Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 Maret 2014

Untuk Musim Pemilu

Ini hanya kebetulan sekali. Bahwa saya baru saja membaca kalimat-kalimat dari Buku Saduran Negarakertagama dalam mengisi waktu-waktu saya di kendaraan yang mengantar perjalanan saya. Sebuah buku kecil terbitan PT Tiga Serangkai, Solo.

Sebuah kebetulan, karena sesungguhnya buku saku ini telah ada beberapa lama di lemari buku saya yang ada di kantor. Sebuah buku yang saya peroleh ketika membeli buku tetraloginya Langit Kresna Hariadi, berjudul Gajah Mada.

Artinya, karena buku ini bukan baru, maka sesungguhnya kebetulan sekali jika kalimat-kalimat yang saya peroleh dalam rangkaian Pupuh. Seperti dalam Pupuh LXXXVIII, pasal (?) 2, yang berbunyi; 

Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan pebesar dan wedana:
"Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada Baginda raja
Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu
Jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina

Juga dalam pasal selanjutnya;

Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah
Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh ke petani besar
Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga
Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar

Dua pasal dalam kutipan tersebut benar-benar kebetulan sekali saya baca di musim kampanye dan Pemilu tahun ini. Sungguh, menjadi butiran pencerahan bagi saya, tentunya karena saya melihatnya pada musim menjelang demokrasi ini. Meski, saya menyadari bahwa saya bukan siapa-siapa. 

Atau apa yang dituliskan dalam Pupuh selanjutnya, Pupuh LXXXIX, pasal 2;

Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan
Jika desa rusak, negara akan kekuragan bahan makanan
Kalau tidak ada tentara, negara lain akan mudah menyerang kita
Karenanya perihalarah keduanya, itu perintah saya!

Pada pasal 3;

Begitu peritah Baginda kepada wedana, yang tunduk mengangguk
Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau
(...)

Untaian kalimat dalam pupuh itu belum berakhir. Masih panjang dan terlalu memperjelas akan apa dan bagaimana seharusnya. Sekali lagi, ini menjadi bahan refleksi saya sebagai bagian dari 'butiran angka' yang bernama 'suara' di TPS pada Pemilu tahun ini.

Jakarta, 21 Maret 2014.

Tidak ada komentar: