi sebagaimana hari-hari sebelumnya, kondisi jalanan yang lumayan sekali macet, mengantar anggota keluarga ke dokter di pagi hari yang sakit, atau ban kendaraan yang terperangkap ranjau paku. Dan siapa saja di kantor, pasti tahu apakah argumentasi yang sahih atau yang bukan alias karena malas. Salah satu indikator dari kesahihan dari argumentasi tersebut adalah intensitas keterlambatan si teman tersebut.

Terlambat sebagai Kepribadian

Mohon maaf, saya sendiri, dari pergaulan dan interaksi dengan beberapa teman di sekolahan selama ini, menemukan indikasi yang super aneh mengenai fenomena perilaku teman yang terlambat. Maksudnya yang sering terlambat. Indikasi ini saya dapatkan ketika teman-teman tersebut selalu memberikan stetmen atas pernyataan atau pendapat orang atau bahkan peringatan atasannya atas keterlambatan. 

Seperti apa stetmen teman-teman itu? Misalnya; "Orang kerja yang dilihat datangnya saja. Pulangnya tidak pernah menjadi pertimbangan." Pernyataan ini mungkin sekali benar. Yang kemudian menjadi masalah kalau Kepala Sekolah melihat jam pulangnya yang hampir selalu pukul 20.00, ternyata teman-teman itu mulai bermain tenis meja di koridor sekolah sejak pukul 17.00. Menjadi rancu bukan? Atau pernyataan lain, yang kalau pernyataan itu dirunut  dan dikejar maka sesungguhnya rapuh juga. 

Ketika saya bertemu dengan teman yang bekerja di sekolah lain, yang kebetulan juga memiliki masalah sama dengan guru yang suka terlambat, saya justru menyarankan agar tahun berikutnya memarkirkan saja guru tersebut. Tidak tahu sebagai apa nantinya si guru itu akan dialih tugaskan. Mungkin sebagai guru mata pelajaran atau posisi lain. Karena jika masalah terlambat saja masih menjadi masalah, maka sebagai Kepala Sekolah akan selalu mendapat limpahan masalah dari guru yeng bersangkutan. Mengapa? Karena peserta didik di kelas dimana gurunya yang sering terlambat akan mengadukan masalahnya kepada orangtua di rumah. Dan boleh jadi kepada Kepala Sekolahlah orangtua mengadu.

Dari isi inilah saya menyarankan akar kita jangan mau terus menerus 'membantu' guru dengan kepintaran yang masih sulit untuk datang tepat waktu baik di sekolah atau di kelas ketika jam mengajarnya berlangsung. Setidaknya itulah pendapat saya.

Jakarta, 29 April 2015.

Tidak ada komentar: