Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

04 Desember 2011

Belajar Budi Pekerti dari Midun dan Kacak

Membaca novel Sengsara Membawa Nikmat yang ditulis oleh Tulis Sutan Sati, terbitan Balai Pustaka tahun 2006, saya belajar bagaimana budi perkerti baik dan buruk dan implikasi atau dampaknya dalam rangkaian hidup seseorang.
Saya yakin, pasti bukan saya sendiri, tetapi kita semua yang membaca sastra klasik ini akan mendapatkan hal yang sama. Yaitu peranggai yang dinarasikan oleh pengarangnya dalam dua sosok saling bertentangan. Adalah Midun yang berperan sebagai manusia dengan keluhuran perilaku. dan Kacak, sebagai sosok dengan semua perilaku buruk yang menyebalkan.


Sebuah novel dengan kerangka budaya Sumatera Barat yang sangat kental dengan kearifan desa yang bermartabat serta kehidupan yang agamis. Persisnya di daerah pedalaman yang berdekatan dengan kota Bukittinggi. Midun dan Kacak adalah dua sosok manusia yang seusia, yang pada awal cerita adalah sahabat di desa mereka. Namun karena situasi dan struktur sosial masing-masingnya yang berbeda, maka itu pulalh yang memberi berpengaruh besar kepada tumbuhnya perilaku keduanya.

Midun vs Kacak


Dalam sebuah alenia, penulis novel ini menggambarkan siapa Midun dengan kalimat seperti ini; Memang Midun seorang muda yang gemari orang dí kampungnya. Budi perketinya amat baik dan tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar, tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih, jarang orang yang sebaik dia hatinya. Sabar dan tak lekas marah, serta tulis ikhlas dalam segala hal. Hati tetap dan kemauannya keras; apa yang maksudnya jika tidak sampai, belum ia bersenang hati. Adalah pula padanya suatu sifat yang baik, yakni barang siapa yang berdekatan atau bercampur dengan dia, tak dapat tiada senang hatinya, hilang sedih hati olehnya. Karena itu, tua muda, kecil besar dí kampung itu kasih dan sayang kepada Midun. (Halaman 4)


Bagaimana Midun menjadi manusia yang menjadi pusat perhatian orang banyak di kampung dimana ia berada? Tidak lain adalah bagaiman orangtua Midun mendidiknya. Maka dalam alenia lain digambarkan bagaimana sosok Pak Midun, ayah Midun. Yaitu sebagai berikut; Sebermula akan si Midun itu, ialah anak seorang peladang biasa. Sungguhpun ayah Midun orang peladang, tetapi pemandangannya sudah luas dan pengetahuannya pun dalam. Sudah banyak negeri yang ditempuhnya, dan telah jauh rantau dijalaninya semasa muda. Oleh sebab banyak hidup sudah dirasai, jauh berjalan banyak dilihat, maka orang tua dapatlah memperbandingkan mana yang baik dan mana yang buruk. Tahu dan mengertilah Pak Midun bagaimana caranya yang baik menjalankan hidup dalam pergaulan bersama. Dengan pengetahuannya yang demikian itu, dididiknyalah anaknya Midun dengan hemat dan cermat, agar menjadi seorang yang berbahagia kelak. (Halaman 15)


Bagaimana dengan Kacak? Tetangganya yang kemudian menjadikan Midun sebagai musuhnya? Pada halaman 5, pengarang buku ini menulis; Tidak berapa lama antaranya, kelihatan seorang muda datang menuju ke pasar itu. Ia bercelana batik, berbaju Cina yang berkerawang pada saku dan punggungnya. Kopiahnya sutera selalu, berterompah dan bersarung kain Bugis.... "Itu dia Engku Muda Kacak sudah datang," kata Maun kepada kawan-kawannya.

Perlu saya sampaikan disini bahwa, Maun adalah kawan karib Midun. Orang yang menemani Midun jaga malam di kampong pada saat Midun menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh Tuanku Laras, Paman Kacak, yang menjadi penguasa di kampung itu. Teman yang bahu membahu dalam menangkap pencuri yang masuk ke rumah Kacak, yang diindikasikan sebagai jebakan agar Midun, yang menjadi penjaga malam di kampung itu, dapat diseret ke perkara yang lebih besar. Pendeknya, ada rekayasa atas pencurian di rumah Kacak tersebut pada saat Midun menjadi penjaga malam.

Sosok Kacak dilukiskan lebih lanjut dalam alenia berikutnya; Mendengar perkataan Maun, orang yang duduk berkelompok-kelompok itu berdiri. Setelah Kacak sampai ke pasar, semuanya datang bersalam kepadanya. Sungguhpun Kacak masih berumur 21 tahun lebih, tetapi segala orang di pasar itu, baik tua ataupun muda, sangat hormat kepadanya dan dengan sopan bersalaman dengan dia. Tetapi mereka bersalam tidak sebagai kepada Midun, melainkan kebalikannya. Mereka itu semuanya seolah-olah terpaksa, sebab ada yang ditakutkannya.


Penutup 

Bagaimana penutup dari cerita ini? Ujung atau implikasi dari perilaku para tokoh utamanya itu? Tulis Sutan Sati, sang pengarang, dalam novelnya ini mengakhiri ceritanyanya dengan happy ending untuk tokoh Midun. Dan sad ending untuk tokoh Kacak.

Jakarta, 4 Desember 2011

Tidak ada komentar: