Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Desember 2011

Mata Pelajaran Budi Pekerti

Ada satu hal yang mengusik saya pada awal pekan lalu berkenaan dengan budi pekerti. Yaitu sebuah gagasan 'melahirkan' budi pekerti sebagai mata pelajaran intrakurikuler. Pemikiran dan gagasan ini muncul dan lahir setelah bertubi-tubinya masukan dari berbagai pihak, khususnya yang belum memiliki anak usia SMP, bahwa perlu tambahan pelajaran sopan santun di siswa SMP. Dan masukan itu memunculkan gagasan akan dilahirkannya mata pelajaran budi pekerti. Tentu ini tidak berlaku di lembaga Anda. Karena ini khas masalah kami, yang menyelenggarakan pendidikan satu atap dari  jenjang pendidikan Kelompok Bermain (KB) hingga jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Dimana masalah yang selalu lahir adalah ketidakyakinanan akan keberlanjutan sistem pendidikan kami dari jenjang pendidikan terendah hingga jenjang pendidikan tertinggi dilembaga yang menjadi tanggung jawab kami. 

Banyak hal yang dapat saya kemukakan mengapa fenomena itu terjadi. Namun saya tidak ingin mengatakannya di sini dalam artikel ini. Karena terus terang, saya sangat tidak ingin mengatakan sesuatu yang pada ujungnya akan dianggap sebagai argumentasi pembelaan. Itulah maka saya hanya menyampaikan argumentasi dan asumsi dalam forum-forum stakeholder.

Namun satu hal yang perlu saya kemukakan disini bahwa, banyk masih yang melihat sesuatu dan kemudian memutuskan sesuatu  setelah memperoleh informasi saya satu atau mungkin juga dua sisi. Dan sisi-sisi tersebut telah diasumsikan sebagai apa yang sesungguhnya terjadi atau sebagai fakta yangsesungguhnya. Memang dari sisi yang telah dilihat tersebut merupakan kebanaran yang dapat membuat kesimpulannya benar. Tetapi tidak jarang sisi-sisi yang dilihat masih membutuhkan tambahan penglihatan dari sisi yang lain lagi. Nah kesabaran kita untuk benar-benar mengumpulkan informasi dan fakta dengan selengkap-lengkapnya inilah yang mungkin harus menjadi budaya kita sebelum kesimpulan kita bukukan. kesabaran untuk melihat seawas-awasnya tersebut sebagai modal dasar bagi kita dalam memperoleh hasil akhir sebuah kesimpulan yang holistik.

Mata Pelajaran

Dan dengan menduga akan lemahnya argumentasi akan adanya sikap tidak sopan yang dipertontonkan remaja tersebutlah, maka saya melihat kalau usulan dan gagasan untuk adanya mata pelajaran budi pekerti itu, saya sungguh tidak merasa yakin sebagai jalan keluarnya. Karena saya tidak melihat bahwa penyebab atau sumber ketidaksopanan remaja itu dari tiadanya pengetahuan mereka terhadap budi pekerti.  Karena saya kawatir sekali ketika budi perkerti telah menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri dengan seorang guru yang menjadi tenaga pengajarnya, maka ia hanya akan berkutat kepada sisi kognisi dengan tanpa akar yang membuat mata pelajaran itu sendiri kering bahkan gersang.

Itulah nasib beberapa mata pelajaran yang selama ini ada. Sebuah mata pelajaran yang pada akhirnya hanya berisi kompetensi dasar dengan berbasis hanya kepada kognitif siswa. Dan dalam kondisi demiian, dengan meminjam istilah dari Thomas Lickona, maka fungsi guru baru sampai kepada apa yang disebutnya sebagai ethical mentor. Sebagai pengajar. 

Dan budi perkerti sebagai mata pelajaran, yang kemudian menjebak guru hanya berhenti sampai dengan sebagai pengajar, maka kita terseret arus untuk menjadi lupa pada tugas mulia guru yang lainnya, yaitu guru sebagai care giver dan model. 

Untuk itulah, maka saya berharap sangat agar kita semua memberikan nyawa dan ruh kepada semua mata pelajaran yang ada di sekolah kita dengan budi perkerti. Dan ini justru, menurut saya, sebagai tantangan kita untuk bergerak menaiki tangga kemuliaan dimana selain sebagai ethical mentor, juga sebagai care giver, dan juga model. Inilah pendidik!

Jakarta, 17-19  Desember 2011.

Tidak ada komentar: