Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

28 April 2015

Melaksakan Kegiatan yang Memberi Makna

"Apakah rencana yang disusun untuk sepanjang tahun pelajaran ini dilaksanakan Pak Agus?" Tanya teman kepada saya ketika diskusi sedang berlangsung. Pertanyaan yang normal saja sebenarnya. Tetapi berat sekali untuk saya ketika harus menjawabnya.

"Dilaksanakan semuanya Pak. Tidak ada kegiatan yang telah direncanakan kemudian tidak terjadi di lapangan." Jawab saya penuh percaya diri. Karena memang demikianlah kenyataannya. Bukankah saya hadir untuk memberikan sedikit kata pengantar di beberapa acara yang dilaksanakan tersebut?

"Tetapi bagaimana bisa bahwa kegiatan yang telah dilaksanakan dan tidak memberikan implikasi kepada daya saing diri atau sekolah? Mungkin ada yang punya pandangan berbeda dari saya?" Teman saya menyampaikan keheranannya atas fakta yang ada. Mengapa kerja sudah dilakukan tetapi seperti tidak memberikan bekas? Memang tidak mudah juga untuk dapat memberikan kesimpulan. Tetapi memang seperti itulah setidaknya yang terjadi.

Saya coba untuk melihat dengan kacamata yang berbeda. Ini saya lakukan mengingat apa yang sudah dilakukan, beberapakalinya saya bersinggungan dengan situasinya. Dan dari sisi ini kita baru mendapat gambaran nyata bahwa dialektika pelaksanaan kerja sudah berlangsung namun tidak berimplikasi kepada daya saing diri atau sekolah.

Pertama; Bahwa kegiatan yang telah direncanakan hanya menjadi perhatian dari bagian yang telah diberikan tanggungjawab. Tidak ada kesempatan semua warga sekolah untuk mengetahui sejauh mana kegiatan sedang dipersiapkan dan bagaimana pelaksanaannya nanti. Tidak ada forum untuk semua teman berkontribusi ide terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan. Ketiadaan kesempatan ini berimplikasi kepada kualitas kegiatan itu sendiri, dan juga rasa memiliki akan kegiatan yang dimaksud. Padahal, menurut saya, kesempatan untuk membuka kesempatan kepada semua teman dalam memberikan kontribusi atas kegiatan yang akan dilaksanakan adalah universitas kehidupan. Masing-masing teman dapat memberikan masukan dan pendapat, berdialog, hingga berdebat guna menemukan formulasi kegiatan yang pas.

Kenyataan ini akan mengasingkan semua warga sekolah kepada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekolahnya kecuali kepada mereka yang telah diberikan tanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan.

Kedua; Kenyataan tersebut di atas akan melahirkan sikap tidak terlibat dari orang-orang atau teman-teman yang ada di dalam sekolah, yang nota bene adalah warga sekolah. Rasa ketidakterlibatan ini berlanjut akan lahirnya sikap tidak terbuka untuk sama-sama memberi dan menerima masukan sebagai bagian inheren dari mendewasakan diri atau meningkatkan daya saing diri. 

Setidaknya dua hal itulah yang menjadi kendala bagi diskusi kami guna menemukan langkah untuk bergerak maju dari apa yang telah kami capai selama ini. Bahwa tidak ada keinginan yang kuat dalam mencari solusi agar semua kegiatan yang dilaksanakan memberikan makna bagi setia[p individu yang terlibat di dalamnya. Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 28 April 2015.

Tidak ada komentar: