Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 Januari 2011

Kali Gendol


Setelah mendengar berita tentang erupsi Gunung Merapi sejak akhir Oktober 2010 lalu, nama kali ini juga turut menempel dalam ingatan saya. Tidak saja Kali Gendol yang saya ingat hingga sekarang ini. Tetapi juga masih ada Kali Krasak dan Kali Boyong.

Sayapun sempat mencoba untuk melihat secara detil keberadaan kali-kali itu dan juga wilayah-wilayah lainnya yang menjadi bagian tidak terpisahkan darĂ­
bencana alam itu di peta yang saya punya.

Jumat, 31 Desember 2010 pukul 19:00, kami, utusan dari Sekolah Islam Tugasku Pulomas Jakarta Timur berkesempatan untuk melintasi dasar kali atau Sungai Gendol.

Perjalanan kami di lokasi ini tidak lain adalah membawa amanah sumbangan untuk warga yang tinggal di desa Balerante, Klaten, yang posisinya berada di seberang kali pada saat kami saat itu.

Untuk menuju ke SDN Balerante, kami berangkat dari sebuah warung makan tradisional yang merangkap juga sebagai posko bencana yang dikelola oleh warga setempat yang kebetulan selamat dari bahaya erupsi. Lokasi warung tersebut persis di sebelah kiri pintu gerbang masuk tempat wisata Deles
Indah. Hanya ada satu jalan menuju Balerante dari lokasi ini. Yaitu menyeberangi Kali Gendol. Hal ini akan dikofirmasi terlebih dahulu kepada Mas Jadmiko, sekalu koordinator masyarakat yang akan kita tuju. Apakah menyeberang sungai aman, meski sejak siang tidak ada hujuan di wilayah puncak Merapi. Dari konfirmasi itu disepakati bahwa Pak Jatmiko akan menjemput dan memandu kami dengan berkendaraan mobil. Kami tenteram dengan kesepakatan ini. Karena terus terang kami kawatir jika kami harus berkendara dalam menyeberang sungai.

Namun untuk menghemat waktu, karena Mas Jadmiko belum juga kunjung datang, maka perjalanan dari posko menuju Balerante di pandu oleh Pak Nur, yang juga guru SMA, dengan mengendarai sepeda motor. Lebih kurang 500 meter dari pintu gerbang Deles Indah, Pak Nur berbelok ke kiri menuju jalan kerikil yang tidak beraspel. Dan inilah awal perjalanan petualangan kami. Tidak kebayang bagi kami mampu berkendara dari tebing sungai yang berada disisi timur menuju kesisi barat sungai yang terjal dan berbatu sebelum akhirnya benar-benar 'nyebur' di dasar sungai. Saingan kami adalah para penambang pasir yang sekaligus memberi inspirasi keberanian kami.


Bagi saya yang kala itu mendapat amanah sebagai pengendara, kenyataan bahwa truk pasir hinggap hingga dasar sungai cukup memberi petunjuk bahwa kami pun akan mampu menyeberang. Ini nalar saya yang membuat kami berani mengikuti sang penunjuk jalan yang sudah berada di depan kami.

Dan itulah oleh-oleh kami dari lereng Gunung Merapi. Selain perlu juga kami sampaikan bahwa, recovery Merapi tetap akan berlangsung meski erupsi telah berlalu.

Delanggu, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.

Tidak ada komentar: