Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 Januari 2011

Jalanan Macet, dan Sekelimut Pengalaman Saya

Memasuki tahun 2011 ini, jalanan di Jakarta terasa semakin macet. Dan kemacetan yang paling saya rasakan sekarang ini adalah sepanjang perjalanan saya memasuki jalan arteri Gatot Subroto, dari pintu tol keluar Slipi (Depan Gedung DPR/MPR) menuju ke persimpangan lampu lalulintas Slipi dan juga pintu keluar tol Slipi Jaya (Depan RS Harapan Kita) hingga persimpangan lampu lalu lintas Slipi. Paling tidak karena ruas jalan inilah yang paling bisa saya lalui ketika pulang dari kantor di bilangan Pulomas, Jakarta Timur.

Ada memang jalur yang bisa saya lalui untuk perjalanan Pulomas-Slipi saat pulang kantor. Yaitu jalur arteri Casablanca-Arteri Pejompongan-Slipi dan jalur Patung Tani- Merdeka Selatan- Kebon Sirih- Tanah Abang- Slipi Jaya-Slipi. Tapi sejak hampir dua tahun yang lalu saya sama sekali tidak berani lagi melewatinya. Terlebih sejak ada proyek pembangunan Jalan Arteri Bukan Tol di sepanjang Jalur yang melalui Casablanca atau juga sejak perubahan jalur di seputar Tananh Abang. Jalur-jalur itu semakin ruwet dan mengkhawatirkan.

Pilihan terbaik saya untuk selalu melewati jalur tol baik Cawang menuju Slipi atau Ancol menuju Slipi, masuk di tahun 2011 ini sudah bukan menjadi pilihan terbaik. Dua jalur itu sekarang menjadi pilihan yang terpaksa saya pilih. Ini karena kemacetan yang luar biasa di jalur arteri Slipi Jaya menuju Slipi atau jalur Taman Ria menuju Slipi mampat dan selalu nyaris tidak bergerak.

Oleh karenanya, sejak tiga pekan di tahun ini, ada beberapa tambahan kegiatan saya agar tidak terlalu terjebak masuk dalam kemacetan yang menguras tenaga, emosi, pikiran, dan usia kita. Tiga hari dari lima hari yang ada dalam satu pekan itu akan saya gunakan untuk bersilaturahim. Saya akan 'merapat' di sekolah anak saya dulu, yang berlokasi di Tebet. Saya akan sampai di lokasi itu sekitar pukul16.30 dan akan berada di sana hingga pukul 20.00. Atau saya akan menghadiri rapat di Cipete, yang alhamdulillah dilaksanakan diantara hari Rabu-Jumat pada pukul 18.30 hingga 21.00. Atau saya akan tetap tinggal di sekolah saya dan baru meninggalkannya setelah pukul 20.00. Itulah kegiatan yang akhirnya tercipta dalam situasi jalan yang macetnya luar biasa.

Sekedar gambaran untuk anda semua, bahwa jarak Slipi-Pulomas, yaitu jarak dari rumah ke kantor saya lebih kurang 20 km jika saya masuk tol Slipi-Cawang-Rawa Mangun. Yang pada awal saya bekerja, yaitu tahun 2004, hampir selalu saya tempuh dalam waktu 30 menit saja dengan berkendara berkecepatan 80 km/jam. Namun waktu tempuh itu menjadi semakin tidak manusiawi lagi saat-saat ini. Karena dalam keadaan normal, saya sekarang perlu waktu 45 menit di dalam jalan tol. Dan pada sore hari saya masih butuh 30 menit lagi sebagai tambahan untuk jalur keluar pintu tol Slipi menuju rumah saya yang berada persis di belakang Hotel Ibis Slipi.
Itulah sekelumit pengalaman saya.
Jakarta, 25 Januari 2011.

Tidak ada komentar: