Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

13 Desember 2011

Mengambil Pelajaran 'Hidup' dari Pensiunan

Jumat, 9 Desember 2011, saya harus mengantarkan obat kesembuhan untuk putri kami yang tinggal tidak jauh dari orangtua saya di Jawa Tengah. Dan untuk perjalanan yang memakan waktu tidak pendek itu, saya memilih menumpang bus malam langganan kami. Pukul 17.30 bus itu beranjak dari terminal bus di Jakarta Selatan menuju tujuan kami di Jawa Tengah.

Duduk di sebelah saya seorang Bapak yang saya taksir berusia lebih kurang 60 tahun. Masih tampak bugar dengan rambut yang belum keselurannya memutih. Kami memulai percakapan dengan saling memperkenalkan diri. Lalu percakapan mengalir ke keluarga kami masing-masing. Ia tampak sedikit kaget ketika tahu kalau saya telah memiliki dua anak yang sudah masuk ke bangku kuliah. Beliau berpikir kalau usia saya masih muda untuk memiliki anak paling kecil yang telah duduk di bangku SMA kelas dua.

Dikatakannya bahwa, dia pulang kampung untuk waktu yang relatif lama, yaitu satu setengah bulan. Waktu selama itu ia akan pergunakan untuk menyemai bibit pohon jati, yang menurut dia, adalah waktu yang tepat karena musim hujan telah tiba. Tentu menanam pohon di pekarangan tanah leluhurnya di Kabupaten Kolan Progo, Yogyakarta. Percakapan kami tentu melebar dan memanjang. Dan tentu pula dengan dominasi penuh dari Bapak pensiunan itu. Saya sekuat tenaga berusaha menjadi pendengar aktif dan setia. Termasuk juga kondisi ketiga anaknya, yang lulus dari FKUI dan menjadi PNS, juga adiknya yang lulus dari Farmasi di Universita yang sama dengan sang Kakak. Dan bontotnya yang termotivasi untuk menjadi pegawai di perusahaan minyak asing dengan bersekolah di Trisakti, Jakarta.

Pendek kata, ada empat hal yang dapat pelajari pada sosok Bapak pensiunan sepanjang perjalanan kami dari Jakarta menuju Jawa Tengah itu. Empat hal itu tentu pelajaran hidup untuk saya yang masih menapaki perjalanan dengan ujung yang saya harapkan selalu penuh kebaikan dan keberkahan. Yaitu; 

Pertama, Motivasinya untuk pulang kampung setelah bebas tugas kantor, dengan menjadi petani. Kok sama dengan saya? Pikir saya. Oleh karenanya, saya menjadi semakin termotivasi untuk menjalani jejak yang sama. Tentu selain perlu komitmen untuk mengambil langkah mewujudkan mimpi tersebut, juga perlu kepemilikan  lahan. Untuk hal yang pertama, tampaknya saya sendiri telah membangunnya. Sedang yang kedua, saya berkeyakinan akan mendapatkannya. Setidaknya ini keyakinan saya yang berasal dari kisah beberapa kawan saya yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya ini. Atau keyakinan saya atas apa yang Rasulullah sampaikan yang kurang lebih bermakna: you are, what you think! 

Mengapa menjadi petani?  Karena, setidaknya menurut saya, inilah pekerjaan yang paling bersih dari segala intrik sosial yang buruk dan merusak. Tetapi petani yang mandiri. Petani yang memiliki minimal 35 pohon jati, atau pohon mahoni, atau pohon sengon. Petani yang tidak hanya memelihara ayam kampung dalam kandang, tetapi juga kambing minimal 7 ekor, juga sapi minimal 3 ekor. Petani yang pekarangan rumahnya dipenuhi tumbuhan buah yang terawat, serta pastinya berbagai tanaman pangan yang mampu menjadi stok karbohidrat!

Kedua, Mencintai orangtuanya yang hidup di desa. Bagaimana bentuknya? Bapak itu benar-benar menjadikan orangtuanya yang tetap tinggal di desa sebagai pundi-pundi pengorbanan. Waktu dan biaya dia curahkan untuk orangtuanya selain tentunya keluarga. Pulang kampung  baginya, adalah perjalanan rutin sebagaimana beberapa orang lain yang hidup di kota pergi ke sebuah tempat wisata. Pulang kampung baginya, tidak cukup hanya dilakukan saat menjelang Ramadhan dan saat Idul Fitri. Dan itu menjadi budaya keluarganya. Lelah? Itulah cinta. Harus dibayar berapapun harganya. Termasuk juga tahajutnya sepanjang hayat masih di kandung badan, tak lupa untuk memanjatkan doa kepada orangtuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya. Dahsyat bukan?

Ketiga, Tenteram menjadi pensiunan karena merasa tidak meninggalkan jejak kotor. Tidak seperti beberapa temannya yang harus dirawat karena strok atau bahkan telah meninggal dunia. Ia menganalisanya semua itu karena apa yang telah dilakukan di masa sebelumnya. Maka ketika saat menjabat dan menjadi pegawai, ia lurus-lurus saja dan tidak neko-neko, maka ketenteraman itulah buahnya. Tidak ada jejak kotor di seluruh berkas kerja sebelumnya.

Keempat, Mendidik anak dengan dialog dan contoh. Dialog yang mencedaskan antara dia dan seluruh anggota keluarganya, ia rasakan sebagai pintu gerbang sukses keluarganya. Dialog mencerdaskan adalah dialog yang mengeksplorasi argumentasi dengan penuh emosi kasih sayang keluarga. Dari sini pulalah para anak-anaknya membangun komitmen untuk masa depannya masing-masing. Komitman untuk sukses, bekerja keras, penuh motivasi, saling menghargai dan mencintai, dengan bersendikan kekuatan keluarga. Indah bukan?

Itulah empat hal yang saya temukan dari seorang Bapak yang telah pensiun, yang akan menanam pohon jati di kampungnya di Samigaluh, yang duduk di sebelah saya, di dalam bus malam Sumber Alam, yang bergerak dari Jakarta menuju Yogyakarta. Terima kasih Bapak.

Jakarta, 7-14 Desember 2011.

Tidak ada komentar: