Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

13 Maret 2011

Pintar Saat Mengerjakan Ulangan

Pintar pada saat mengerjakan ulangan atau evaluasi atau tes atau ujian adalah sebuah  bagian dari proses belajar yang berhasil. Dengan demikian, Maka pintar disini kita dapat maknai sebagai memperoleh nilai atau angka yang optimal dari sebuah ulangan atau evaluasi atau tes atau ujian. Dan dari kaca mata ketuntasan belajar, perolehan hasil dari siswa pintar tersebut adalah bentuk keberhasilan sehingga yang bersangkutan dapat  melanjutkan pada proses belajar pada tahap berikutnya.


Namun yang menjadi pertanyaan saya sebagai anggota masyarakat, benarkah pintar yang seperti itu saja yang kita maksudkan ketika anak kita berangkat ke sekolah? Yaitu apakah kepintaran yang kita maksudkan hanyalah kepintaran sebagaimana yang  terlihat dari angka atau nilai dari hasil ulangan atau ujian saja? Bukankah kepintaran yang dimaksudkan hanyalah mencakup pada kompetensi kognitif? Dimana kepintaran seperti itu dinamakan pula sebagai pintar akademik? 

Apakah anak kita yang sopan, memiliki adab baik, komunikatif, pekerja kelompok, penuh komitmen kepada tugas yang diberikan, juga masuk dalam soal-soal ulangan yang dikerjakannya ketika sebuah bab pelajarannya habis atau selesai?

Pentingnya Pintar Saat Mengerjakan Ulangan

Dalam ulangan yang dilaksanakan guru di sekolah, yang menggunakan bentuk tes obyektif, hampir dipastikan hanya menyangkut perkara kompetensi kognitif/akademik. Ranah yang berada di luar dari itu, tidak menjadi bagian yang inheren dari pintarnya pada saat mengerjakan ulangan. Karena ranah ini belum menjadi bagian penting dari sebuah hasil belajar. Mungkin juga bukan karena penting atau tidanya, tetapi karena tolok ukurnya yang subyektif? Allahua'lam.

Oleh karenanya maka pintar saat mengerjakan ulangan menjadi sangat dominan  kedudukannya di sekolah kita. Tidak saja pada ranah belajar tuntas namun juga karena hasil itu akan menentukan pilihan anak kita pada jenjang pendidikan atau tingkat sekolah selanjutnya yang lebih tinggi. Ini yang berlaku untuk mereka yang lulus di Sekolah Dasar untuk yang akan masuk ke SMP dan lulus Sekolah Menengah Pertama untuk yang akan masuk SMA. Dan tampaknya belum untuk mereka yang lulus di Sekolah Menengah Atas yang akan masuk perguruan tinggi. Mengingat untuk lulusan SMA harus berjuang lagi dengan SNMPTN.

Lalu hanya itukah sehingga pintar pada saat mengerjakan ulangan dipandang begitu penting? Tidak. Masih ada jenjang yang menentukan selanjutnya. Yaitu saat para sarjana itu memasuki dunia kerja. Terutama bagi mereka yang menginginkan menjadi pegawai. Kantor dimana yang akan merekrut mereka akan terlebih dahulu menyeleksi kepandaian mereka dalam bentuk jumlah angka yang berhasil mereka kumpulkan dalam bentuk IPK dan juga lembaga atau Universitas yang mengeluarkannya.

Dua hal penting itulah yang akan membawa mereka yang pintar pada saat mengerjakan ulangan itu memiliki kemungkinan untuk 'proses' selanjutnya di kantor yang memanggilnya sebagai kandidat pegawai. Proses selanjutnya setelah dua hal tersebut lolos, yaitu nilai atau angka dan lembaga yang mengeluarkannya hanya akan menjadi syarat administrasi, adalah tahapan interviu yang akan menggali kompetensi kandidat diluar kepintaran akademisnya.

Terlebih setelah para lulusan itu menjadi pegawai, maka kepintarannya pada saat mengerjakan ulangan telah tamat dan dilupakan. Keberhasilan berikutnya akan ditentukan oleh holistisitas dirinya. Visinya dalam melihat ke depan, komitmen dan konsistennya dalam menjalankan amanah dan tugas yang dibebankannya, kemampuannya dalam bekerja berkelompok, keberaniannya dalam mengambil resiko, serta caranya berkomunikasi.

Dengan melihat perjalanan si pintar pada saat mengerjakan ulangan tersebut memasuki usia dunia kerja, sekali lagi kita akan bisa melihat betapa terdapat jarak terpisah antara kompetensi akademik yang dibelajarkan di sekolah, yang memakan waktu panjang dengan kesiapannya dalam  'menyiapkan diri' memasuki dunia kerja. Jarak yang tidak sempit itu mengingatkan kita bahwa kita  lupa membekali si pintar pada saat mengerjakan ulangan tersebut untuk sukses mengemban kewajibannya di dalam mengarungi dunia kerjanya. Apa lagi hingga si pintar itu menuju dan mengarah pada akhir yang baik, kepada khusnul khatimah.

Dan jika melihat kenyataan ini, masihkah kita ngotot agar anak kita hanya menjadi generasi yang pintar hanya pada saat mengerjakan ulangan saja? Semoga tidak. Amin.

Jakarta, 13 Maret 2011.

Tidak ada komentar: