Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 Januari 2011

Wader Goreng


  • Kalau stok bahan mentahnya bisa didapat dengan lancar, maka membuka usaha ini di kota menjanjikan Untung. Begitu kata saya kepada teman saat kami menunggu nasi wader goreng yang kami pesan siap di sajikan, di suatu siang di sebuah warung Pak Bejo di daerah Piyungan Yogyakarta Pada Sabtu tanggal 1 Januari 2011 yang lalu.
Ide makan nasi wader datang dari kawan yang menemani kami berkunjung ke Balerante satu hari sebelumnya. Dia menawarkan akan makan dengan 'aroma' khas atau yang standar? Saat itu jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.00, sementara perjalanan kami menuju Yogyakarta masih butuh lebih kurang 45 menit dalam kondisi yang sedikit tersendat. Maka kami segera menuju jalan Piyungan dari arah Klaten. Dan persis lampu lalu lintas perempatan jalan sebelum Jalan Ring Road Selatan, kami mengambil jalan ke kiri. Disitulah kami menemukan warung sederhana dari bambu.

Dengan rasa sambel yang gurih dan pedasnya berani, nasi dengan lauk wader goreng segera lenyap kami santap. Dalam detik-detik terakhir santapan itulah, saya masih menyisakan beberapa ekor wader goreng saya sebagai suapan terakhirnya. Yahudnya setara dengan makan nasi intip!

  • Saat masih kanak-kanak, ketika wader yang menyambar umpan dari pancing kita, sesungguhnya tidak terlalu membuat kita bergembira. Kata saya ketika kami sudah berkendara untuk melanjutkan perjalanan.
  • Mengapa? Tanya kawan saya dalam rombongan yang memang hidup sejak lahir dan besar di kota besar seperti Jakarta.
  • Karena, lanjut saya, kami lebih mengharapkan umpan pancing kami disambar ikat gabus atau ikan tawes. Jelas saya.
Dari situ, kita dapat menarik kesimpulan bahwa saat kami kecil memperolah ikan wader ketika memancing sesungguhnya tidak terlalu membuat kami bergembira. Ini terlepas dari rasa gurih dan enaknya dari ikan wader ini dibandingkan dari dua jenis ikan yang menjadi harapan kami ketika kami memancing di sungai. Namun itulah kenyataannya. Berbeda saat ini, ikan wader, untuk saya pribadi, menjadi sebuah makanan kerinduan kami kepada masa-masa dulu ketika kami masih kanak-kanak dan hidup dalam keprihatinan.

Dan itulah yang saya rasakan sepanjang menyantap nasi dengan lauk goreng ikan wader. Teringat nostalgia yang boleh jadi tidak akan diperoleh oleh kawan kami yang bersama-sama menyantapnya di warung Pak Bejo siang itu.


Jakarta, 3-5 Januari 2011.

Tidak ada komentar: