Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Desember 2010

Di Sebuah Pasar, Saya Menemukan 'Cermin'

Pagi Ahad tanggal 12 Desember 2010 sekitar pukul 05,30 saya bersama tiga teman telah meninggalkan rumah yang kami tumpangi untuk bermalam. Sebuah daerah yang sesungguhnya hanya berjarak 55 kilometer dari tempat dimana saya dibesarkan di kampung Wojo. Dengan berjalan kaki, untuk sekedar jalan-jalan sekaligus pengenalan lingkungan. Tempat yang kami tuju dalam perjalanan mencari angin pagi ini, kami sepakati adalah Pasar Sentolo. Yang letaknya tidak begitu jauh dengan rel kereta api ganda jurusan Yogyakarta- Wates, yang jarak antara rumah yang kami tumpangi ke pasar itu tidak lebih dari dua kilometer saja.

Sampai di pasar, saya segera menghirup aroma kerinduan. Kerinduan akan sebuah masa di empat puluh tahun yang lalu, di masa kecil saya, yang tinggal di Wojo. Rindu dengan pasarnya. Yang dulu semarak dengan pedagang dan pembeli, yang memenuhi pelataran pasar hingga saya merasa kesulitan untuk masuk melalui gapura yang gagah bertuliskan Pasar Wojo, yang sekarang bangunan pasar itu telah roboh dan berganti dengan bangunan puskesmas pembantu. Yang alhamdulillah di ramai pasien darĂ­ daerah sekitar. Rindu dengan stasiun kereta apinya yang peronnya dipenuhi oleh buah kelapa, sapu lidi daun pisang,yang terlipat apik, gula jawa dan segala pernak pernik dagangan dari kampung untuk diperjualbelikan di Pasar Kranggan Yogyakarta. Dan pastinya para pedagang yang empunya dagangan untuk menunggu kereta kluthuk, atau kereta berbahan bakar kayu. Rasa kangen akan kesibukan sebuah stasiun kereta api yang sekarang tidak sibuk lagi dengan penumpang yang berangkat dan datang. Stasiun yang sekarang tambah tampak muda tetapi justru sepi pemakai. Aroma kerinduan itu mengiringi saya selama perjalanan mengitari los-los pasar di Pasar Sentolo itu. Ada juga rasa iri. Mangapa pasar ini masih begitu ramaii dengan aktivitas jual beli dan pasar di kampung saya tidak?

Disana saya jumpai penjaja palawija, buah dan daun pisang, tikar dari mendong, gethuk, klembak menyan dan tembakau, dan tidak ketinggalan growol yang terbuat dari singkong serta tempe benguk. Saya mengajak teman untuk membeli sedikit jajanan itu. Untuk kemudian kami santap dengan teman teh manis di sebuah warung gorengan yang ada di seberang pasar. Kawan yang sejak kecilnya tinggal di kota banyak bertanya tentang makanan yang kami makan.

Mereka begitu heran manakala saya bercerita kalau salah satu makanan yang kami sedang santap itu adalah jenis makanan yang dulu menjadi salah satu makanan pokok di keluarga saya. Seperti growol misalnya. Dan makanan growol itu, kembali mengingatkan saya pada masa kecil saya yang prihatin.

Mereka bertanya kepada saya mengenai asal dan proses pembuatan darĂ­ makanan-makanan itu. Sebagian saya bisa jelaskan secara baik karena saya tahu persis bagaimana Mamak saya memasaknya. Namun sebagian yang lain lagi saya telah lupa bagaimana makanan itu diproses sebelumnya.

Sebelum meninggalkan pasar itu, sekali lagi saya ajak teman-teman untuk masuk pasar pada bagian dalam dari sisi yang lain. Dan saya menemukan penjual alat pertanian seperti cangkul, arit, pisau, golok, sekop serta alat yang lainnya. Dan karena saya ingat betapa susahnya saya memotobg tulang kaki hewan kurban pada Idul Adha lalu, maka saya tertarik untuk membeli pethel.

Itulah catatan saya tentang perjalanan ke Pasar Sentolo. Sebuah catatan untuk Bapak dan Mamakku yang telah membelajarkan diriku bagaimana hidup dalam kondisi yang prihatin. Perjalanan di pasar itu, seperti saya sedang napak tilas. Seperti sedang bercermin...

Sentolo, 12 Desember 2010 - Jakarta, 17 Desember 2010.

Tidak ada komentar: