Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Maret 2011

Ring Laga itu, Bernama Sekolah

Judul ini adalah cerminan dari apa yang saya asumsikan bahwa banyak diantara kita yang menjadikan putra atau putrinya adalah sebagai para petarung (yang sangat mungkin juga petinju), yang harus memenangi laga. Dalam bingkai sekolah, maka laga pertarungannya adalah ulangan atau tes atau ujian.


Dalam artikel ini, yang saya metaporakan sebagai ring laga dalam pertandingan tinju, yang menjadi lokasi bagi pertatungan untuk menjadi pemenang adalah sekolah. Sedang siswanya saya metaporakan sebagai petinju. Maka dimana posisi orangtua siswa dan guru di dalam metapora saya ini? Orangtua siswa akan berperan sebagai pelatihnya para pentinju. Sedang guru berperan sebagai juri yang menentukan petarung mana yang keluar sebagai juara.

Sebagai petarung yang memiliki target dan memegang misi untuk memenangkan 'pertandingan',  maka diperlukan persiapan yang tidak saja keras, tetapi juga cerdas. Keras dalam arti mendapatkan porsi atau beban latihan, yang dalam hal ini adalah  belajar.  yang harus berada pada posisi di atas rata-rata siswa yang berada dalam kelasnya. Sedang cerdas berarti dalam melakukan latihan dan balajar tersebut dengan menggunakan strategi untuk mencapai hasil yang jauh lebih optimal dan maksimal.

Termasuk juga persiapan yang cerdas adalah melihat atau bahkan mengintip kekuatan lawan. Ini sebagai pembanding agar petarung kita bisa kita petakan. Dengan pemetaan ini, nantinya kita dapat membuat evaluasi akan apa yang telah dan harus kita siapkan. Dalam bagian ini pelatih atau otangtua siswa harus benar-benar paham akan prediksi hasil dari ikhtirar siswa. Apa bentuknya persiapannya? Memberikan tambahan waktu belajar seperti les atau berbagai bentuk pendalaman materi lainnya.

Dan guru yang berdiri pada posisi wasit, akan membuat parameter yang dapat serta mampu sebagai pembeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Parameter itu yang kita namai dengan tes atau evaluasi, yang dilakukan secara reguler. Baik dalam bentuk harian, semester, dan juga ujian akhir.

Lalu bagaimana proses 'pertarungan'  itu berlangsung? Di sekolah guru sudah menyiapkan serangkaian alat tes yang harus diselesaiian siswa. Hasil kerja siswa tersebut akan menjadi catatan prestasi setiap siswa yang kemudian menjadi angka hasil belajar siswa, yang akan menjadi penentu berhasil dan gagalnya seorang siswa di tingkat belajar yang dilaluinya. 

Interaksi guru-siswa dalam ranah seperti ini menjadi kering dan formal. Interaksi yang didasari oleh kerena kewajiban untuk kelengkapan administrasi. Padahal, apa yang mereka sedang kejar itu tidak lain hanyalah baru kognitif tingkat rendah. Yaitu kemampuan kognitif pada aspek mengingat, memahami, dan mengaplikasi.

Itulah ring laga dalam sebuah pertandingan yang merupakan arti sempit dari sebuah praktek sekolah kita (?). Saya berharap sangat, bahwa sekolah dimana kita berkiprah di dalamnya bukan sekolah yang hanya mengejar kompetensi akademik tingkat rendah. Akan tetapi sekolah yang menjadikan lahan bagi bersemainya karakter cerdas dan beriman. Amin.

Jakarta, 12-19  Maret 2011

Tidak ada komentar: