Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Desember 2011

Jajanan di Pare, Kediri

Selama empat hari saya mendapat kesempatan bersama teman-teman baik saya yang selalu bersemangat belajar, untuk tinggal di dusun Mulyoasri desa Tulungrejo, kecamatan Pare kabupaten Kediri, Jawa Timur, dalam rangka untuk  belajar. Sebuah tempat yang baru kali pertama saya jejaki, meski mendengarnya telah berulang kali. Itulah sebabnya sehingga saya benar-benar gembira dan bersemangat dalam menjalani perjalanan belajar, yang terlalu singkat untuk ukuran belajar bahasa tersebut.

Pada hari Minggu pagi saya bersama rombongan lengkap yang terdiri dari 15 orang telah berada di pelataran stasiun kereta api kota Kediri. Dengan tiga armada minibus, kami sampai di desa yang kami tuju. Tak banyak hal menarik untuk kali pertama saya menjejalkan kaki di desa itu. Selain banyaknya anak-anak untuk sebuah kampung. Dan anehnya, dari kaos yang dikenakan sebagai seragamnya, mereka datang dari luar kota yang jauh. Ada dari Ponorogo, kota yang dekat dari Kediri, tetapi ada juga dari Bogor, dari Kerawang, dan yang paling jauh dari Berau, Kalimantan. 
Namun semangat dan girah sebuah daerah itu benar-benar saya tangakap sejak adzan subuh berkumandang pada pukul 03.50! Musola tempat berkumpulnya anak-anak itu dan kami terasa terlalu sempit untuk dapat menampung. Apalagi ketika matahari pagi telah mulai memberikan nuansa terangnya ketika jam tangan masih menunjukkan pukul 04.15. Dan saya bersama teman telah berjalan lebih kurang 3 kilometer dari lokasi kami berada di musola tadi. Dari sepanjang perjalanan, kami telah menemukan beberapa warung yang telah buka di dini hari itu. Dan anehnya, hampir semua warung kaki lima itu menjajakan makanan kecil khas mereka, pecel.

Pecel

Inilah makanan khas yang kami santap di waktu pagi itu. Bagaimana rasanya? Saya sulit untuk dapat mendiskrepsikannya. Karena bagi saya, makanan hanya ada dua jenis citarasa. Yaitu makanan yang enak dan uenak. Itu saja. Namun saya pagi itu makan dua (2) pincuk pecel dengan nasi satu porsi. Plus minum wedang jahe yang terasa pedas hingga kerongkongan.

 Dan pada hari-hari berikutnya, saya mendapatkan kesan yang sangat kuat bahwa, pecel adalah jajanan yang paling favorit di daerah itu. Apakah pagi, siang hari, atau bahkan malam hari, jajanan yang bernama pecel ini selalu saja ada pembelinya.  
Apakah Pecel Saja?

Tampaknya tidak. Ada beberapa hal menarik yang dapat saya catat di sini. Misalnya tahu kuning, dan juga minuman kuno seperti temulawak dan  coffee beer, dan juga gethuk pisang seperti gambar berikut ini. 



Coffee Beer dari Ngoro, Jombang. Jangan kawatir akan mabuk setelah mengonsumsi minuman ini. Minuman ini mengingatkan saya dengan jenis minuman Sarsaparila, yang saya bisa dapatkan di tempat-tempat tertentu di Yogyakarta.






Juga dari Ngoro, Jombang. Minuman yang lagi-lagi mengingatkan saya kepada minuman khas Betawi, Bir Plethok.

Adalah gethuk pisang. Susunan paketnya unik. Juga rasa dari pisang yang telah menjadi gethuk ini.


Pare, Kediri-Jakarta,  28-30 Desember 2011

Tidak ada komentar: