Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Desember 2011

Jadul Tapi Tetap Kompetitif

Bagaimanakah kita mempertahankan ke'jadul'an tetapi tetap eksis dalam arena kompetisi? Ini menjadi pemikiran saya ketika saya berkunjung untuk beberapa hari di Pare, Kediri, Jawa Timur, dan menemukan fenomena jadul plus kompetitif. Jadi dua hal yang terasa sulit menjadi sesuatu yang benar-benar hidup dalam kehidupan sekarang ini. Yaitu jadul tetapi kompetitif. Nah, dalam artikel singkat ini, saya ingin menyampaikan kepada kita semua. Setidaknya ini adalah realitas yang darinya, saya mendapatkan sesuatu yang dapat saya bagikan disini.

Tetap Jadul

Ketika kita melihat kertas yang saya tampilkan di bawah ini, segera kita tahu dan dapat menangkap protipe serta model jualan yang ditawarkan. Pasti kesan jadul dan apa adanya terlihat jelas. Ini adalah kertas yang saya dapatkan dari penjaga sebuah pabrik tahu kuning di kota Pare, Kediri. Saat saya datang untuk kedua kalinya, karena saat pertama kali saya datang, sekitar pukul 06.00, penjaga tersebut mengatakan kepada kami untuk datang nanti pukul 08.00. "Produksi kedua kami akan keluar nanti jam delapan". Katanya ketika tidak kami dapati lagi tahu kuning yang akan kami bei untuk kami pamerkan kepada teman-teman kami yang ada di Kampung Inggris, di desa Tulungrejo, Pare, Kediri.

Kami pantas memamerkan tahu kuning ini, karena selain semua teman kami hampir belum pernah merasakan keenakan dari tahu yang meski masih mentah, baru keluar dari pabrik, tapi sudah terasa gurih.

Dan karena penasaran tidak mendapatkan tahu yang kami inginkan pada kedatangan pertama kali itu, maka esok harinya kami datang lagi dengan maksud akan memesan untuk dibawa pulang. Kedatangan kami yang kedua sekitar pukul 13.00. Penjaga menuliskan pesanan saya di balik kertas yag tampak pada gambar itu. Tentu tetap dengan tulis tangan. Dan tampaknya tulisan tangan dari orang yang sama.

Dan selain memesan untuk saya bawa pulang ke Jakarta, saya juga bermaksud untuk membeli barang sedikit. Sekali untuk diberikan kepada teman-teman yang masih sibuk belajar Bahasa  Inggris, guna mencicipi. Siapa tahu mereka nantinya tertarik dan kemudian meniru saya membeli tahu itu sebagai oleh-oleh ke Jakarta. Namun sekali lagi, tahu habis. " Di dua agen yang ada di Kediri juga sudah habis mas. Tadi kita sudah telepon. Nanti produksi berkutnya jam 14.00 jadi Mas". Jelas penjaga tersebut.

Kami akhirnya melanjutkan perjalanan dan membeli tahu kuning dengan merk yang berbeda di salah satu toko oleh-oleh, yang lokasinya lebih kurang 300 meter dari pabrik Tahu Kuning Kiet itu. Dengan tambahan cabe, tahu itu saya hidangkan kepada teman-teman. Benar saja, setelah mereka mencicipi, mereka terperanggah karena enaknya tahu itu. Mungkin kali pertama mereka semua menikmati tahu kuning seperti itu.

Beruntung, pada kedatangan saya yang kali ketiga, pada hari berikutnya sekitar pukul 15.00, tahu pesanan saya telah rapi dibungkus. Dan saya masih sempat membelikan 4 potong tahu untuk kemudian saya sajikan kepada teman. Mereka mengakui kalau tersebut jauh lebih enak dan gurih dari tahu kuning sebelumnya. Dan mereka beramai-ramai memutuskan untuk memesannya sebagai oleh-oleh.

Kompetitif

Disinilah yang menjadi titik perhatian saya. Mengapa tahu itu, meski kemasannya jauh dari sentuhan komputer dan bahkan sablon sekalipun, tetapi tetap dicari orang? Tidak bisa tidak, itu karena cita rasa dan kualitas yang tetap menjadi standarnya. Oleh karenanya meski merek dan segala rupa tetap dalam kemasan dan tongkrongan jadul, tetapi karena kualitasnya lebih baik dari kompetitor lainnya, maka meski tiga kali produksi dalam satu hari, tahu itu tetap ludes.

Kenyataan ini membelajarkan pada diri saya tentang bagaimana mengelola amanah yang diberikan oleh yayasan dalam mengelola lembaga pendidikan. Sebuah pelajaran yang menegaskan kembali bahwa, tugas selalu tidak pernah selesai. Karena mengejar kualitas berarti adalah pengembangan diri insani yang menjadi soko guru dalam sebuah organisasi yang bernama sekolah. Itulah pelajaran yang saya dapat dari tahu kuning di jalan Mastrip itu. Terima kasih.

Pare, Kediri-Jakarta, 28-30 Desember 2011.

Tidak ada komentar: