Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 Maret 2014

Hati-Hati dengan Komentar

Dalam sebuah rubrik tetapnya, di hari Sabtu di koran Kompas, Eileen Rachman dan Sylvina Savitri menulis mengenai komentar yang tidak efektif yang dilakukan oleh pelaku yang seharusnya menjadi role model di sebuah lembaga. Karena tidak efektif, maka perilakunya itu akan menjadi mudah tersebar sebagai bentuk sikap yang kontra produktif (Kompas, Sabtu, 1 Maret 2014). Setidaknya itulah yang saya tangkap dari artikel tersebut.  Tulisan itu sendiri mengupas tentang role model.

Saya tertarik sekali dengan apa  yang dikemukakannya. Ini tidak lain karena setiap tulisan beliau selalu dapat memberikan kepada saya pengetahuan dan sekaligus pemahaman terhadap sebuah perilaku atau terminologi dari sebuah transformasi perilaku dan budaya kerja atau lembaga pada tataran praktek. Itulah sebabnya, mengapa saya selalu  menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan yang hanya hadir di koran tersebut setiap hari Sabtu.

Akan halnya pengalaman saya yang bersinggungan dengan tulisan tersebut, yang saya alami pada saat saya menyampaikan struktur baru di sebuah lembaga pendidikan, yang mana saya menjadi bagian. Maka pada saat itulah saya mendengar komentar yang sungguh mengagetkan saya. sebuah komentar yang sungguh tidak perlu dikemukakan. Karena selain negatif justru berimplikasi kepada taraf pemahaman yang kurang baik bagi yang berkomentar.

Ini karena tidak saja pada bagaimana komentar itu. Tetapi juga oleh siapa komentar  itu berasal. Dua hal yang menjadikan saya memberikan ponten amat tidak bagus untuknya. Meski ia adalah bagian dari manajemen yang merupakan bagian dari mereka yang mendapat jatah untuk menjadi lulusan megister.

Mengada-ada

Itulah komentar yang dia sampaikan di sebauh forum sosialisasi yang kebetulan saya yang harus menyampaikannya. Tentu komentar buruk itu menjadi konsumsi langsung bagi mereka yang  duduk di sekitar meja makan dimana kami mengadakan sosialisasi tersebut.

Sebuah struktur yang memang baru di lingkungan kami, yang kami adopsi dari lembaga pendidikan modern. Namun dengan mengadopsi sesuatu yang modern di lokasi atau di lembaga pendidikan semacam yang kami diamanahi tersebut,  antara lain justru mendapat komentar yang sangat tidak pantas, yang disampaikan oleh bagian dari manajemen lembaga.

Apa langkah berikutnya yang harus saya sampaikan? Maka sebuah presentasi kecil menjadi sosialisasi baru. Sebuah oresentasi yang merupakan kumpulan halaman depan dari web lembaga yang saya maksudkan. Dimana strutur baru tersebut nempel di halaman depan web sehingga apa yang kami adopsi sesungguhnya adalah sesuatu yang telah menjadi barang lama di sekolah lain.

Artinya? Komentar teman saya itu justru sebagai pembuktian bahwa tingkat pengetahuan, pemahaman, dan wawasan yang masih terbatas. So, hati-hatilah dengan komentar yang negatif.

Jakarta, 7 Maret 2014.

Tidak ada komentar: