Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

16 August 2012

Ketika Saya Dapat Melihat Bahwa Siswa Saya Hebat

Kapan saya dapat melihat bahwa siswa saya hebat? Sering sekali. Atau mungkin bahasa yang tepat untuk jawaban itu adalah setiap saat ketika saya mencoba mendengarkan kisah mereka. Dan jika saya setiap waktu mendengarkan kisah mereka, maka setiap waktu itu pulalah saya akan melihat dimana kehebatan dari siswa-siswa saya.

Ini terutama setiap waktu ketika mencoba mengalokasikan waktu saya untuk mendengar kisah mereka pada saat saya melakukan dialog, atau ketika menyaksikan, atau ketika sedang menyimak sebuah kisah dari teman guru atau teman kepala sekolah, tentang berbagai aktifitas kesibukannya sebagai seorang siswa. Dan dari yang sering itu, mungkin dua hal ini saja yang saya sampaikan dalam artikel ini. Mengapa dua hal saja? Ini justru karena stamina saya dalam menceritakan kembali dari kisah-kisah hebat anak-anak didik saya yang tidak begitu prima. Ini yang menjadi kendala terberat bagi saya. Mudah-mudahan pada kesempatan lain kisah kehebatan mereka selalu menjadi bagian dari testimoni saya dalam mengejawantahkan kompetensi saya sebagai guru di sekolah dimana anak-anak itu tetap selalu menjadi hebat. Amin.

Hafal Rute Bus Transjakarta
Terus terang saya mengagumi seorang siswa saya yang begitu melahap rute seluruh transjakarta. 'Penemuan' ini saya dapatkan ketika kami, diantaranya siswa dan guru ketika kami semua sedang mengenakan sepatu seusai mengerakan salat berjamaah di sekolah. Pada saat mendiskusikan jalanan macet dan bagaimana saya akhirnya beralih ke transjakarta, seorang siswa bertanya tentang rute. Tetapi tidak sekedar bertanya, karena dia justru mengajukan pertanyaan kepada saya mengapa tidak memilih jalur koridor sekian, yang menurut dia jauh lebih pendek dari pada jalur yang saya pilih selama ini. Dan dari situ, dia justru menjadi petunjuk jalan bagi kami semua jalur yang harus diambil untuk tujuan-tujuan yang dapat dicapai oleh kendaraan umum transjakarta.

'Penemuan' ini bagi saya menjadi catatan hebat yang luar biasa. Mengapa? Karena pengetahuan ini adalah pengetahuan khas kota Jakarta, dimana dia sendiri adalah seorang anak yang bukan menjadi bagian dari kendaraan umum tersebut. Karena saya tahu bahwa dia datang ke dan pulang dari sekolah bersama supir pribadinya. Dan dengan demikian maka apa yang dia kuasai adalah pengetahuan yang sesungguhnya tidak terlalu dekat dengan dirinya? Hebat bukan?

Karena itu jugalah maka teman-teman guru yang berada bersama kami saat mengenakan sepatu itu, berdecak kagum atas kehafalan anak didik kami terhadap koridor dan jurusan serta rute dari bus transjakarta. Kok bisa? Begitu rata-rata jalan pikiran kami.

Curhat Kepada Orangtua

'Penemuan' kehebatan siswa saya yang kedua adalah kisah mengenai bagaimana seorang siswa yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak mengadu atau lebih tepatnya curhat kepada orang tuanya.  Curahatan ini didapatkan oleh seorang guru yang mendapat BBM dari orangtua anak. Dikatakan bahwa anaknya mengadukan cerita kalau dia merasa bingung terhadap para ibu-ibu gurunya di sekolah. Apa yang membuat anak bingung? Yaitu pada saat anak diberikan teput tangan yang sama meriahnya dengan yang diberikan kepada temannya yang lain, pada saat dia diminta menyanyikan sebait syair lagu. Padahal anak itu yakin sebenar-benarnya bahwa saat anak itu berada di panggung tidak ada sepatah katapun dari mulutnya keluar selain hanya mick yang memang sudah di tangannya. Tetapi mengapa ketika dia turun dari panggung Ibu guru dan teman-teman bertepuk tangan untuknya?

Menggelikan bukan? Karena itulah maka orantua itu segera menghubungi guru untuk mengetahu duduk perkaranya. Apa jalan cerita sebenarnya? Dan pada saat guru itu mengetahui curhatan siswanya yang gagal mengucapkan satu katapun meski sudah berada di atas panggung tetapi tetap mendapat apresiasi, guru semakin yakin bahwa, pada situasi bagaimanapun ternyata anak-anak didiknya adalah pemikir yang hebat.

Dan 'penemuan' atas kehebatan itu justru dari curhatan anak didiknya yang gagal berkata meski telah berada di atas panggung kepada orangtuanya. Seru bukan? Itulah hebatnya anak-anak didik kami di sekolah.

Jakarta, 15-16 Agustus 2012.

No comments: