Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 Maret 2014

Move On...

"Pak Agus, Dea itu belum juga move on Pak..." begitu kalimat yang saya dengar dari seorang remaja putri kelas IX, yang adalah peserta didik kami di sekolah. Sebuah kalimat yang sesungguhnya menjadi pemberitahuan kepada saya dan sekaligus meledek temannya yang ada di sampingnya pada saat mereka berdua bertemu saya di tangga keluar sekolah. Seperti gaya remaja biasanya, maka kalimat itu segera menjadi bahan diskusi yang berbau kalah menang.

Apa sesungguhnya yang mereka maksudkan dengan move on itu? Dari informasi berikut yang saya dapatkan, bahwa anak yang dipanggil Dea itu sedang putus dengan cowok yang disukainya. Namun status putus tersebut dirasakan oleh Dea dengan berkepanjngan. Maka sahabatnya itu mengatakan kepada saya bahwa Dea belum ingin move on dari situasi putus itu.

Itulah setidaknya makna dari istilah move on yang disampaikan peserta didik saya tersebut. Bagaimana juga jika saya menggunakan istilah yang bagus itu dalam ranah saya sebagai guru? Ini karena pengertian yang saya tangkap dari istilah siswi saya tersebut benar-benar pararel.

Saya menemukan pengalaman yang sepertinya pas. Ini berkenaan dengan peristiwa yang baru saja saya alami. Move on pada tararan pengalaman saya itu saya dapat artikan sebagai berpikir ke depan. Bergerak maju. Tidak menunggu. Atau jika menggunakan bahasa Stephen R Covey dalam Kebiasaan Efektif, maka move on bermakna proaktif.

Teman di Infus

Beberapa pekan lalu, saya masuk melakukan pejalanan bersama teman-teman yang lainnya. Kami harus terhenti untuk sebuah urusan yang memang benar-benar emerjensi. Ini karena satu dari kami harus mendapatkan perawatan yang lumayan serius. Dan sebagai bagian dari peserta, maka saya menunggu instruksi dari panitia akan kelanjutan penanganan dan perjalanan. Tentunya, karena tidak ingin dirugikan oleh situasi, maka sembari menungu perawatan, saya membaringkan badan untuk mengusir penat yang bergelayut sejak kemarin malam. Jadilah saya tidur.

Namun setelah terbangun pada satu setengah jam kemudian, saya mencoba untuk mencari informasi tentang sahabat saya yang mendapatkan perawatan dari teman-teman yang menunggui di dekatnya. Dan karena tidak satupun dari teman yang mampu memberikan gambaran jelas mengenai kondisi sahabat saya yang sedang di rawat tersebut, jadilah saya diajak oleh teman yang lain bertemu dengan penanggungjawab dari penanganan sahabat saya itu.

"Tidak apa-apa. Sejauh ini perkembangannya baik. Bapak dapat membawa teman Bapak untuk melanjutkan perjalanan setelah usai dengan cairan infus itu." Jelas Ibu Dokter di ruang perawatan.

Maka dengan bekal penjelasan dokter tersebut, kami memecah rombongan menjadi dua bagian. Dan itu adalah kesimpulan setelah menunggu sekian waktu. Maka pertanyaan berikut yang lahir dari kami adalah; 

"Mengapa tidak sedari tadi kami mencoba untuk menemukan informasi tentang kondisi teman?"

"Bukankah jika informasi tersebut kami dapatkan lebih awal, maka keputusan terbaik dapat kami ambil dengan lebih cepat?"

Dan seperti pembukaan catatan saya di atas, ini semua karena kami kurang memiliki semangat untuk move on...

Jakarta, 7 Maret 2014.

Tidak ada komentar: