Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Maret 2011

Terlambat Masuk Sekolah

Terlambat masuk sekolah mungkin hampir sebagian besar kita pernah mengalaminya. Bisa karena tiba-tiba ada kendala di jalan sehingga menghambat perjalanan kita. Atau bisa juga karena kesengajaan kita, atau juga kurang telitinya kita menghitung waktu tempuh yang kita perlukan untuk perjalanan kita dari rumah hingga sampai ke sekolah. Semua berujung kepada terlambat sampai sekolah. Unsur yang terakhir inilah yang akan saya sampaikan di sini. Yaitu berkenaan dengan apa yang saya lihat ketika saya bersama dua orang yang terlambat sampai sekolah. Satu seorang Ibu, yang tampaknya juga adalah Ibu Guru. Dan satunya lagi adalah seorang siswa di sekolah yang sama, yang tampaknya adalah anak kandung dari sang Ibu tersebut. Keduanya secara kebetulan berada dalam satu bus transjakarta arah UKI Cawang-Rawasari, Cempaka Putih.

Menarik Perhatian

Mengapa pola tingkah dua manusia menjadi begitu menarik perhatian saya, yang kebetulan sebagai guru juga? Ini tidak lain karena keduanya menunjukkan pola tingkah yang sangat berbeda dengan penumpang bus lainnya. Terutama begitu bus akan berhenti di shelter Rawasari. Bahkan sejak bus masih berada di perempatan jalan Pemuda, Rawamangun, Ibu tersebut sudah menunjukkan raut muka yang amat sangat tergesa-gesa. Dari tempat duduknya ia memandu anaknya merangsek ke arah pintu dengan sedikit memaksakan diri agar begitu pintu bus terbuka maka merekalah yang pertama kali harus melangkah keluar.

Padahal, seperti yang disampaikan oleh Pam-transjakarta; tidak perlu tergesa-gesa, akan ditunggu... Maka tak ayal lagi, pola tingkah itu segera menarik perhatian saya.

Benar saja, pada pertemuan kali pertama dengan saya, Ibu itu mengambil jalan keluar dari shelter yang berbeda dengan si anak. Si anak dengan berjalan cepat, mengambil jalan melalui jembatan penyeberangan orang atau JPO. Sedang sang Ibu, dengan lebih tergesa-gesa membuka pintu shelter yang bukan untuk penumpang. Bahkan ia tampak menerobos melalui bawah jembatan yang tidak berpagar meski harus melaluinya dengan jalan membungkuk. Tanpa malu. Waktu saat itu menunjukkan pukul 06.32. Artinya sudah termlambat!

Pada saat saya bersama untuk kali yang kedua, peristiwa tergesa-gesa bercampur panik dan licik, karena tidak mengindahkan etika yang ada, kembeli ditunjukkannya. Maklum, kami sampai shelter tempat turun dari bus waktu sudah menunjukkan pukul 06.33. Artinya terlambat lagi. Yaitu ketika mereka keluar shelter melalui pintu pegawai dan tidak melalui JPO lagi. Karena tertarik dengan tingkah polahnya, saya mencoba mengamati ketika saya sudah sampai gelagar jembatan paling atas dan kedua orang itu sampai pintu gerbang sekolah.

Sang anak langsung masuk ke halaman sekolah, bersama beberapa bagian kecil siswa lain yang juga datang terlambat. Sang Ibu tidak langsung masuk halaman sekolah. Ia tampak berhenti dan mengawasi beberapa siswa yang turun dari kendaraan. Ibu guru itu tampak meminta kepada siswa atau siswi yang terlambat segera berlari. Dan setelah sekian menit ia berada di situ hingga tidak ada lagi anak yang terlambat, ia masuk halaman sekolah. Dan mungkin teman guru lainnya mengira bahwa Ibu guru itu baru selesai mengawasi siswa-siswi yang terlambat masuk sekolah di pinggir jalan raya (?).

Untuk kebersamaan saya dengan dua orang tersebut yang kali ketiga, ada peristiwa lain lagi yang menarik perhatian saya. Waktu ketika kami keluar dari bus transjakarta menunjukkan pukul 06.35. Artinya, terlambat lagi! Dengan tetap super tergesa dan panik, orang Jawa punya istilah sangat pas; biayakan, Ibu itu setengah berlari menuju pintu keluar shalter khusus untuk karyawan. Namun pintu tidak bisa dibuka dengan mudah. Maka dengan bertambah kepanikannya, ia mendatangi petugas penyobek karcis di shelter tersebut untuk meminta tolong dibukakan.

Terlambat Masuk Sekolah

Bercermin dari kisah saya di atas, dapat kita dengan mudah menyimpulkan bahwa; Pertama, Dengan alasan apapun, terlambat adalah sesuatu yang tidak enak untuk orang normal. Terlambat apapun. Mungkin terlambat masuk kantor, mungkin masuk sekolah, atau terlambat yang lain. Dan seperti dalam kisah itu, kedua orang tersebut adalah sosok normal yang tidak menyukai keterlambatannya. Bahkan hingga di detik terakhirnya pun, seperti menjelang halaman sekolahnya, kedua orang itu dengan berbagai upaya untuk tidak terlambat.

Kedua, Sebagai orang normal, mestinya juga harus menjadi orang sadar. Yaitu bagaimana menyadari ketidakenakannya terlambat, menjadi energi baginya untuk meng-akalkan. Yaitu menghitung waktu perjalanan yang diperlukan saat berangkat dari rumah menuju sekolah atau tempat kerja. Dan waktu perjalanan tersebut harus juga ditambahkan dengan waktu untuk menunggu datangnya bus di shelter serta kemacetan yang mungkin terjadi. Kompetensi minghitung ini akan mengurangi beban batinnya karena kesalahannya saat berusaha untuk menjadi orang baik-baik saja (normal).

Ketiga, Setelah menjadi orang sadar, maka perlu tahap berikutnya. Yaitu menjadi orang yang berkomitmen. Komitmen adalah tekad yang bulat untuk sebuah visi yang paripurna. Orang bervisi akan memiliki arah perjuangan yang sangat jelas. Orang semacam ini adalah orang-orang yang patut menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya. Setidaknya dalam hal kekukuhannya dalam memperjuangkan tujuannya.

Keempat, Dengan visi yang jelas, maka perjuangan harus dilandasi oleh pola dan tingkah laku yang memegang teguh dengan kejujuran.

Hanya dengan itulah, menurut saya, seseorang akan memperoleh harga yang pantas bagi dirinya dari lingkungan sekitarnya. Semoga itu ada pada kita semua. Amin.

Jakarta, 15 Maret 2011.

Tidak ada komentar: