Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Maret 2014

Kemapanan VS Perubahan

Beberapa hari lalu, saya menerima email dari teman. Dan ini bukan email formal masalah yang berkait dengan pekerjaan, meski yang mengirim dan menerima adalah teman-teman kantor juga. Ini karena email dikirim dengan isi yang lebih tentang diskusi dan tukar pikiran antara kami tentang situasi yang sedang kami alami bersama. Yaitu tentang pengembangan lembaga dengan bekejasama dengan sebuah lembaga konsultan.

Jadi, arah diskusinya tentang situasi mapan, tentang kondisi lembaga yang seolah menjadi stagnan, tentang kondisi penerimaan siswa didik baru yang menunjukkan arah kurang menggembirakan, tentang kualitas SD yang sepertinya bukan lagi menjadi pilihan bagi calon orangtua siswa, tentang sekolah dan semua perlengkapannya yang memang bukan menjadi pilihan.

Dan seperti dalam pikiran kami semua, itu barangkali masih fenomena, atau fakta, karena perjalanan waktu untuk sebuah tahun pelajaran baru baru saja akan berakhir dan saat penerimaan peserta didik baru juga baru berjalan di seperempat awal perjalanan. 

Dan yang lebih kami semua belum ketahui secara pasti adalah, apakah perilaku dan kinerja yang selama ini menjadi pakaian kami sehari-hari adalah indikator atau menjadi bagian dari apa yang dinamakan mapan atau masuk dalam kategori kepamapanan?

Lalu, apa lebih kurang isi dari email yang saya terima itu? Tidak lain adalah bahwa saya mendapat apresiasi dari teman tentang sebuah langkah yang sedang kami lakukan dan jalani bersama untuk sebuah pengembangan bagi lembaga kami. Dan karena email itu antaralain mengandung  kata-kata kemapanan dan perubahan, maka saya kemudian menjadi berpikir; jangan-jangan saya dan teman-teman faham tentang kata mapan dan berubah, tetapi sungguh blank jika itu menyangkut dengan apa yang menjadi bagian dari kemapanan dari keseharian saya dan kami semua, serta apa yang harus kemi lakukan dengan perubahan sebagaimana yang dimaksudkan sebagai lawan dari kemapanan itu?

Dal kalau itu yang terjadi, maka sesungguhnya saya dan teman-teman sesungguhnya sedang mengalami kefakuman makna. Saya tahu tentang maksud dari kata itu, namun buta ketika kata itu harus terwujud dalam perilaku sehari-hari. Tentunya kalau saya sebagai guru, maka apa saja yang dimaksud dengan kata mapan dalam tataran perilaku saya, yang harus menjadi fokus saya untuk saya lakukan perubahan dalam bentuk perilaku yang tidak mapan?

"Mungkin harus ada yang menjadi cermin  bagi kita bersama. Benchmark, sekolah kompetitor, barangkali bisa kita jadikan sebagai cermin. Kita eksplor bagaimana guru di sekolah tersebut menhabiskan waktu dan berkomunikasi bersama peserta didiknya di sekolah?" Demikian yang sahabat saya sampaikan dalam kalimat emailnya yang terakhir.

Diskusi dalam email itu harus berhenti. Karena memang tidak ada satu dari kami yang paling mujarab memberikan jalan keluar...

Jakarta, 17.03.2014.

Tidak ada komentar: