Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 Januari 2011

Sego Intip


Saya terperanjat gembira sesampainya di rumah Mamak di Wojo pada Sabtu malam tanggal 1 Januari 2011 lalu. Ini karena ketika akan makan masih tersisa sego intip atau nasi intip yang mengerak di dasar periuk nasi. Maka tanpa menyia-nyiakan waktu segera saya mengambilnya lalu menuanginya sayur dan kuah kacang panjang dan bunga pisang ke dalamnya. Yahud rasanya.

Saya bersyukur sekali bahwa ini terjadi serba pas. Pas saya sampai rumah setelah menempuh perjalanan dari Yogyakarta, dimana saya memisahkan diri dari rombongan yang melanjutkan perjalanan kembali ke Delanggu karena saya bermaksud bersilaturahim dengan Mamak saya di kampung. Pas juga saya lapar. Dan yang paling membuat saya bungah adalah pas ada makanan langka! Jenis makanan yang tidak akan ada sepanjang kita memasak nasinya menggunakan peralatan moderen seperti penanak nasi yang bertenaga listrik.

Sego Intip adalah Nasi Prihatin

Jenis makanan seperti itu bagi saya berada pada tataran istimewa. Mengapa? Karena langkanya itu. Sehingga saya sulit menjumpainya. Sering dalam sebuah perjalanan nasi intip itu telah dijajakan sebagai intip goreng. Dan saya tidak pernah tertarik untuk merasakannya. Bagi saya cita rasa tertinggi dari jenis makanan ini adalah rasanya yang sangat khas. Juga beraroma nostalgi.

Ini karena sudah nyaris 26 tahun setelah saya merantau tidak pernah lagi berjumpa dengan makanan ini. Situasi seperti ini membuat kerinduan saya meledak begitu di rumah orangtua menemukan makan istimewa di masa saya masih sekolah dan tinggal di kampung halaman.

Jenis makanan yqng selalu membuat kami, saya dan adik-adik, sumringah ketika menghadapi periuk nasi yang penuh intip atau kerak di dasar dan bagian bawah sisi periuk itu, yang semula keras kini menjadi lembek oleh kuah sayur bobor singkong muda buatan Mamak saya yang gurih. yang dengan kuah itu, maka intip yang tadinya keras dan erat menempel di periun menjadi lembek, lunak dan mudah kita sendok dan kita bagi ke dalam piring kita masing-masing. Bila perlu, dalam jatah kita yang ada di dalam piring, kita tambahkan lagi sayuran yang kita mau. Itulah puncak kenikmatan sebuah sajian makanan yang agak sulít, saya kira, bagi Anda untuk membayangkannya.

Ini karena Anda bukan orang yang pernah menjadi penghuni masa keprihatinan. Itulah maka saya menyebutnya nasi atau sego dalam bahasa Jawanyá ini, sebagai nasi prihatin. Setidaknya untuk saya.

Wojo, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Jayanto: subhanallooh ....srrrrruuuuppppppppuuutt....yummy......wahh mengingatkan saya juga nih pak...((dulu ketika saya masih SD begitulah..kira-kira di tahun 70 an, memang memasak tidak seperti sekarang lebih canggih dan modern, karena ada kompor yang bahan bakarnya gas, listrik, dsb; juga alat penanaknya ada yang dari seperti orang modern bilang 'rice cooker', tinggal colok listrik, ada juga "magic com", dll.; kala itu masakpun pakai kayu bakar, langseng, tungku tanah, ketel, nasi diliwet, jarang proses sego aron,..(he..he...saget njowo sitik-sitik, menawi tiang jawi...), aromanya pun sampai saat ini jadi terngiang-ngiang, baik aroma asap tungkunya, maupun ketika nasi itu tanak, juga ketika nasi tanak itu dikeduk dari ketelnya, dan paling bawah adalah keraknya/bahasa jawa is "intip" yang kalau diangkat agak sulit apalagi kalau sudah ada yang agak gosong, tapi memang enaak....dan kita pada berebut, karena intip kala itu dapat sebagai snack juga, padahal cuma diberi/taburi garam saja, apalagi diberi "srundeng/(kelapa parut yang digongseng diberi bumbu)", hmmuaaaah.....jaman prihatin...uenaak tenaaan.... (dibalik hikmah ini mungkin kita harus selalu "tetap prihatin", karena akan menjadikan kita selalu pandai bersyukur, apalagi melihat sesuatu yang berlebih, karena bahwasanya masih banyak orang yang kekurangan dari apa yang kita dapatkan, tidak menjadikannya kita sombong, lupa akan asal, tidak adigung, tidak takabur, ......masya Allah...pendidikan tasawuf tanpa sadar......semoga....selalu pandai bersyukur amiin........