Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Desember 2011

Refleksi Belajar Bahasa dari Pare

Adakah sesuatu yang bermanfaat dan positif yang saya dapatkan dari pengalaman belajar bahasa di Pare, Kediri? Tentunya selain untuk saya sendiri yang delapan tahun tidak lagi 'bergaul' akrab dengan bahasa itu? Menjawab dengan sangat tegas; Ada! Dan berikut inilah yang menjadi beberapa catatan saya, yang juga adalah refleksi saya sendiri dengan keikutsertaan saya mengikuti kegiatan dimaksud. Meski singkat, karena hanya 17 sesi kelas yang  saya ikuti selama empat hari tinggal di Pare.

Refleksi Itu
Pertama; Saya menyadari bahwa Pare, dimana lokasi banyak kursus itu berada, adalah tempat yang sudah menjelma sebagai lokasi yang  kondusif dan komprehensif dalam belajar bahasa Inggris?

Karena semua unsur lingkungan dalam belajar relatif terpenuhi. Unsur itu adalah; Motivasi diri dari para tamunya. Bahwa semua orang pergi ke Pare adalah dalam rangka belajar berbahasa. Situasi. Karena semua yang datang dalam kerangka belajar, maka otomatis membentuk lingkungan dan situasi belajar menjadi jauh lebih kondusif. Sumber belajar. Sumber belajar bahasa Inggris relatif tersedia melimpah. Ada guru, ada teman, ada tetangga, ada buku. Perlu saya berikan garis bawah berkenaan dengan sumber belajar ini jika memang sehari-hari kita hidup relatif tidak berdampingan dengan native yang berbahasa ibu Bahasa Inggris.

Kedua; Metode Belajar. Semua metode yang digunakan adalah metode yang membangkitkan motivasi dan membangkitkan keterampilan berbahasa secara aktif. Yaitu keterampilan berbicara dan berkomunikasi. Metode yang dipakai antara lain adalah; diskusi, presentasi, bermain peran, menyanyi, dan ceramah.

Ketiga; melihat itu, maka pertanyaan kita berikutnya adalah; Apakah metode tersebut cocok di terapkan di sekolah kita? Bagi saya, jawabannya adalah cocok-cocok saja. Hanya menurut saya, kita harus merefitalisasi dan optimalisasi sistem penilaian kita terhadap hasil belajar siswa. Karena jika hasil belajar yang diminta atau dituntut adalah keterampilan pasif dalam berbahasa, maka tes hasil belajar siswa adalah tes obyektif sebagaimana yang sekarang ini kita gunakan. Dengan demikian, maka model belajar di Pare tersebut kurang mendukung. Test yang harus kita gunakan dengan model belajar sebagaimana yag terjadi di Pare tersebut, harus berupa; presentasi, dramatisasi teks, menulis karangan, retelling (lisan/tulis). Meski objectif test sebagaimana selama ini kita gunakan tetap dapat dipakai.

Bagaimana?

Sekedar ide saja, mungkin boleh saya sampaikan disini. Bahwa untuk menuju ke arah seperti itu, maka beberapa hal berikut dapat kita lakukan. Pertama: Kemampuan berbahasa harus dipraktekkan. Oleh karena itu maka praktek berbahasa harus menjadi fokus kita berikutnya. Praktek berbahasa dapat dalam bentuk kelompok study atau hari berbahasa, sebagamana yang telah terjadi di beberapa tempat pendidikan atau sekolah. Selain tentunya adanya tutorial berbahasa dari nara sumber yang kompeten dalam berbahasa.

Kedua; Memberikan pengayaan kepada guru bahasa, baik Inggris atau Bahasa Indonesia, dengan metode belajar yang membuat siswa aktif. Seperti diskusi, bermain peran, retelling dalam bentuk lisan atau tulis dalam bentuk prakteknya. Namun tetap dengan manajemen kelas yang baik.

Ketiga; Secara reguler, enam bulanan barangkali, dengan menyesuaikan dana yang tersedia di sekolah masing-masing, kita harus melaksanakan program belajar semacam ini kepada guru-guru non Bahasa Inggris. Tentunya menggunakan skala prioritas. Misalnya dengan guru yang telah memiliki kosa kata yang cukup dan motivasi untuk mengembangkan diri dalam berbahasa Inggris.

Keempat; Kita juga harus memperhatikan kecakapan dan kompetensi berbahasnya untuk semua guru Bahasa Inggris. Baik kemampuan akademiknya dan juga kemampuan paedagoginya.

Kelima; Memberikan sumber belajar dalam bentuk buku. Harus ada tambahan buku-buku cerita berbahasa Inggris tersedia di sekolah-sekolah. Baik untuk guru dan siswa. Seperti cerita klasik berbahasa inggris. Dan yang lebih penting dari ketersediaan buku ini adalah, membangun semangat guru untuk mampu 'menikmati' buku-buku cerita tersebut sebelum memberikan inspirasi kepada para peserta didiknya di kelas. Allahua'lam bi shawab. Semoga bermanfaat. Amin.

Pare, Kediri-Jakarta, 28-30 Desember 2011.

Tidak ada komentar: