Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 Januari 2011

Naik Trans Jakarta



Pagi ini saya berangkat ke kantor dengan naik Bus Trans Jakarta. Ini bukan berarti bahwa saya tidak pernah naik bus selama ini. Tetap naik bus juga. Terutama bila saya harus pergi ke jarak yang dekat dengan rumah. Tetapi ke kantor dengan naik busnya orang Jakarta ini, ini pengalaman pertama saya. Ini juga karena koridor IX, mulai beroprasi pada tanggal 31 Desember 2010 yang lalu. Selain bertambah macet di jalur yang dilalauinya, naik bus ini justru kebalikannya. Bebas macet alias lancar jaya.


Saya berangkat dari Slipi pukul 06.20. Setelah membeli karcis seharga Rp.2,000, saya bertanya kepada penjaga, ke jurusan mana jika saya akan menuju ke Pulomas di Jakarta Timur? Penjaga memandu saya untuk naik jurusan Pluit, turun di Grogol untuk kemudian pindah naik ke jurusan Pulo Gadung. Ini sebuah petunjuk yang sebenarnya tidak saya harapkan. Karena saya berpikir untuk menuju Cawang dan kemudian pindah ke jurusan Tanjung Priok. Namun apa yang kemukakan oleh penjaga itu, langsung saya turuti karena saya yakin dialah yang paling tahu tentang apa yang saya tanyakan itu.


Mungkin hanya perlu sekitar 1 menit saya menunggu bus itu datang. Saya mendapat tempat duduk paling pojok belakang di bus gandeng itu. asyik sekali. Bus baru dengan laju yang nyaris tidak terganggu. Dari tempat duduk menuju Grogol itu, saya menyaksikan pemandangan yang kontras. Di luar jalur bus Trans Jakarta yang hampir selalu steril oleh kendaraan selain bus Trans Jakarta di jam berangkat dan pulang kantor, mobil umum dan pribadi berderet-deret diantara kendaraan roda dua yang tampak menyemut menyesaki jalan yang hanya tersedia dua jalur. Inilah nikmatnya naik bus Trans Jakarta. Pikir saya. Karena kami dapat melaju sedang mereka tersendat dan di beberapa bagian nyaris berhenti. Atau kalau dalam bahasa lalu lintasnya; padat merayap.


Dan pas pukul 07.18, saya sudah menempelkan telunjuk saya di mesin absen kantor. Dengan ongkos tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah.

Dari sekelumit pengalaman itu, maka saya berpendapat bahwa Trans Jakarta sekarang ini sudah menjadi solusi. Ya karena memang selama ini tidak usaha pemerintah yang paling nyata bagi transportasi massal selain moda kereta api dan bus way. Monorel yang telah dibangun tiang pancangnya di masa Gubernur Sutiyoso seperti mangkrak tidak ada ujungnya.

Namun kesempurnaan dari Trans Jakarta masih harus menjadi perhatian jika pemerintah tidak mau keghilangan moment. Yaitu tentang keadaan bangunan halte dan jembatan penyeberangan orang yang tampak di bawah standar kualitas.
Hal ini seperti tampak di Grogol. Dimana plat besi yang menjadi lantai sudah dalam kondisi bergelombang. Bahkan di bibir haltenya ada lantainya yang somplak. selain juga kurangnya kebersihan. Debu dan kertas yang jelas kentara di setiap halte. Kondisi busnya juga kurang maksimal. Terutama koridor yang telah lebih dahulu beroperasi. Selain juga kebersihan kaca dan lantai bus yang relatif belum terjaga sempurna. Bahkan untuk koridor Pulo Gadung - Kali Deres, beberapa bangku penumpangnya hanya diikat dengan tali rafia hitam.


Jakarta, 25 Januari 2011.

Tidak ada komentar: