Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 Desember 2010

Menjadi Trainer

Guru saya pulang dari kegiatan pelatihan. Seperti yang lain-lain sebelumnya, untuk tujuan pemberdayaan sekolah sebagai komunitas belajar, maka setiap kita yang selesai mengikuti kegiatan pelatihan, seminar, diskusi, atau kunjungan pendidikan, ada sesi untuk kita memberikan apa yang kita dapat kepada kolega kita di sekolah. Itu pulalah yang terjadi dengan guru saya ini. Ia meminta waktu khusus setelah sesi untuk teman tuntas ia lakdankan.

  • Hebat ya traíner saya. Saya ngak kebayang betapa bagusnya sekolah dimana ia menjadi Kepala Sekolahnya. Ungkap guru saya mengawali diskusi kami. Yang selain saya dan día, masih ada Kepala Sekolah TK dan Kepala SMP.
  • Siapa trainernya Pak? Tanya saya menyelidik.
  • Pak Hermanu. Kata guru saya penuh semangat. Saya senang juga jika mengirim guru untuk mengikuti pelatihan di luar sekolah, dan guru itu terinspirasi akan apa yang díikutinya. Pengiriman guru untuk ikut pelatihan di luar sekolah atau kita mengundang nara sumber untuk malakukan in house traning memang bertujuan untuk terus menerus meningkatkan kompetensi Guru. Karena hanya dengan guru yang berkualitas baguslah maka sekolah kami yang swasta ini eksistensinya akan terus terjaga.
  • Pak Hermanu. Kata saya. Terus terang nama itu saya tidak asing lagi. Ia adalah salah satu Kepala Sekolah dimana kebetulan saya menjadi bagian dari Yayasannya. Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu sebagai Kepala Sekolahnya. Jadi kalau mau dilihat secara herarki, Pak Hermanu adalah masuk dalam jajaran bawahan saya. (Mohon maaf, ini hanya untuk memberikan ilustrasi kepada pembaca agar dapat memahami tulisan saya ini dengan baik. Bukan untuk menunjukkan secara detil dan vulgar tentang diri saya).
  • Apa yang disampaikan Pak Hermanu dalam pelatihan itu Pak? Tanya saya lagi. Guru saya dengan baik menceritakan beberapa hal yang inspiratif selama pelatihan yang díiiutinya.
  • Senang ya Pak kalau Kepala Sekolahnya seperti Pak Hermanu. Setiap hari selalu inspiratif. Lanjut Guru saya. Saya ikut sumringah dengan apa yang disampaikan guru saya itu. Syukurlah bahwa ia terinspirasi untuk berbuat lebih baik dan lebih profesional.

Terlepas darí itu, saya sangat mensyukuri bahwa keberadaan Pak Hermanu, sebagai Kepala Sekolah dimana saya membantu teman yang lain di Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu berada, mampu memberikan inspirasi kepada teman-teman guru sekolah lain dengan menjadi trainer. Saya berharap bahwa aura positif itu pula yang tumbuh dan berkembang dimana Pak Hermanu sebagai leader di sekolahnya.

Namun dalam sebuah kesempatan di kemudian hari, saya bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman guru yang menjadi bawahan Pak Hermanu di sekolah dalam pertemuan, dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Dalam pertemuan-pertemuan itu, saya mendapat fakta atentang Pak Hermanu yang justru kebalikannya. Kenyataan itu memberikan keyakinan kepada saya akan informasi selama ini melalui email atau pertemuan informal dengan beberapa diantara teman-teman itu. Yaitu yang berkenaan secara operasional keberadaan Pak Hermanu, yang tidak cukup memberikan kesan positif dalam pengembangan profesionalisme guru-guru yang menjadi kewajibannya. Meski itu sangat dirindukan teman-teman. Bahkan ada komentar salah satu darí teman itu: "Pak Agus, saya tidak bangga sama sekali dengan sekolah ini, meski punya Kepala Sekolah yang menjadi trainer standar nasional".

Dari statmen itu, saya mencoba untuk merefleksi diri. Jangan sampai saya dihinggapi sakit memberikan sesuatu yang bukan atau belum terjadi di sekolah sendiri dalam setiap posisi menjadi trainer. Atau apalah namanya. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 26 Desember 2010.

Tidak ada komentar: