Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 February 2011

Semangat Sahabatku

Ada sahabat yang datang dari Bengkulu. Sahabat di SPG. Tentunya juga sebagai guru seperti saya. Kedatangannya di masa liburan bersama keluarganya, ia menginap di tempat tinggalku di Slipi. Ketika itu, meski adalah masa libur sekolah, namun sebagai pengelola lambaga, saya masih harus aktif ke kantor. Artinya, ketika ia datang sulit bagi saya untuk dapat melayani secara khusus. Mengingat saya harus kantor.

Menjelang senja, kami terlibat cengkerama di teras rumah. Mungkin ada rencana yang telah sahabat saya susun untuk hari besok. Lalu saya pun mengusulkan untuk mengunjungi sekolah-sekolah yang kebetulan saya mengenalnya dengan baik. Ini kalau dia setuju. Saya tidak mau memaksa karena ini adalah liburannya. Dan usul saya untuk berkunjung ke sekolah-sekolah tersebut sebenarnya bukan termasuk dalam pengisian masa liburan. Namun diluar dugaan bahwa sahabat saya dan istrinya yang juga guru menyetujui usulan saya.

Maka jadilah saya menyiapkan diri untuk hari besok, yang menurut gambaran saya yang telah terbiasa berjibaku dengan sulitnya 'bergerak' di jalanan Jakarta, dengan secepatnya berpamitan untuk istirahat. Mengingat tujuan pertama yang akan sambangi adalah sekolah di Cipete, Cilandak, lanjut ke sekolah yang ada di perumahan Bintaro Jaya Sektor IX Tangerang, Lanjut ke sekolah dimana saya bekerja sekaligus saya ngantor barang dua jam di daerah Pulomas, Jakarta Timur, dan yang terakhir adalah sekolah anak saya di wilayah Tebet Barat, Jakarta Selatan. Empat sekolah selama satu hari saja. Kami berangkat dari tempat tinggal saya di Slipi Jakarta Barat pada pukul 07.00.

Dan untuk setuiap lokasi sekolah yang kami kunjungi, saya selalu mengajak sahabat saya, Istr dan anaknya berkeliling melihat bagian-bagian sekolah yang lebih kurang memakan waktu satu setengah jam.

Pada pagi hari sebelum kami mengawali perjalanan, sahabat saya sempat sesumbar kalau dirinya juga orang yang cukup memiliki ketahanan fisik untuk 'berjuang hidup' di Jakarta. Dan hari itu adalah pembuktiannya. Ia merasa diri tidak kalah dengan saya.

Sekitar pukul 11.00, kami telah menyelesaikan setengah perjalanan kami. Dan pada jam itu pula kami meluncur menuju Pulomas di Jakarta Timur dengan rute Tol Pandok Aren-Pondok Indah-Cawang-Rawamangun. Pukul 12.00 kami sampai di sekolah ketiga. Setelah puas mengitari seluruh 'pelosok' yang terdapat di sekolah saya di Pulomas, sekitar pukul 15.00 kami menuju ke Tebet Barat. Ini adalah sekolah keempat yang menjadi tujuan terakhir kami. Pukul 17.00 kami sudah meluncur pulang ke Slipi.

Dalam perjalanan pulang itu, kembali saya menawarkan apakah mau memilih jalur tol Pancoran-Senayan atau memilih jalur arteri? Pertimbangannya saya berikan. Dan sahabat saya memilih jalur arteri. Supaya banyak yang dapat dilihat. Katanya. Apa yang terjadi selama jalur Pancoran-Senayan? Seperti normalnya Jakarta. Macet. Dan ketika kami sampai di sekitar kantor PMI, sahabat saya dan keluarganya semua tak tertahankan untuk menahan kelelahannya. Mereka semua pulas dalam kemacetan Jakarta. Saya yang menjadi driver-nya terpaksa harus merasakan perjalanan itu dengan merayap.

Di depan gedung DPR/MPR, saya bangunkan sahabat saya.
  • Itu gedung DPR/MPR. Yang sering kita tonton di TV. Yang disaat siaran langsungnya, para anggotanya berdebat, berteriak, ngotot, dan berebut bicara. Ayo bangun dan lihat. Kata saya membangunkan sahabat saya. Ia bangun;
  • Sampai dimana ini Gus? geragap sahabat saya.
  • Sampai Slipi. Jawab saya.
  • Aku tidur dari tadi ya Gus. Wah kamu hebat. Aku merasa kalah. Kata sahabat saya.
  • Kalah apanya? Tanya saya.
  • Kalah, kalau hidup di Jakarta tidak hanya butuh kekuatan fisik. Tapi justru kuat emosi dan daya tahannya.
Dari perjalanan satu hari itu, cukup bagi saya memberikan gambaran kepada sahabat saya bahwa kalau ia datang tempat tinggal saya di Jakarta, harus legowo jika saya tidak mengajaknya kemana-mana. Alhamdulillah, pengertian itu tertanam. Maka lokasi paling mungkin yang dapat dijangkaunya adalah Pasar Tanah Abang. Dan sejak mengenalnya, mereka seperti kesetanan untuk segera berangkat ke pasar itu jika waktunya memungkinkan.

Jakarta, 23 Februari 2011.

17 February 2011

Yayasan Menggaji Guru Seenaknya?

Itulah judul dalam milis guru yang saya ikuti. Disampaikan bahwa ada seorang guru yang mengeluhkan akan gajinya yang kecil. Dan karena kecilnya itu, maka si guru tersebut menuliskannya dalam bentuk artikel. Mungkin sebuah kenyataan pahit yang terpaksa dilakoninya. Namun apakah kenyataan itu sebagai kebenaran yang adil? Adil dilihat dari si penulis artikelnya dan juga adil dilihat dari sisi yayasannya? Belum ada informasi yang detil tentang itu.

Itulah sebuah kesimpulan yang oleh penulisnya dalam milis kurang mendapat telaah lebih mendalam tentang mengapa guru itu bergaji kecil dan tidak memuaskan sehingga melahirkan anggapan bahwa yayasan yang mengelola sekolah dimana dia mengajar memberinya gaji yang kecil. Memang ada satu yang pasti dari apa yang disampaikan tersebut. Yaitu bahwa guru tersebut mengajar di sebuah sekolah swasta. Karena guru tersebut menceritakan tentang Yayasan sebagai pengelola sekolahnya.

Dalam tulisan ini saya, sebagai guru, pengelola sekolah dan juga kebetulan terlibat sebagai salah satu pengurus yayasan pendidikan, mencoba menelaah secara lebih seksama kasus tersebut. Bukan hak saya untuk mengadili siapa dan dimana yang benar dan yang mana yang bersalah dalam masalah ini. Juga bukan mental saya untuk memperlihatkan diri bahwa saya adalah yang paling benar dalam hal ini. Tujuan saya tidak lain hanyalah untuk mengajak kita semua sebagai individu, sebagai guru, sebagai yayasan, sebagai anggota dari masyarakat luas, untuk tidak mudah tersulut atau malah terprovokasi dari suatu informasi, aduan, keluhan, curahan hati yang baru dilihat dari satu sisi saja. Untuk itulah saya bermaksud mengangkat tulisan dalam milis tersebut menjadi telaah dalam tulisan ini.

Informasi Tambahan, untuk Dapat Melihat Gambar Menjadi Utuh
Informasi tambahan yang kita butuhkan adalah berkenaan dengan status guru tersebut, termasuk di dalamnya adalah hal ihwal yang berkenaan dengan tugas dan jumlah jam mengajar. Juga informasi yang terkait dengan yayasan dan sekolah yang dikelolanya. Apa status sekolah itu? Bagaimana kualifikasi sekolahnya, dan lain sebagainya. Semua informasi ini tidak lain adalah untuk memberikan gambaran yang lebih holistik terhadap hal yang dipermasalahkan.


Sebagaimana yang telah saya ungkap diatas, informasi tambahan yang berasal dari guru tersebut misalnya; adalah status kepegawaian guru. Harus diketahui bersama bahwa status kepegawaian seseorang akan berbanding lurus terhadap pendapat dan jaminan lainnya, sesuai dengan ketentuan yang ada, akan berbeda antara yang pegawai tetap, kontrak, atau kontrak dalam jangka waktu tertentu.

Dan status kepegawaian juga barangkat dari tugas pokok yang diampu oleh seseorang. Maksud saya, tidak mungkin seseorang akan diangkat oleh sebuah lembaga menjadi pegawai tetap namun memiliki tugas yang hanya dapat dilakukan oleh pegawai dengan status non tetap. Misalmnya, karena jam kerja yang paruh waktu. Maka sulit bagi sebuah lembaga mempertanggungjawabkan pekerja paruh waktu dengan status pegawai penuh waktu. itu sebuah ketidak seimbangan. Ketidakadilan.

Tentu berbeda apa bila guru yang bersangkutan adalah benar-benar guru tetap namun dengan pendapat yang 'seenaknya' dari lembaga yang memberikan kerja kepadanya. Tetapi sesungguhnya, dalam kondisi yang demikian, jika itu adalah saya, saya memilih tidak akan menerima tawaran lembaga tersebut. Cukup bagi saya untuk mengatakan; terima kasih tawarannya, mohon maaf saya tidak dapat bergabung.

Untuk itu, adab yang harus kita pegang bersama di awal bekerja di sebuah lembaga apapun adalah; apa yang menjadi pekerjaan saya, dan berapa imbalannya. Hal seperti ini terdengar sangat kapitalis, namun inilah, setidaknya bagi saya, keterbukaan. Harus kita yakini bahwa keterbukaan atau transparasi adalah titik awal bagi sebuah fitnah.

Dengan pola seperti itu, maka akan menjadi naif bilamana saya curhat kepada Anda tentang gaji saya yang kecil?

Informasi berkenaan dengan yayasan atau lembaga pemberi kerja juga perlu kita fahami. Namun bagi saya, cukuplah kita dapat melihat dengan lebih jelas berkenaan dengan keluhan guru yang berucap: Yayasan seenaknya menggaji gurunya? Hal ini didasari bahwa pilihan bekerja dimana dengan gaji berapa adalah pilihan saya sebagai pekerja. Saya dapat memilih untuk bekerja dimanapun dan kepada siapapun sepanjang memang ada kesempatan dan kesepakatan antara pemberi kerja dan saya sebagai pekerja.

Dan jika ini falsafahnya, pertanyaan berikutnya adalah; seberapa kualitas kompetensi saya untuk memperoleh imbalan yang menjadi impian saya?

Inilah pendapat saya. Namun bagaimana juga, saya tetap akan menghargai apapun yang menjadi pendapat Anda.
Jakarta, 17-20 Februari 2011.

Ratna, Remaja yang Saya Kenal

Dialah remaja yang ada di lingkungan saya bekerja, yang baru saya benar-benar mengenalnya secara lebih baik saat membuat refleksi atas kegiatan OSIS sekolah. Dimana, dari sekian refleksi yang dibuat dalam bentuk tertulis dan terkumpul di guru pembina OSIS, saya menemukan adanya sesuatu yang berbeda. Tidak hanya pada isi dari refleksi yang dibuat dalam bentuk narasi yang lumayan panjang dan mengalir, tetapi juga gaya penyampaian yang bernas dan berlogika puisi. Dialah remaja yang bernama Ratna, tentu bukan nama yang sesungguhnya. Saya sengaja menyembunyikan identitas aslinya untuk kepentingan etika saja ketika harus mengumumkan tulisan saya ini

Saat itu, saya panggil Ratna ketika ia bersama teman-temannya selesai menunaikan Salah Dzuhur berjamaah di sekolah. Saya pegang lembaran tulisannya. Sebelumnya tulisan itu terlebih dahulu menjadi bahasan antara saya dengan guru. Tentu tentang isi tulisannya, gaya penyampaian idenya, dan juga diksi yang digunakannya. Kami sepakat untuk mengatakan dan memberikan predikat luar biasa atas karya tulis itu.

Saya katakan kepada Ratna dalam pertemuan itu; apresiasi yang tinggi sekali atas refleksi yang dibuat secara serius.

  • Pak Agus senang dengan tulisan yang kamu buat ini. Ini tulisan luar biasa untuk ukuran seusia kamu. Kata saya. Dia manggut-manggut, lalu berucap;
  • Terima kasih Pak.
Dialog selanjutnya antara saya dengan dia adalah seputar bagaimana dia membuat tulisan itu? Apa logika yang mendasari sehingga tulisan dapat dibuat dengan begitu lancar dan runtut. Juga dari mana logika puisi serta pilihan kata yang begitu hebat di usia remajanya yang belum 15 tahun? Dia menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan saya.

Dalam acara berikutnya, dimana saya diundang pada sebuah jamuan makan siang di suatu tempat, saya bertemu dengan ibunda Ratna, yang kemudian melaporkan kepada saya;
  • Pak Agus, terima kasih ya Pak, Bapak sudah mengajak anak saya berbicara tentang tulisan refleksi OSISnya. Anak saya bangga sekali diajak diskusi Bapak.
  • Sama-sama Bu. Saya dan bahkan kami semua, guru Ratna, terperanggah dengan tulisan refleksi Ratna yang begitu hebat. Baik keruntutannya, kebernasan isinya, pilihan katanya, dan juga gaya pusitisnya. Untuk usia dia, itu tulisan yang luar biasa. Dia sepertinya berbakan untuk menulis yang bagus. Kata saya.
Tapi beberapa waktu setelah itu, saya menemukan Ratna yang berbeda. Dia ada diantara teman-temannya saat di sekolah atau saat menunggu jemputan setelah jam sekolah berakhir. Raut muikanya tidak terlalu ceria. Lalu saya mencari informasi tentang keadaan dia. Ternyata apa yang saya lihat senada dengan konselor kami di sekolah. Maka informasi datang kembali kepada saya yang tidak disangka lagi;
  • Dia sedang kalut dan ketakutan Pak. Cerita konselor di sekolah.
  • Takut kalau keluarganya, ayah dan ibunya, berpisah seperti keluarga teman-temannya. Ia adalah remaja melankolis yang selalu mengimginkan keharmoisan hubungan dalam keluarga. Jelas konselor.
Lagi, inilah sebuah kehebatan cara berpikir anak didik kita di sekolah. Tidak terduga. Kadang menikung tanpa memberikan rambu sedikit pun. Luar biasa pel;ajaran yang saya ambil dari Ratna, remaja yang saya kenal di sekolah. Pelajaran unik yang berbeda dari yang biasanya.


Jakarta, 17-29 Februari 2011.

Maaf, Saya Harus Menolaknya

Maaf, kalau kali ini pun saya harus menolaknya. Ada beberapa alasan yang membuat saya harus membuat kebijakan seperti itu. Menolak tawaran kerjasama dari badan-badan yang menjual skill-nya untuk mengoptimalkan belajar siswa atau mengembangkan nama baik sekolah. Menolak atas tawaran kerjasama bisnisnya dalam mengakselerasi dan melambungkan nama sekolah dari keterampilannya dalam meng-up grade tapak dan tampak serta image sekolah menjadi lebih segar, muda, modern, dan bersinergi dengan keramahtamahan. Menolak untuk membuka rekening bagi seluruh siswa atau untuk uang yang yayasan kelola. Menolak semua bentuk bujukrayu yang berada di luar urusan pendidikan yang menjadi tanggungjawab utama saya sebagai pengelola sekolah.

Karena begitu banyaknya tawaran yang datang klepada saya, semakin saya menyadari bahwa mereka akan menjerumuskan saya untuk terlibat terlalu dalam dalam dunia perdangan dan berbagai budaya instan dalam ranah yang menjadi bagian pokok saya di sekolah ini. Untuk itu, setiap tawaran dan proposal serta presentasi yang datang kepada saya, dengan tanpa tedeng aling-aling lagi saya katakan maaf!

Kecuali tawaran, proposal dan presentasi yang berkait dengan sarana dan prasarana pendidikan yang menjadi bagian pendukung dari keberhasilan siswa dalam mengoptimalkan potensinya. Namun selain itu, saya segera menolak. Bahkan untuk minta waktu bertemu atau preentasi sekalipun. Kejam? Lihatlah argumentasi saya sebelum Anda mengatakan bahwa sikap saya itu kejam.

Pertama; Saya berkeyakinan bahwa sekolah bukanlah lahan yang senada dengan pasar dan hukum-hukumnya. Sekolah adalah komunitas untuk tumbuh dan menumbuhkan perilaku dan akhlak yang luhur. Dan beberapa prinsip yang terdapat dalam dunia dagang nyaris bertentangan dengan prinsip sekolah yang saya yakini. Untuk itu, saya tidak mau terlibat terlalu sibuk dalam kegiatan untung-rugi dalam dunia dagang itu. Meski program dan tawaran yang disampaikan dengan berbagai bahasa dan cara. Saya tetap tidak mudah bergeming. Atau meski program yang ditawarkan adalah lisensi dari negeri adikdaya dengan kontribusi per siswanya 'hanya' IDR 15,000!

Kedua, Saya berkayikan yang seyakin-yakinnya bahwa membangun budaya luhur kedapa komunitas sekolah tidak dapat dilakukan hanya dalam bentuk program akselerasi atau crash programme. Tawaran seperti ini selalu datang dengan nama yang semakin hari semakin menarik. Ada program yang berkenaan dengan pemberdayaan otak, pemberdayaan kekuatan bawah sadar, kedahsyatan strategi belajar, dan sebagainya yang pada ujungnya adalah penarikan uang yang tidak murah.

Dengan keyakinan saya inilah maka dalam kesempatan yang berbeda, saya selalu sampaikan kepada guru dan orangtua siswa dalam berbagai kesempatan bahwa, tidak akan ada akhlak atau bahkan budaya yang permanen yang ditempuh dengan jalan pintas atau jalan instan. Meski kadang keyakinan saya ini menjadi cemoohan bagi mereka yang meyakini atas kesuksesan metode dan strategi yang mereka sudah patenkan. Karena saya hanya yakin bahwa pembelajaran karakter harus melalui keteladanan dan bukan dengan cara instan.

Ketiga, Saya adalah orang yang sakit hati bilamana orang menjual sesuatu dalam bentuk lisensi. Misalnya mereka menjual sebuah alat namun penggunaannya dengan menggunakan password yang jangka waktunya mereka kendalikan. Maka pada tahap awal, langsung saya katakan tidak.

Jadi, maafkan kalau saya harus katakan dengan tidak basa-basi untuk tidak tertarik dan tidak berminat memiliki atas tawaran, proposal, atau bahkan presentasi yang Anda berikan kepada lembaga yang saya dan teman-teman memiliki prinsip seperti itu.

Jakarta, 17-20 Februari 2011.

14 February 2011

Tak Perlu Ajari Saya untuk Toleransi

Benar. Jangan ajari saya untuk toleransi. Sikap ini bedasarkan pada dua argumentasi. Pertama, karena sangat boleh jadi pemahaman Anda tentang toleransi berbeda dengan apa yang saya pahami. Sehingga tidak akan ada titik temu atau tidak ada yang dapat mempertemukan kita pada satu titik yang sama untuk disepakati.

Kedua, karena boleh jadi juga Anda meneriaki saya tidak memiliki rasa toleran karena Anda menyimpan maksud tersembunyi. Misalnya, Anda mengajak saya untuk sebuah toleransi sebagai tahap awal agar saya juga pada akhirnya menyatakan bahwa semua agama sama. Oleh Karenanya, tak perlu ajari saya untuk bertoleransi seperti apa yang Anda maui.

Tentang Siapa Saya

Sekedar untuk pengetahuan Anda saja. Saya Islam yang lahir dari ayah dan Ibu Islam. Jika melihat silsilah keluarga dari ayah, dari 5 bersaudaranya ada tiga non Muslim dan dua Muslim. Jadi satu bude saya dan dua bulek saya non Muslim. Kami bersaudara akrab. Kalau ada bulek saya yang non Muslim sedang ada ketidakenakan dengan kakaknya yang seagama, Maka bulek saya akan lari ke Ibu saya untuk curhat. Begitu juga bude. Jadi Ibu saya yang Muslim adalah lumbung pengaduan mereka.

Dan perlua Anda garis bawahi bahwa, selama pergaulan kami yang hingga kini rukun-rukun saja, tidak pernah terdengar di telinga kami masing-masing percakapan berkenaan dengan agama. Kami tidak pernah meyatakan bahwa agama kami paling baik di telinga mereka. Demikian juga mereka di telinga kami.

Mungkin karena pengaruh keluarga seperti itu, juga pastinya karena pilihan kami juga, maka saya pun melanjutkan sekolah di lembaga pendidikan yang berafiliasi pada agama bude dan bulek saya. Hingga akhirnya saya sekarang dapat lebih memahami agama yang saya anut dengan lebih baik.

Perlu juga saya sampaikan disini tentang pengalaman berikutnya di tempat kerja. Dimana saya menjadi kepala sekolah yang menampung lima agama. Yang pada suatu masa, saya ditunjuk untuk menjadi 'menteri agama'nya. Itu sebutan keren saya untuk jabatan saya sebagai koordinator agama di sekolah saya itu. Dan alhamdulillah saya dapat memayungi kegiatan agama tersebut dengan baik. Meski pada waktu itu terjadi pula insiden perebutan TOA di Hari Jumat menjelang shalat jumat.

Dari pengalaman hidup saya yang tidak terlalu berwarna itu, saya meyakinkan diri untuk berpendapat bahwa saya tak perlu lagi dikuliahi tentang bagaimana bertoleransi.

Pernah pada juga waktu menjadi koordinator agama tersebut. seorang teman guru mengusulkan agar dalam perayaan hari besarnya, keikutsertaan masing-masing tidak saja hanya pada saat makan bersamanya saja, tetapi sejak awal. Dan kepadanya saya katakan; Apakah Anda cukup merasa nyaman bilamana Anda ikutserta dalam acara halal bil halal hingga shalat dzuhurnya dimana Anda ikut serta dalam barisan kami shalat?

Dari pernyataan saya itu teman saya akhirnya memahami bahwa toleransi hanya ada dalam ranah sosial. Domein horizontal. Dan bukan pada hubungan vertikal antara mahkhluk dengan Khalik-nya. Dan dari situ pula ia memahami apa yang saya nyatakan untuk tidak mengajari saya tentang bagaimana harus bertoleransi dalam wilayah vertikal!

Jakarta, 14 Februari 2010.

13 February 2011

Sehat Kembali

Siang itu, dalam suasana taklim pekanan yang saya hadiri, ada teman yang bercerita tentang bagaimana ia berada dalam kondisi koma, tidak sadarkan diri di rumah sakit akibat menderita penyakit yang tergolong berat dan mahal. Karena dia telah lancar bercerita, tentu karena ia telah pulih seperti sedia kala. Sehat wal'afiat kembali. Alhamdulillah. Begitu teman lain menyambut kedatangan kembali dalam taklim tersebut.

Dimana ia berjibaku untuk mampu menyebut Allah, Sang Khalik yang diyakininya.

  • Hanya kata itu yang mampu, tuturnya. Ia mencoba dengan kekuatan jiwanya, karena dalam kondisi koma, untuk menyebut lafaz yang lebih panjang. Namun kekuatannya sulit untuk muncul. Maka lafaz Allah yang mampu ia tuturkan.
  • Saya takut jika Allah mengambil saya pada saat saya tidak mengesakan Allah, lanjutnya. Dan kesadaran itu pulalah yang membuatnya untuk hadir dalam taklim siang itu, setelah lebih kurang satu tahun absen. Ia tampak sekali mensyukuri kesehatannya kembali itu dengan tekad untuk mengisi hidup lebih bermakna.
  • Hidup pada kesempatan kedua kalinya. Kata teman yang lain.
Ya, hidup pada kesempatan kedua kalinya. Itulah pernyataan yang paling pas. Dan itu pasti merupakan pengalaman hidup yang tidak setiap manusia mengalami dan memperolehnya dari Sang Khalik. Hanya sedikit manusia saja yang merasainya.

  • Apa yang terjadi pada saat kesadaran itu tidak ada? Tanya temannya.
  • Sulit sekali melafazkan kata atau kalimat toyibah. Bahkan untuk melaksanakan Salat lima waktu ketika kesadaran itu dikembalikan, saya harus bersusah payah untuk mengingat lafaz Al Fatihah. Selalu saja hadir bisikan agar supaya saya tidak melaksanakan Salat. Jelasnya.
  • Itulah yang membuat saya untuk lebih keras lagi dalam belajar agama setelah sehat kembali. Saya takut meninggal dalam keadaan tidak beriman. Lanjutnya.
Pengalaman teman yang pernah mengalami koma yang sedikit berkepanjangan di ruang ICU rumah sakit itu, juga mengembalikan ingatan saya pada apa yang pernah saya saksikan terhadap sahabat atau keluarga yang sekarang ini menjadi sehat kembali atau telah meninggal. Sebuah pengalaman yang mudah-mudahan meyakinkan saya pribadi khususnya, dan kita semua umumnya, untuk benar-benar memanfaatkan dan mengoptimalkan apa yang telah Allah anugerahkan pada diri saya dan Anda.

Itu jugalah yang melahirkan kembali komitmen saya untuk membacai semua buku yang saya telah kumpulkan dan menjadikannya bahan atau referensi dalam membangun dan memperkokoh pengetahuan, pemahaman, dan analisa kepada bentuk pengamalan yang lebih intensif. Saya menjadi berkomitmen kembali agar semua itu saya lakukan sekarang juga. Dan tidak harus masa pensiun datang. Semoga. Amin.

Jakarta, 13 Februari 2011.

03 February 2011

Untung-Ruginya Transjakarta

Beberapa hari lalu saya membaca surat pembaca di sebuah harian berkenaan dengan kemacetan yang semakin menjadi di wilayah Slipi Palmerah. Khususnya arah Semanggi-Tomang atau arah sebaliknya. Lebih-lebih setelah adanya bus Transjakarta. Begitu lebih kurangnya keluhannya. Ia pun memberikan usulan. Antara lain agar meniadakan putar arah yang ada di Slipi untuk arus dari Harapan Kita yang akan menuju ke Slipi Jaya. Selain juga agar memindahkan pintu gerbang jalan Tol Slipi untuk arah Tomang. Karena GT Tol ini terlalu dekat dengan perempatan lalu linta yang terhitung padat.

Apa yang pembaca sampaikan ini, saya juga mengalaminya. Tentu ketika saya harus mengendari kendaraan sendiri. Butuh waktu, tenaga, mungkin juga biaya, dan juga emosi yang tidak terduga hanya untuk menempuh ruas jalur jalan dari pintu keluar tol Senayan (depan Gedung DPR/MPR) hingga sampai rumah yang ada di sekitar 700 meter dari perempatan lampu lalu lintas Slipi tersebut. Oleh karenanya, dengan apa yang disampaikan pembeca dalam surat pembaca itu, saya sangat setuju.

Namun karena beberapa hal yang mendukung, saya justru berpikir berbeda. Sekali lagi mungkin kondisi saya yang mendukung. Baik kondisi jarak rumah ke jalan yang macet tersebut, yang lebih kurang berjaran paling jauh 700 meter. Juga kondisi fisik dan paradigma, barangkali. Oleh karenanya, saya kadang memilih pergi pulang kantor dengan menumpang bus Transjakarta, yang disebutkan oleh pembaca tersebut sebagai pemberi andil paling besar dalam kemacetan. Dan dari pengalaman berada di dalam bus Transjakarta pada saat jalanan macet, memberikan kepada saya jalan pikiran yang lain.

Jalan pikiran itu adalah, ada atau tidak adanya bus Transjakarta, yang memiliki kontribusi kemacetan karena 'menguasai' jalan, dalam dua sisi. Yaitu menguntungkan atau merugikan.

Menguntungkan

Tentu bagi Anda yang berada di dalam bus Transjakarta saat jalanan mecet. Karena jalanan Anda akan tetap terjamin atau sedikitnya terbebas dari kepadatan atau bahkan kemacetan. Anda akan merasakan betapa nikmatnya menjadi penumpang Trans. Lebih-lebih jika Anda mengkontraskan dengan ruas non bus way. Terlebih jika pada saat nanti jumlah bus memenuhi kesesuaian dengan jumlah penumpangnya.

Selain murah juga akan jauh lebih cepat. Dan itu berujung kepada nilai ekonomi. Termasuk juga kontribusinya kepada kesehatan jiwa dan raga kita. Bahkan Anda masih bisa untuk lebih kreatif. Misalnya dengan membawa serta sepeda lipat Anda. Yang memungkinkan Anda genjok untuk menempuh jarak menuju halte bus atau menuju kator atau rumah setelah dari halte bus.

Merugikan

Tentu ketika kita mengendarai kendaraan pribadi atau mungkin jika kita menaiki taksi. Karena jalanan yang hanya tiga lajur menjelang pintu gerbang jalan tol Slipi menuju Tomang, harus diambil satu lajur khusus untuk bus way. Belum lagi jika ada bus kota yang menurunkan atau menaikkan penumpang di sisi itu.

Terlebih, karena kondisi yang membuat sesak napas itu, masih kita kaitkan dengan harga bahan bakar yang harus kita pakai (harus, karena kita tidak punya pilihan untuk memakai bahan bakar yang mengakibatkan kerusakan pada salah saatu komponennya), juga iuran pajak yang harus juga kita bayarkan. Situasi yang menyesakkan itu akan berkontribusi besar kepada kesehatan jiwa dan raga kita.

Menilik itu semua, saya sendiri memformat pola saya dalam menghadapi kenyataan yang semakin berat itu dengan lebih rileks. Yaitu dalam bentuk mengambil pilihan yang paling membuat diri saya untung. Pilihan ini saya ambil agar saya terhindar dari penyakit yang menyalahkaan keadaan di luar diri saya. Sebuah fenomenon yang memang saya sendiri tidak mampu merubahnya.

Jakarta, 3 Februari 2011.


30 January 2011

Penjual Jeruk di AKAP, Gamping-Wojo

Naik Bus AKAP rute dari Yogyakarta yang menuju ke Purwokerto, yang biasanya saya hanya ikut untuk penggalan Gamping menuju Wojo atau sebaliknya, hampir saya lakukan manakala saya berkunjung ke kampung halaman naik umum. Biasanya saya naik bus AKAP dengan rute tersebut saat akan atau pulang darĂ­ kota Yogyakarta. Sebagaimana yang saya lakukan Pada saat selepas magrib di hari Sabtu tanggal 1 Januari 2011 itu.

Namun bukan tentang bus umum itu yang hendak saya sampaikan disini. Tetapi lebih dari kebiasaan yang, menurut saya unik dan baik untuk saya sampaikan di sini, yaitu tentang penjual buah. Yang secara kebetulan dari beberapa kali saya menumpangi bus jurusan ini selalu penjual itu yang berjualan di dalam bus. Apa yang dijualnya? Buah. Ya hanya buah. Bahkan lebih khusus lagi, buah jeruk. Suatu kali penjual buah itu menjual jeruk Pontianak, lalu pada kesempatan yang lain menjual jeruk Mandarin, lalu jeruk lainnya. Yang jelas, seingat saya semuanya adalah buah jeruk.

Penjual itu akan naik bus yang kami tumpangi persis ketika bus ngetem di Gamping, daerah Ambar Ketawang, Yogyakarta. Ia baru akan masuk bus pada saat bus benar-benar akan berangkat. Ketika bus masih ngetem, ia tidak bakalan naik ke dalam bus. Buah jeruk yang dibawanya hampir penuh satu katong zak semen. Dan plastik kresek warna kuning akan di kemas dan disimpannya di kantong celananya. Di lehernya, selalu tergantung handuk kecil. Hampir selalu seperti itu gayanya berjualan, makanya saya dapat mendeskripsikan di sini.

Yang khas dari penjual jeruk di dalam bus itu selain apa yang telah saya sampaikan di atas adalah cara dia mempromosikan kepada seluruh penumpang yang nampaknya tidak begitu antusias atau bahkan cenderung terganggu. Namun ia sampaikan seperti orang sedang berorasi. Bukan tentang jeruknya yang dia jual, namun tentang hal lain.

Dan dalam orasi-orasinya itulah ia menarik perhatian kami yang sebenarnya bete, untuk sekedar mesem-mesem atau menganguk-angguk sebagai tanda bahwa kami menyimak. Kadang ia berorasi tentang bencana dan hikmah yang dapat kita mabil darinya, seperti apa yang kami dengan sore itu. Kadang tentang beratnya menjadi kepala rumah tangga di zaman kini. Pernah pula saya dengar ia berorasi tentang riuh rendahnya politisi berargumentasi di tv. Pendek kata, apa yang diorasikan adalah olahan dari informasi yang dia punya, diramu dengan logika dan keterampilannya dalam merebut perhatian dan sedikit juga rasa iba kita. Pada titik inilah saya berpendapat bahwa ia memang penjual yang pantas untuk saya tulis disini.

Lalu bagaimana dan kapan ia menjual jeruk-jeruknya itu? Ya, sesudah orasinya dia rasakan telah 'merasuk' dan sedikit menyita perhatian kami. Pertama-tama, dia kan meminta kami untuk mencoba jeruk jualannya. Tidak hanya kepada saya seorang, tetapi kepada mereka yang mau mencobanya. Mungkin ada dua atau empat buah jeruknya dia ikhlaskan untuk menjadi percobaan. Langkah berikutnya adalah menawarkan bahwa jeruknya yang manis itu berharga Rp 10,000 untuk delapan buah. Memang ada beberapa dari kami yang berminat membeli.

Berikutnya lagi, setelah bus telah memasuki daerah Kulon Progo, persisnya di pertigaan patung Pensil, penjula itu membanting harga. Yaitu Rp. 10,000 untuk 10 buah jeruk. Alasannya untuk menghabiskan persediaan. Dan memang jeruknya hampir saja tandas. Dan ketika bus sampai di Wates, dijualnya 12 buah jeruknya dengan harga tetap Rp. 10,000!

Dulu, saat kali pertama saya naik bus, tergiur juga untuk membeli jeruknya ketika dia menawarkan 10 buah untuk harga Rp. 10,000. Namun pada waktu yang kesekian kalinya, saya cukup paham untuk tidak cepat-cepat membeli. Setidaknya hingga menjelang akhir!

Jakarta, 3-30 Januari 2011

26 January 2011

Makan Growol


Dalam sebuah berita di liputan6.com yang saya baca beberapa waktu yang lalu, tetangga satu desa dengan saya telah mengkonsumsi growol sebagai pengganti nasi sebagai makanan pokok.
Liputan6 :: Warga Purworejo Mulai Makan Growol.

Mungkin perlu saya ceritakan sedikit dimana lokasi kampung Pletuk yang disebutkan dalam berita tersebut. Ia adalah kampung yang berada di bagian utara desa. Wilayah selatannya adalah kampung Jambu, wilayah tengahnya adalah Wojo, dimana orangtua saya tinggal, dan bagian timur adalah Jurangkah. Keempat kampung itu adalah bagian dari desa Dadirejo, kecamatan Bagelen, kabupaten Purworejo.

Kampung Pletuk merupakan wilayah yang berada di daerah perbukitan dan pegunungan. Wilayah ini sejak masa saya kanak-kanak hampir selalu penduduknya menanami hampir seluruh ladangnya dengan tanaman singkong. Namun pada liburan Idul Fitri tahun 2007 yang lalu, ketika saya pulang kampung dan saya berkesempatan untuk mengajak istri, adik, dan anak-anak mengunjungi Pletuk untuk sekedar melihat peninggalan Jepang dalam bentuk benteng pertahanan, daerah Pletuk sudah dirimbuni oleh tanaman keras yang laku jual. Seperti pohon mahoni, pohon jati, jambu mete yang buahnya jatuh berhamburan, pohon duwet juga dengan buah yang berhamburan di tanah, pohon sengon, dan beberapa perdu. Saya kagum dibuatnya. Tumbuhan yang tumbuh subur menjulang tersebut menghalangi pandangan kami untuk bebas melihat lurus ke arah laut selatan, Samadera Hindia. Sebuah hal yang dulu sangat mudah kami lakukan meski posisi kami masih berada di perbatasan kampung antara Jambu, Wojo, dan Pletuk. Atau bahkan saat kami berada di seberang stasiun Wojo.

Dan kembali pada pokok yang ingin saya sampaikan disini, tentang growol. Makanan apakah growol itu? Saya mencoba menjelaskannya sebagai berikut; bahwa ia sejenis makanan yang diolah dari singkong. Berbeda dengan gatot atau tiwul yang juga berasal dari singkong, growol diolah ketika singkong masih mentah dan direndam selama lebih kurang tiga hari sehingga singkong nyaris menjadi busuk dan bercita rasa bacin. Sedang tiwul dan gatot berasal dari singkong mentah yang telah di jemur hingga kering. yang kemudian kita sebut sebagai gaplek. Untuk menjadi tiwul, singkong kering atau gaplek tersebut akan ditumbuk menjadi tepung terlebih dahulu sebelum dikukus. Dan gatot, setelah gaplek tersebut di cuci, maka ketika dikukus telah siap disajikan sebagai jajanan pasar.

Tiwul dan growol, pada masa tertentu dan atau daerah tertentu, menjadi makanan pokok pengganti nasi. Hal itu saya alami ketika keluarga kami tinggal di desa Sritejikencono, kecamatan Punggur, kabupaten (dulu) Metro, Lampung pada sekitar tahun 1977. Tiwuk masih menjadi makanan pokok daerah itu. Petani yang panen padi akan menjual padinya untuk kemudian dibelikan gaplek. Dan selisih harga akan menjadi keuntungan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Nasi, mereka menyebutnya sebagai sego putih atau nasi putih. Karena tiwul relatif berwarna hitam ketika telah masak.

Sedang growol, menjadi 2/3 makanan pokok kami sekeluarga di Wojo sekitar tahun 1979. Saya katakan 2/3, karena 1/3nya kami masih menyantap nasi. Growol lebih sering tersaji saat makan pagi dan sore. Sebagai pengganti nasi, maka kamipun lengkapi dengan lauk sebagaimana kita makan.

Namun berkenaan dengan berita tentang tetangga kami yang makan growol sebagai cermin dari beratnya beban hidup, sayapun turut merakan prihatin. Prihatin tentang keadaan yang kurang menguntungkan tersebut. Juga prihatin bahwa ternyata jenis makanan pokokpun telah menjadi tolok ukur bagi pengklasifikasian harkat hidup.

Oleh karenanya saya berharap semoga masa sulit ini lekas berlalu. Dan tetangga saya di kampung itu segera menenikmati masa baik. Amin.

Jakarta, 26-30 Januari 2011.

Bersiap Untuk Sukses UN/UAS-BN


Dalam setiap pertemuan dengan orangtua siswa yang kami undang dalam sosialisasi pelaksanaan UN bagi SMP atau UAS-BN untuk SD, saya selalu menangkap beberapa orangtua siswa yang dalam kondisi Khawatir. Namun juga ada sebagian lainnya yang dalam kondisi biasa-biasa saja. Atmosfer seperti itu selalu saja berulang setiap tahunnya. Sosialisasi itu sendiri baru kami selenggarakan jika pemerintah secara definitif telah mengeluarkan serangkaian peraturan tertulisnya untuk penyelenggarakaan hajat besar di dunia pendidikan kita itu. Dan itu biasanya akan jatuh sekitar bulan Januarai atau Februari. Padahal penyelenggaraan UN SMP dan UAS-BN SD hampir selalu di akhir bulan April dan awal bulan Mei.

Apakah pemerintah bisa mengeluarkan keputusan definitif itu di awal tahun pelajaran? Tidak akan bisa. Semua baru di rencanakan setelah memasuki tahun pelajaran baru. Sebuah prestasi bila suatu saat pemerintah telah mengeluarkan keputusan didefinitf tentang ujian akhir nasional itu sebelum bulan Nopember! Tapi apa mau dikata, memang seperti itulah hidup kita di negara yang sama-sama kita cintai ini.

Dan kembali lagi kepada masalah sosialisasi ujian itu kepada pihak orangtua siswa, saya selalu menyampaikan agar para Ibu dan Bapak itu jangan panik. Mengapa harus panik? Tanya saya. Karena hari ini kita semua tahu materi pelajaran apa dan yang mana yang akan keluar dalam soal ujian akhir tersebut? Lanjut saya. Itu semua kita dapat melihatnya dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) atau kisi-kisi yang sudah termasuk dalam satu paket peraturan yang dikeluarkan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional.
Lalu saya tunjukkan SKL dan kisi-kisi dari materi ujian nasional itu, yang telah saya buat dalam format self assessment.

Dari situ, saya mengajak Bapak/Ibu orangtua siswa untuk mencoba melihat secara akal sehat. Bahwa kalau anak kita normal dan sehat pada saat ujian nasional berlangsung. Dan tentu saja belajar dengan sewajarnya. Maka dapat dipastikan bahwa mereka akan mampu memperoleh predikat lulus.

Namun bagaimana dengan perolehan nilai ujian yang pada ujungnya nanti menjadi kunci dan modal anak mereka masuk di sekolah pemerintah yang diidamkannya? Disi pula saya mengajak para orangtua itu untuk melihat passing grade dari masing-masing sekolah. Dan dari situlah mereka dapat mengambil ancang-ancang dalam persiapannya. Jika menginginkan nilai 9 pada suatu mata pelajaran, maka ikhtiarnya minimal harus 9.

Dengan melihat itu semua, maka sesungguhnya untuk sukses dalam UN atau UAS-BN, petanya sudah jelas dan terang benderang. Saya berharap, semoga Anda pun dapat mempersiapkan putra-putrinya dengan sebaik mungkin tanpa perlu kepanikan.

Tapi saya juga mengingatkan semua bahwa, hasil UN atau UAS-BN hanya merupakan salah satu hasil belajar anak kita. Dan bukan hasil belajar satu-satunya. Dan akhlak, yang mulia (akhlakul karimah) adalah hasil belajar yang paripurna. Semoga sukses! Amin.

Jakarta, 26 Januari 2011.

25 January 2011

Naik Trans Jakarta



Pagi ini saya berangkat ke kantor dengan naik Bus Trans Jakarta. Ini bukan berarti bahwa saya tidak pernah naik bus selama ini. Tetap naik bus juga. Terutama bila saya harus pergi ke jarak yang dekat dengan rumah. Tetapi ke kantor dengan naik busnya orang Jakarta ini, ini pengalaman pertama saya. Ini juga karena koridor IX, mulai beroprasi pada tanggal 31 Desember 2010 yang lalu. Selain bertambah macet di jalur yang dilalauinya, naik bus ini justru kebalikannya. Bebas macet alias lancar jaya.


Saya berangkat dari Slipi pukul 06.20. Setelah membeli karcis seharga Rp.2,000, saya bertanya kepada penjaga, ke jurusan mana jika saya akan menuju ke Pulomas di Jakarta Timur? Penjaga memandu saya untuk naik jurusan Pluit, turun di Grogol untuk kemudian pindah naik ke jurusan Pulo Gadung. Ini sebuah petunjuk yang sebenarnya tidak saya harapkan. Karena saya berpikir untuk menuju Cawang dan kemudian pindah ke jurusan Tanjung Priok. Namun apa yang kemukakan oleh penjaga itu, langsung saya turuti karena saya yakin dialah yang paling tahu tentang apa yang saya tanyakan itu.


Mungkin hanya perlu sekitar 1 menit saya menunggu bus itu datang. Saya mendapat tempat duduk paling pojok belakang di bus gandeng itu. asyik sekali. Bus baru dengan laju yang nyaris tidak terganggu. Dari tempat duduk menuju Grogol itu, saya menyaksikan pemandangan yang kontras. Di luar jalur bus Trans Jakarta yang hampir selalu steril oleh kendaraan selain bus Trans Jakarta di jam berangkat dan pulang kantor, mobil umum dan pribadi berderet-deret diantara kendaraan roda dua yang tampak menyemut menyesaki jalan yang hanya tersedia dua jalur. Inilah nikmatnya naik bus Trans Jakarta. Pikir saya. Karena kami dapat melaju sedang mereka tersendat dan di beberapa bagian nyaris berhenti. Atau kalau dalam bahasa lalu lintasnya; padat merayap.


Dan pas pukul 07.18, saya sudah menempelkan telunjuk saya di mesin absen kantor. Dengan ongkos tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah.

Dari sekelumit pengalaman itu, maka saya berpendapat bahwa Trans Jakarta sekarang ini sudah menjadi solusi. Ya karena memang selama ini tidak usaha pemerintah yang paling nyata bagi transportasi massal selain moda kereta api dan bus way. Monorel yang telah dibangun tiang pancangnya di masa Gubernur Sutiyoso seperti mangkrak tidak ada ujungnya.

Namun kesempurnaan dari Trans Jakarta masih harus menjadi perhatian jika pemerintah tidak mau keghilangan moment. Yaitu tentang keadaan bangunan halte dan jembatan penyeberangan orang yang tampak di bawah standar kualitas.
Hal ini seperti tampak di Grogol. Dimana plat besi yang menjadi lantai sudah dalam kondisi bergelombang. Bahkan di bibir haltenya ada lantainya yang somplak. selain juga kurangnya kebersihan. Debu dan kertas yang jelas kentara di setiap halte. Kondisi busnya juga kurang maksimal. Terutama koridor yang telah lebih dahulu beroperasi. Selain juga kebersihan kaca dan lantai bus yang relatif belum terjaga sempurna. Bahkan untuk koridor Pulo Gadung - Kali Deres, beberapa bangku penumpangnya hanya diikat dengan tali rafia hitam.


Jakarta, 25 Januari 2011.

Jalanan Macet, dan Sekelimut Pengalaman Saya

Memasuki tahun 2011 ini, jalanan di Jakarta terasa semakin macet. Dan kemacetan yang paling saya rasakan sekarang ini adalah sepanjang perjalanan saya memasuki jalan arteri Gatot Subroto, dari pintu tol keluar Slipi (Depan Gedung DPR/MPR) menuju ke persimpangan lampu lalulintas Slipi dan juga pintu keluar tol Slipi Jaya (Depan RS Harapan Kita) hingga persimpangan lampu lalu lintas Slipi. Paling tidak karena ruas jalan inilah yang paling bisa saya lalui ketika pulang dari kantor di bilangan Pulomas, Jakarta Timur.

Ada memang jalur yang bisa saya lalui untuk perjalanan Pulomas-Slipi saat pulang kantor. Yaitu jalur arteri Casablanca-Arteri Pejompongan-Slipi dan jalur Patung Tani- Merdeka Selatan- Kebon Sirih- Tanah Abang- Slipi Jaya-Slipi. Tapi sejak hampir dua tahun yang lalu saya sama sekali tidak berani lagi melewatinya. Terlebih sejak ada proyek pembangunan Jalan Arteri Bukan Tol di sepanjang Jalur yang melalui Casablanca atau juga sejak perubahan jalur di seputar Tananh Abang. Jalur-jalur itu semakin ruwet dan mengkhawatirkan.

Pilihan terbaik saya untuk selalu melewati jalur tol baik Cawang menuju Slipi atau Ancol menuju Slipi, masuk di tahun 2011 ini sudah bukan menjadi pilihan terbaik. Dua jalur itu sekarang menjadi pilihan yang terpaksa saya pilih. Ini karena kemacetan yang luar biasa di jalur arteri Slipi Jaya menuju Slipi atau jalur Taman Ria menuju Slipi mampat dan selalu nyaris tidak bergerak.

Oleh karenanya, sejak tiga pekan di tahun ini, ada beberapa tambahan kegiatan saya agar tidak terlalu terjebak masuk dalam kemacetan yang menguras tenaga, emosi, pikiran, dan usia kita. Tiga hari dari lima hari yang ada dalam satu pekan itu akan saya gunakan untuk bersilaturahim. Saya akan 'merapat' di sekolah anak saya dulu, yang berlokasi di Tebet. Saya akan sampai di lokasi itu sekitar pukul16.30 dan akan berada di sana hingga pukul 20.00. Atau saya akan menghadiri rapat di Cipete, yang alhamdulillah dilaksanakan diantara hari Rabu-Jumat pada pukul 18.30 hingga 21.00. Atau saya akan tetap tinggal di sekolah saya dan baru meninggalkannya setelah pukul 20.00. Itulah kegiatan yang akhirnya tercipta dalam situasi jalan yang macetnya luar biasa.

Sekedar gambaran untuk anda semua, bahwa jarak Slipi-Pulomas, yaitu jarak dari rumah ke kantor saya lebih kurang 20 km jika saya masuk tol Slipi-Cawang-Rawa Mangun. Yang pada awal saya bekerja, yaitu tahun 2004, hampir selalu saya tempuh dalam waktu 30 menit saja dengan berkendara berkecepatan 80 km/jam. Namun waktu tempuh itu menjadi semakin tidak manusiawi lagi saat-saat ini. Karena dalam keadaan normal, saya sekarang perlu waktu 45 menit di dalam jalan tol. Dan pada sore hari saya masih butuh 30 menit lagi sebagai tambahan untuk jalur keluar pintu tol Slipi menuju rumah saya yang berada persis di belakang Hotel Ibis Slipi.
Itulah sekelumit pengalaman saya.
Jakarta, 25 Januari 2011.

03 January 2011

Wader Goreng


  • Kalau stok bahan mentahnya bisa didapat dengan lancar, maka membuka usaha ini di kota menjanjikan Untung. Begitu kata saya kepada teman saat kami menunggu nasi wader goreng yang kami pesan siap di sajikan, di suatu siang di sebuah warung Pak Bejo di daerah Piyungan Yogyakarta Pada Sabtu tanggal 1 Januari 2011 yang lalu.
Ide makan nasi wader datang dari kawan yang menemani kami berkunjung ke Balerante satu hari sebelumnya. Dia menawarkan akan makan dengan 'aroma' khas atau yang standar? Saat itu jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.00, sementara perjalanan kami menuju Yogyakarta masih butuh lebih kurang 45 menit dalam kondisi yang sedikit tersendat. Maka kami segera menuju jalan Piyungan dari arah Klaten. Dan persis lampu lalu lintas perempatan jalan sebelum Jalan Ring Road Selatan, kami mengambil jalan ke kiri. Disitulah kami menemukan warung sederhana dari bambu.

Dengan rasa sambel yang gurih dan pedasnya berani, nasi dengan lauk wader goreng segera lenyap kami santap. Dalam detik-detik terakhir santapan itulah, saya masih menyisakan beberapa ekor wader goreng saya sebagai suapan terakhirnya. Yahudnya setara dengan makan nasi intip!

  • Saat masih kanak-kanak, ketika wader yang menyambar umpan dari pancing kita, sesungguhnya tidak terlalu membuat kita bergembira. Kata saya ketika kami sudah berkendara untuk melanjutkan perjalanan.
  • Mengapa? Tanya kawan saya dalam rombongan yang memang hidup sejak lahir dan besar di kota besar seperti Jakarta.
  • Karena, lanjut saya, kami lebih mengharapkan umpan pancing kami disambar ikat gabus atau ikan tawes. Jelas saya.
Dari situ, kita dapat menarik kesimpulan bahwa saat kami kecil memperolah ikan wader ketika memancing sesungguhnya tidak terlalu membuat kami bergembira. Ini terlepas dari rasa gurih dan enaknya dari ikan wader ini dibandingkan dari dua jenis ikan yang menjadi harapan kami ketika kami memancing di sungai. Namun itulah kenyataannya. Berbeda saat ini, ikan wader, untuk saya pribadi, menjadi sebuah makanan kerinduan kami kepada masa-masa dulu ketika kami masih kanak-kanak dan hidup dalam keprihatinan.

Dan itulah yang saya rasakan sepanjang menyantap nasi dengan lauk goreng ikan wader. Teringat nostalgia yang boleh jadi tidak akan diperoleh oleh kawan kami yang bersama-sama menyantapnya di warung Pak Bejo siang itu.


Jakarta, 3-5 Januari 2011.

Sego Intip


Saya terperanjat gembira sesampainya di rumah Mamak di Wojo pada Sabtu malam tanggal 1 Januari 2011 lalu. Ini karena ketika akan makan masih tersisa sego intip atau nasi intip yang mengerak di dasar periuk nasi. Maka tanpa menyia-nyiakan waktu segera saya mengambilnya lalu menuanginya sayur dan kuah kacang panjang dan bunga pisang ke dalamnya. Yahud rasanya.

Saya bersyukur sekali bahwa ini terjadi serba pas. Pas saya sampai rumah setelah menempuh perjalanan dari Yogyakarta, dimana saya memisahkan diri dari rombongan yang melanjutkan perjalanan kembali ke Delanggu karena saya bermaksud bersilaturahim dengan Mamak saya di kampung. Pas juga saya lapar. Dan yang paling membuat saya bungah adalah pas ada makanan langka! Jenis makanan yang tidak akan ada sepanjang kita memasak nasinya menggunakan peralatan moderen seperti penanak nasi yang bertenaga listrik.

Sego Intip adalah Nasi Prihatin

Jenis makanan seperti itu bagi saya berada pada tataran istimewa. Mengapa? Karena langkanya itu. Sehingga saya sulit menjumpainya. Sering dalam sebuah perjalanan nasi intip itu telah dijajakan sebagai intip goreng. Dan saya tidak pernah tertarik untuk merasakannya. Bagi saya cita rasa tertinggi dari jenis makanan ini adalah rasanya yang sangat khas. Juga beraroma nostalgi.

Ini karena sudah nyaris 26 tahun setelah saya merantau tidak pernah lagi berjumpa dengan makanan ini. Situasi seperti ini membuat kerinduan saya meledak begitu di rumah orangtua menemukan makan istimewa di masa saya masih sekolah dan tinggal di kampung halaman.

Jenis makanan yqng selalu membuat kami, saya dan adik-adik, sumringah ketika menghadapi periuk nasi yang penuh intip atau kerak di dasar dan bagian bawah sisi periuk itu, yang semula keras kini menjadi lembek oleh kuah sayur bobor singkong muda buatan Mamak saya yang gurih. yang dengan kuah itu, maka intip yang tadinya keras dan erat menempel di periun menjadi lembek, lunak dan mudah kita sendok dan kita bagi ke dalam piring kita masing-masing. Bila perlu, dalam jatah kita yang ada di dalam piring, kita tambahkan lagi sayuran yang kita mau. Itulah puncak kenikmatan sebuah sajian makanan yang agak sulĂ­t, saya kira, bagi Anda untuk membayangkannya.

Ini karena Anda bukan orang yang pernah menjadi penghuni masa keprihatinan. Itulah maka saya menyebutnya nasi atau sego dalam bahasa JawanyĂ¡ ini, sebagai nasi prihatin. Setidaknya untuk saya.

Wojo, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.

Kali Gendol


Setelah mendengar berita tentang erupsi Gunung Merapi sejak akhir Oktober 2010 lalu, nama kali ini juga turut menempel dalam ingatan saya. Tidak saja Kali Gendol yang saya ingat hingga sekarang ini. Tetapi juga masih ada Kali Krasak dan Kali Boyong.

Sayapun sempat mencoba untuk melihat secara detil keberadaan kali-kali itu dan juga wilayah-wilayah lainnya yang menjadi bagian tidak terpisahkan darĂ­
bencana alam itu di peta yang saya punya.

Jumat, 31 Desember 2010 pukul 19:00, kami, utusan dari Sekolah Islam Tugasku Pulomas Jakarta Timur berkesempatan untuk melintasi dasar kali atau Sungai Gendol.

Perjalanan kami di lokasi ini tidak lain adalah membawa amanah sumbangan untuk warga yang tinggal di desa Balerante, Klaten, yang posisinya berada di seberang kali pada saat kami saat itu.

Untuk menuju ke SDN Balerante, kami berangkat dari sebuah warung makan tradisional yang merangkap juga sebagai posko bencana yang dikelola oleh warga setempat yang kebetulan selamat dari bahaya erupsi. Lokasi warung tersebut persis di sebelah kiri pintu gerbang masuk tempat wisata Deles
Indah. Hanya ada satu jalan menuju Balerante dari lokasi ini. Yaitu menyeberangi Kali Gendol. Hal ini akan dikofirmasi terlebih dahulu kepada Mas Jadmiko, sekalu koordinator masyarakat yang akan kita tuju. Apakah menyeberang sungai aman, meski sejak siang tidak ada hujuan di wilayah puncak Merapi. Dari konfirmasi itu disepakati bahwa Pak Jatmiko akan menjemput dan memandu kami dengan berkendaraan mobil. Kami tenteram dengan kesepakatan ini. Karena terus terang kami kawatir jika kami harus berkendara dalam menyeberang sungai.

Namun untuk menghemat waktu, karena Mas Jadmiko belum juga kunjung datang, maka perjalanan dari posko menuju Balerante di pandu oleh Pak Nur, yang juga guru SMA, dengan mengendarai sepeda motor. Lebih kurang 500 meter dari pintu gerbang Deles Indah, Pak Nur berbelok ke kiri menuju jalan kerikil yang tidak beraspel. Dan inilah awal perjalanan petualangan kami. Tidak kebayang bagi kami mampu berkendara dari tebing sungai yang berada disisi timur menuju kesisi barat sungai yang terjal dan berbatu sebelum akhirnya benar-benar 'nyebur' di dasar sungai. Saingan kami adalah para penambang pasir yang sekaligus memberi inspirasi keberanian kami.


Bagi saya yang kala itu mendapat amanah sebagai pengendara, kenyataan bahwa truk pasir hinggap hingga dasar sungai cukup memberi petunjuk bahwa kami pun akan mampu menyeberang. Ini nalar saya yang membuat kami berani mengikuti sang penunjuk jalan yang sudah berada di depan kami.

Dan itulah oleh-oleh kami dari lereng Gunung Merapi. Selain perlu juga kami sampaikan bahwa, recovery Merapi tetap akan berlangsung meski erupsi telah berlalu.

Delanggu, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.

26 December 2010

Menjadi Trainer

Guru saya pulang dari kegiatan pelatihan. Seperti yang lain-lain sebelumnya, untuk tujuan pemberdayaan sekolah sebagai komunitas belajar, maka setiap kita yang selesai mengikuti kegiatan pelatihan, seminar, diskusi, atau kunjungan pendidikan, ada sesi untuk kita memberikan apa yang kita dapat kepada kolega kita di sekolah. Itu pulalah yang terjadi dengan guru saya ini. Ia meminta waktu khusus setelah sesi untuk teman tuntas ia lakdankan.

  • Hebat ya traĂ­ner saya. Saya ngak kebayang betapa bagusnya sekolah dimana ia menjadi Kepala Sekolahnya. Ungkap guru saya mengawali diskusi kami. Yang selain saya dan dĂ­a, masih ada Kepala Sekolah TK dan Kepala SMP.
  • Siapa trainernya Pak? Tanya saya menyelidik.
  • Pak Hermanu. Kata guru saya penuh semangat. Saya senang juga jika mengirim guru untuk mengikuti pelatihan di luar sekolah, dan guru itu terinspirasi akan apa yang dĂ­ikutinya. Pengiriman guru untuk ikut pelatihan di luar sekolah atau kita mengundang nara sumber untuk malakukan in house traning memang bertujuan untuk terus menerus meningkatkan kompetensi Guru. Karena hanya dengan guru yang berkualitas baguslah maka sekolah kami yang swasta ini eksistensinya akan terus terjaga.
  • Pak Hermanu. Kata saya. Terus terang nama itu saya tidak asing lagi. Ia adalah salah satu Kepala Sekolah dimana kebetulan saya menjadi bagian dari Yayasannya. Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu sebagai Kepala Sekolahnya. Jadi kalau mau dilihat secara herarki, Pak Hermanu adalah masuk dalam jajaran bawahan saya. (Mohon maaf, ini hanya untuk memberikan ilustrasi kepada pembaca agar dapat memahami tulisan saya ini dengan baik. Bukan untuk menunjukkan secara detil dan vulgar tentang diri saya).
  • Apa yang disampaikan Pak Hermanu dalam pelatihan itu Pak? Tanya saya lagi. Guru saya dengan baik menceritakan beberapa hal yang inspiratif selama pelatihan yang dĂ­iiutinya.
  • Senang ya Pak kalau Kepala Sekolahnya seperti Pak Hermanu. Setiap hari selalu inspiratif. Lanjut Guru saya. Saya ikut sumringah dengan apa yang disampaikan guru saya itu. Syukurlah bahwa ia terinspirasi untuk berbuat lebih baik dan lebih profesional.

Terlepas darĂ­ itu, saya sangat mensyukuri bahwa keberadaan Pak Hermanu, sebagai Kepala Sekolah dimana saya membantu teman yang lain di Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu berada, mampu memberikan inspirasi kepada teman-teman guru sekolah lain dengan menjadi trainer. Saya berharap bahwa aura positif itu pula yang tumbuh dan berkembang dimana Pak Hermanu sebagai leader di sekolahnya.

Namun dalam sebuah kesempatan di kemudian hari, saya bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman guru yang menjadi bawahan Pak Hermanu di sekolah dalam pertemuan, dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Dalam pertemuan-pertemuan itu, saya mendapat fakta atentang Pak Hermanu yang justru kebalikannya. Kenyataan itu memberikan keyakinan kepada saya akan informasi selama ini melalui email atau pertemuan informal dengan beberapa diantara teman-teman itu. Yaitu yang berkenaan secara operasional keberadaan Pak Hermanu, yang tidak cukup memberikan kesan positif dalam pengembangan profesionalisme guru-guru yang menjadi kewajibannya. Meski itu sangat dirindukan teman-teman. Bahkan ada komentar salah satu darĂ­ teman itu: "Pak Agus, saya tidak bangga sama sekali dengan sekolah ini, meski punya Kepala Sekolah yang menjadi trainer standar nasional".

Dari statmen itu, saya mencoba untuk merefleksi diri. Jangan sampai saya dihinggapi sakit memberikan sesuatu yang bukan atau belum terjadi di sekolah sendiri dalam setiap posisi menjadi trainer. Atau apalah namanya. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 26 Desember 2010.

19 December 2010

"Anda Harus Tahu, Saya ini Pejabat!"

Ini kisah perilaku kampungan yang lain lagi dari saya. Bukan saya sendiri pelakunya, karena saya cukup tahu diri dari mana asal usul saya, namun teman-teman saya yang pernah menjadi korbannya. Seperti judulnya, maka kisah ini akan mempertunjukkan kepada kita, InsyaAllah, betapa masih ada orang-orang pintar atau orang-orang yang benar-benar menjadi orang penting atau menjadi pejabat, yang ada di sekitar kita, yang harus menyebutkan posisi kerjanya atau jabatannya yang mungkin menurutnya paling mulia di dunia ini. Pasti untuk tujuan pengakuan dari lawan bincangnya.

Seperti kita pahami bersama bahwa sebagai perilaku, ia bisa sekali hinggap pada diri siapa saja. Termasuk saya dan Anda. Tapi sekali lagi, karena asal usul saya yang memang 'kismin 'dan ndeso dari sananya, justru itu membuat saya ngak pede. Apakah orang kota, orang desa, orang kampung, atau bahkan orang norak sekalipun bisa terjangkit sakit ini. Penyakit yang tidak pandang bulu asal muasalnya. Sebagai perilaku yang bisa menjadi milik siapa saja, ia punya prinsip dasar saat menghinggapi seseorang. Yaitu manakala orang tersebut merasa dirinya yang paling pintar diantara orang disekitarnya. Yang merasa paling berkuasa, yang paling penting, yqng paling apa saja. Biasanya perilaku ini akan menjadi karakter sombong atau angkuh. Munculnya seperti yang saya katakan semula, terlalu percaya diri untuk menghargai dirinya lebih dari pada orang lain.

Akibatnya turunannya atau implikasi selanjutnya yaitu penyakit bebal sosial atau bodoh horisontal. Artinya ia tidak tahu dan tidak sadar kalau dĂ­a sedang sakit bebal. Padahal orang di sekitatnya melihat dĂ­a tidak lebih baik atau sama dengan, dengan apa yang ada dalam benaknya.

Kisah ini tentu saya tulis karena beberapa orang yang saya kenal mengalami trauma akibat penyakit kampungan ini. Mungkin juga pernah Anda derita. Seperti kawan saya ini. Ia mendapat telpon dari orang yang kecewa karena terlalu cepat memberikan penilaian. Maka nada bicaranya yang tinggi hati dan mendikte, keluarlah umpatan kampungannya: "Ibu harus tahu ya, saya itu siapa. Saya Pejabat! Saya anggota ..." .

Tentu Anda dapat membayangkan bagaimana bahasa tubuh orang tersebut saat kata-katanya meluncur. Lebih-lebih saat ia mengatakan "Saya Pejabat. Saya anggota...". Pasti mimik mukanya sinis dan siap menelan Anda. Dan jika Anda atau saya kebetulan di depannya, hanya akan dilihatnya tidak lebih daripada kutu busuk yang sudah siap dilumat benda keras.

Repotnya, orang kampungan model seperti ini tidak bergentayangan di terminal bis kota atau stasiun kereta api. Namun justru menjadi bagian dan penghuni kantor-kantor keren. Yang kalau untuk menjadi korp disitu harus melalui pesta demokrasi yang maknanya tidak beda dengan pesta bagi rezeki.

Dan meski posisinya 'terhormat', karena begitulah orang menyapa ketika dalam rapat resminya, tetap saja mental kampungan itu membuat orang memposisikannya rendah. Tentu tetap ada saja yang menyanjung-nuanjungnya sebagai orang terhormat, yaitu orang-orang bermental penjilat yang mengharapkan materi darinya.

Untuk itulah, maka saya sampaikan kepada kawan itu agar menghadapi orang-orang kampungan itu dengan mendoakannya agar diberikan keinsyafan. Karena seperti sejarah telah membelajarkan kepada kita bahwa kehormatan hanya dapat dimiliki oleh mereka yang memiliki sifat, perilaku atau karakter yang bertanggung jawab, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, kerja sama, sopan, peduli, hormat dan sabar. Bukan mereka yang berperilaku kampungan sebagaimana yang saya sampaikan di atas.

Mudah-mudahan Anda percaya dengan kesimpulan saya ini. Dan saya tidak berharap Anda sendiri punya rasa bangga diri yang berlebihan tanpa bisa mengontrolnya, sehingga lupa kalau sikap itu adalah titik tolak menjadi kampungan.

Jakarta, 18-19 Desember 2010

17 December 2010

Di Sebuah Pasar, Saya Menemukan 'Cermin'

Pagi Ahad tanggal 12 Desember 2010 sekitar pukul 05,30 saya bersama tiga teman telah meninggalkan rumah yang kami tumpangi untuk bermalam. Sebuah daerah yang sesungguhnya hanya berjarak 55 kilometer dari tempat dimana saya dibesarkan di kampung Wojo. Dengan berjalan kaki, untuk sekedar jalan-jalan sekaligus pengenalan lingkungan. Tempat yang kami tuju dalam perjalanan mencari angin pagi ini, kami sepakati adalah Pasar Sentolo. Yang letaknya tidak begitu jauh dengan rel kereta api ganda jurusan Yogyakarta- Wates, yang jarak antara rumah yang kami tumpangi ke pasar itu tidak lebih dari dua kilometer saja.

Sampai di pasar, saya segera menghirup aroma kerinduan. Kerinduan akan sebuah masa di empat puluh tahun yang lalu, di masa kecil saya, yang tinggal di Wojo. Rindu dengan pasarnya. Yang dulu semarak dengan pedagang dan pembeli, yang memenuhi pelataran pasar hingga saya merasa kesulitan untuk masuk melalui gapura yang gagah bertuliskan Pasar Wojo, yang sekarang bangunan pasar itu telah roboh dan berganti dengan bangunan puskesmas pembantu. Yang alhamdulillah di ramai pasien darĂ­ daerah sekitar. Rindu dengan stasiun kereta apinya yang peronnya dipenuhi oleh buah kelapa, sapu lidi daun pisang,yang terlipat apik, gula jawa dan segala pernak pernik dagangan dari kampung untuk diperjualbelikan di Pasar Kranggan Yogyakarta. Dan pastinya para pedagang yang empunya dagangan untuk menunggu kereta kluthuk, atau kereta berbahan bakar kayu. Rasa kangen akan kesibukan sebuah stasiun kereta api yang sekarang tidak sibuk lagi dengan penumpang yang berangkat dan datang. Stasiun yang sekarang tambah tampak muda tetapi justru sepi pemakai. Aroma kerinduan itu mengiringi saya selama perjalanan mengitari los-los pasar di Pasar Sentolo itu. Ada juga rasa iri. Mangapa pasar ini masih begitu ramaii dengan aktivitas jual beli dan pasar di kampung saya tidak?

Disana saya jumpai penjaja palawija, buah dan daun pisang, tikar dari mendong, gethuk, klembak menyan dan tembakau, dan tidak ketinggalan growol yang terbuat dari singkong serta tempe benguk. Saya mengajak teman untuk membeli sedikit jajanan itu. Untuk kemudian kami santap dengan teman teh manis di sebuah warung gorengan yang ada di seberang pasar. Kawan yang sejak kecilnya tinggal di kota banyak bertanya tentang makanan yang kami makan.

Mereka begitu heran manakala saya bercerita kalau salah satu makanan yang kami sedang santap itu adalah jenis makanan yang dulu menjadi salah satu makanan pokok di keluarga saya. Seperti growol misalnya. Dan makanan growol itu, kembali mengingatkan saya pada masa kecil saya yang prihatin.

Mereka bertanya kepada saya mengenai asal dan proses pembuatan darĂ­ makanan-makanan itu. Sebagian saya bisa jelaskan secara baik karena saya tahu persis bagaimana Mamak saya memasaknya. Namun sebagian yang lain lagi saya telah lupa bagaimana makanan itu diproses sebelumnya.

Sebelum meninggalkan pasar itu, sekali lagi saya ajak teman-teman untuk masuk pasar pada bagian dalam dari sisi yang lain. Dan saya menemukan penjual alat pertanian seperti cangkul, arit, pisau, golok, sekop serta alat yang lainnya. Dan karena saya ingat betapa susahnya saya memotobg tulang kaki hewan kurban pada Idul Adha lalu, maka saya tertarik untuk membeli pethel.

Itulah catatan saya tentang perjalanan ke Pasar Sentolo. Sebuah catatan untuk Bapak dan Mamakku yang telah membelajarkan diriku bagaimana hidup dalam kondisi yang prihatin. Perjalanan di pasar itu, seperti saya sedang napak tilas. Seperti sedang bercermin...

Sentolo, 12 Desember 2010 - Jakarta, 17 Desember 2010.

16 December 2010

Guru Kelas 1 SD

Bagaimana membelajarkan siswa menulis dan membaca di kelas satu sekolah dasar? Setidaknya inilah pengalaman saya di saat awal-awal saya menjadi guru SD kelas satu, tahun 1986 hingga tahun 1992 di Sekolah Islam Al Ikhlas, Cipete, Jakarta Selatan. Meski mungkin ini pengalaman yang kurang mengena buat Anda. Tetapi inilah fondasi bagi karir saya sebagai pendidik hingga hari ini, yang harus saya ikat dalam tulisan.

Tahun 1986, diusia saya yang masih belia untuk memegang amanah sebagai pendidik di sekolah formal. Tetapi itulah realita yang harus saya jalani. Lulus dari sekolah pendidikan guru (SPG) yang setingkat SMA tahun 1984, dan pada Juli '86 benar-benar memegang amanah penuh sebagai guru kelas. Yang berarti diusia saya yang ke 22 tahun.

Dengan 40 siswa yang ada di dalam kelas. Dengan pengantar para Suster dan Ibu-Ibu yang saya kira berusia tidak jauh terpaut dengan saya. Dengan kebiasaan mereka menunggu di depan kelas atau bahkan dengan wajah yang melongok ke dalam kelas melalui jendela kelas sepanjang waktu putra atau putri mereka ada dalam jam belajar bersama saya. Kenyataan seperti ini sungguh membuat saya menjadi sangat tidak nyaman untuk mengajar. Maka lengkaplah beban tugas saya itu memberati batin dan pikiran saya. Tertekan.

Beruntung bahwa, saya menyimak sekali apa yang menjadi pesan guru mata pelajaran Pedagogi dan juga guru Metodologi Belajar dikala SPG agar kita menguasai lagu-lagu anak dan juga beberapa cerita anak. Terutama bila kita bertugas mengajar atau menjadi guru di kelas rendah di SD. Dengan modal itulah saya mengawali jam, hari, minggu, dan bulan pertama saya dengan menyanyi dan bercerita. Dan saya relatif mendapat 'simpatĂ­' siswa. Namun apakah selesai dengan simpati yang telah saya peroleh? Belum. Karena satu tahun pelajaran ada selama tiga catur wulan. Maka inilah lebih kurang catatan saya sepanjang perjalanan itu. Paling tidak sedikit kilas balik tentang apa yang pernah saya alami dulu. Yang tentu saja berbeda sama sekali dengan kondisi kelas rendah di SD saat ini. Berbeda.

Catatan masa lalu yang bagaimanapun serta apapun juga, adalah fondasi bagi pertumbuhan diri saya selanjutnya dalam menapaki amanah sebagai guru. Masa yang selalu menjadi bagian yang akan melekat dan tidak terpisahkan dalam hidup saya. Yang selalu menjadi unsur dalam pertumbuhan profesionalisme dan etos kerja saya.

Belajar Menulis

Salah satu tugas berat saya sebagai guru kelas satu SD adalah belajar menulis. Bahkan Pada hal yang paling awal sekalipun dalam belajar. Kendala dalam belajar menulis itu tidak pernah menjadikan saya tertekan. Seperti yang saya sampaikan di atas, rasa tertekan justru datang karena pada hari-hari pertama mengajar dengan beberapa siswa yang ditungguin Ibu dan baby sitter-nya. Bahkan dua tiga atau bahkan empat orangtua siswa duduk bersama anaknya di dalam kelas ikut proses belajar. Itulah situasi menekan yang tidak bisa tidak harus saya hadapi dengan lapang dada dan tabah.

Mungkin siswa tidak mau ditinggal dan selalu minta ditungguin karena merasa tidak nyaman dan meresa takut. Dan boleh jadi perasaan itu muncul antara lain karena sayanya. Mungkin juga karena situasinya. Sehingga rasa percaya diri itu menjadi miliknya. Syukurnya situasi demikian berlangsung hanya pada bulan peertama di catur wulan awal saja. Selanjutnya saya dapat dengan lega menghadapi siswa tanpa ada orangtua dan baby sitter.

Tetapi mungkin darĂ­ sinilah beberapa orangtua yang ikut duduk di samping anaknya yang belum berani ditinggal itu melihat dan menghitung bagaimana repotnya saya yang harus membukakan buku tulis anak-anak dan halamannya sebelum belajar menulis dimulai. Dan ini harus saya lakukan untuk ke-40 siswa yang ada di kelas. Jadi kalau saya membantu menyiapkan buku tulis siswa mulai dari deretan tempat duduk paling kanan dari baris depan sampai baris belakang terus hingga deret bangku paling kiri. Maka belajar menulis mungkin baru siap 15-20 menit sesudah saya meminta mereka membuka buku. Ini mungkin salah satu yang beda antara kelas satu SD waktu itu dengan sekarang.

Belajar Membaca

Lalu bagaimana dengan kegiatan belajar membaca? Ini juga menjadi tugas berat saya yang lain lagi. Inipun saya lakukan di kelas dengan romantika yang berliku. Karena pada akhir empat bulan pertama masih ada lebih kurang sepuluhan siswa yang masih terbata-bata mengeja huruf saat membaca.

Maka dari sekian puluh siswa saya itu saya berikan tambahan waktu belajar. Pada saat itulah saya dapat benar-benar menikmati bagaimana seorang anak menggunakan sarana berpikirnya dalam 'belajar' membaca. DarĂ­ sinilah saya menemukan metode konsisten. Yaitu strategi atau cara untuk membantu siswa agar bisa membaca. Sebuah strategĂ­ yang terus menerus kita gunakan. Dengan belajar membaca seperti ini sangat dimungkinkan siswa yang bisa membaca belum tentu akan menjadi suka membaca karena mereka belum tentu tahu apa arti kata-kata yang dilafalkannya. Sebaliknya siswa yang gemar membaca pasti adalah yang bisa membaca.

Saya menggenalkan cara suku kata untuk membelajarkan mereka bisa membaca. Siswa saya sodori suku kata na ni un ne no. Sebelumnya huruf vokal a i u e o. Dari modal ini saya mengajak siswa untuk membuat kata. Ana ani ina nana nina nani dan seterusnya. Persis seperti belajar Iqra dalam membaca Al Qur'an. Konsistensi ini membuahkam hasil. Maka pada akhir tahun pelajaran saya mendapati siswa saya telah bisa membaca.

Bisa vs Suka Membaca

Tahap berikut setelah siswa bisa membaca adalah bagaimana supaya mereka suka membaca. Karena ketika melafalkan teks bahasa tidak dipahami maknanya, maka kegoiatan membaca hanya sebatas menyelesaikan tugas. Dia menguap begitu saja tanpa bekas. Namun kenyataan ini tidak menjadi kesadaran saya seketika dikala itu. Kenyataan ini saya sadari setelah siswa tetap kesulitan memberikan makna terhadap teks yang dibacanya sehingga mereka tetap kesulitan menjawab pertanyaan saat ulangan berlangsung di akhir catur wulan.

Apa usaha saya? Sesering mungkin saya meminta siswa untuk membaca bacaan untuk kemudian saya mengajak mereka memberi makna. Saya memberikan pertanyaan; Siapa yang menjadi tokoh dalam cerita itu? Siapa tokoh baiknya? Siapa tokoh yang tidak baik? Apa yang membuat kita suka pada tokoh baik? dan seterusnya.

Tidak jarang saya memberikan pekerjaan rumah bebas seputar membaca dan menulis ini. Misalnya; Dikte bebas dengan ayah atau ibu 10 baris dengan menulis huruf sambung. Atau; Membaca cerita bebas. Saya melihat dengan cara ini siswa menikmati. Karena empat atau tujuh dari cerita mereka akan sauya bacakan setelah saya mengoreksi dan memberikan ponten.

Inilah kisah saya di kelas satu...

Jakarta, 7-18 Desember 2010.

04 December 2010

'Dasboard'


Istilah dashboard yang kemudian berkorelasi dengan sekolah ini mencengangkan saya dan juga beberapa teman, yang menjadi peserta dalam Leadership Forum ANPS-BI, Pada Jumat tanggal 26 Nopember 2010 di Bali. Menjadi mencengangkan karena presenter mempersonifikasi fungsi leader di sekolah sebagai pengendara kendaraan, dan fungsi dasboard di dalam kendaraan bermotor. Di dalam kendaraan, indikator yang terdapat dalam dasboard memberikan informasi tentang perform kendaraan bagi pengendara. Dan dengan informasi tersebut pengendara akan menjadi yakin dengan kondisi kendaraannya untuk sebuah perjalanan yang akan dijalaninya.

Bagaimana di sekolah? Disinilah letak irisan antaranya. Pada sisi ini presenter mengajukan pertanyaan kepada kami; Indikator apa yang Anda inginkan tentang sekolah yang Anda pimpin, yang harus muncul di dasboard Anda? Lalu kepada kami diberikan waktu untuk berdiskusi apa saja indikator yang menurut kami penting untuk ada. Dan ternyata tidak semua kami dapat menyepakati. Masing-masing kita memiliki karakteristik dan level sekolah yang berbeda. Yang membuat ekspektasi jenis indikator yang tidak sama satu sama lainnya.
Saya sebagai wakil dari sekolah nasional, teman sebelah kiri saya yang adalah wakil dari Sekolah RSBI, sebelah kanan saya dari sekolah nasional plus atau lebih tepatnya dari sekolah internasional minus, depan saya dari sekolah IB, memiliki persfektif berbeda saat mendifinisikan indikator apa yang harus ada di dalam dasboard sekolahnya masing-masing. Teman-teman ada yang menyebutkan bahwa indikator yang selalu harus nongol dalam 'dasboard'nya adalah student assessment, yang lain menyebutkan tentang learning strategies, yang lain lagi menyebut tentang kahadiran guru dan karyawannya.
Dari sini, dari jenis jawaban yang kami buat tersebut, saya menjadi tergelitik dan berpikir bahwa indikator yang kepala sekolah sebut tersebut menunjukkan gradasi kualitas sekolah. Apakah sekolah tersebut masih berkutat dengan urusan kehadiran guru, atau sudah masuk tentang kualitas interaksi guru-siswa, atau juga apakah sudah masuk dalam bagaimana mereka memberikan pelayanan lebih optimal kepada pengembangan potensi siswanya.
Dengan berkaca dari jawaban teman-teman itu, menurut saya, sekolah yang bagus tidak lagi menjadikan absensi guru sebagai indikator mereka. Bukan berarti bahwa kehadiran guru tidak penting untuk menjadi indicator dalam dashboard-nya, tetapi sekolah dan komunitasnya sudah berpikir bagaimana meningkatkan kualitas interaksi instruksional di dalam kelas dalam ranah berpikir analitis. Guru dan karyawan di sekolah semacam itu telah memiliki etos kerja dengan komitmen yang tinggi.
Sementara di sebagian sekolah lainnya, pimpinan sekolah masih sibuk dengan morning sms. Karena nyaris setiap hari ada saja gurunya atau stafnya yang tidak masuk kerja. Apakah karena ada anggota keluarganya yang sakit, atau malah dirinya sendiri yang tidak enak badan, atau karena untuk mengurus surat, dll. Pendekkata, dari 40 syafnya yang terdiri dari guru dan karyawan, nyaris selalu ada saja yang tidak dapat masuk kerja. Dan berita itu akan dĂ­a terima pada setiap pagi melalui telpon atau sms untuknya. Itulah morning sms yang paling tidak dia kehendaki.
Dan itu pulalah dasboard yang dimaksud dalam tulisan ini. Lalu apa indikator yang yang harus ada di dashboard, di Sekolah Anda?
Jakarta, 4 Desember 2010.