Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 Maret 2011

Berbagi SHU Di Koperasi Al Ikhlas

Sabtu tanggal 19 Maret 2011 lalu, menjadi hari yang membahagiakan bagi warga di Sekolah Islam Al Ikhlas, Cilandak, Jakarta Selatan. Pasalnya, mereka yang terdiri dari guru, karyawan, Yayasan, dan warga lainnya yang menjadi anggota dari Koperasi Maslahat Ummat I atau Kopmuma I Masjid Al Ikhlas hadir dalam acara Rapat Anggota Tahunan. Sebuah kegiatan koperasi yang selalu ditunggu oleh para anggotanya. Wajar saja jika ruangan yang terisi penuh itu menjadi meriah sepanjang kegiatan dan sesi rapat berlangsung pada hari itu. Karena selain akan membagikan sisa hasil usaha koperasi tahun buku 2010 sebesar Rp 273, 5 juta untuk 174 anggotanya, kegiatan RAT ini juga adalah untuk melakukan pemilihan pengurus koperasi masa bakti 2011-2012.


Uang SHU yang dibagikan kepada anggota koperasi pada hari itu merupakan 60 persen dari total keuntungan koperasi tahun 2010 yang berupa SHU. Angka yang membuat seluruh peserta RAT gembira dan bahagia serta bersyukur.

Koperasi yang semula lahir mulai dari unit usaha simpan ini pada tahun 1995 yang lalu, kini menjadi besar dan mampu memberikan keuntungan bagi para anggotanya secara signifikan. Sebuah unit ekonomi bagi mereka yang menjadi angotanya untuk tidak lagi tertarik dengan KTA, kredit tanpa jaminan. Bahkan hingga beberapa anggotanya membeli sebidang tanah atau sebuah rumah, juga sepeda motor!

Beda Cara Pandang 

Dalam sesi-sesi yang saya ikuti selama rapat berlangsung, banyak pihak menyampaikan pendapat. Selain tentunya, pengurus koperasi periode 2008-2010 yang diketuai oleh Bapak Datum Hadi Saputro, yang kebetulan juga adalah Kepala Bagian Sarpras di Sekolah Islam Al Ikhlas. Sebagai salah satu dari peserta rapat, saya dapat  menangkap adanya perbedaan cara pandang antara pengurus koperasi dan beberapa anggotanya dalam melihat suatu fakta yang terjadi. Misalnya saja seperti yang disampaikan oleh seorang anggota pada sesi tanya jawab. 

Misalnya; Anggota yang bertanya tentang perbedaan perolehan SHU diantara mereka. Dimana ada yang mendapat SHU nyaris 3 kali lipat dengan apa yang didapatnya? Darimana menghitungnya? Bukankah mereka sama-sama sebagai karyawan dengan take home pay yang relatif sama? Pertanyaan sederhana dan dari cara berpikir yang sederhana pula. Namun justru pertanyaan seperti ini yang bila dipahami oleh seluruh anggota koperasi akan menjadi modal yang dahsyat dalam pengembangan koperasi selanjutnya.

Dan terhadap fakta seperti ini, pengurus menjelaskan bagaimana menghitung SHU setiap anggotanya. Dimana disimpulkan bahwa semakin besar kontribusi seorang anggota koperasi kepada keuntungan koperasi, maka semakin besar pula prosentasi pembagian SHU untuknya. Lalu, bagaimana dan apa bentuk kontribusi anggota itu? Yaitu rajin melakukan peminjaman uang dan tentunya rajin pula melunasinya. Serta rajin juga membeli barang dengan cara mencicilnya, juga melakukan pembelian kebutuhan sehari-hari di warung koperasi untuk kebutuhan keluarganya.

Tentang pertanyaan ketidakadilan dalam pencairan peminjaman yang juga menjadi pertanyaan anggotanya, pengurus koperasi menjelaskan bahwa dalam merealisasikan peminjaman anggota, pengurus juga melihat pendapatan peminjam. Jangan sampai terjadi jumlah pendapatan peminjam sudah habis dipotong karena peminjaman terdahulu yang belum lunas. 

Saya melihat betapa sulitnya pengurus menjelaskan secara transparan berkenaan dengan hal-hal sensitif semacam ini. Anggota mempertanyakan seolah-olah telah terjadi ketidakadilan, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah sudah begitu banyaknya tanggungan peminjaman anggota yang bermaksud mengajukan peminjaman lagi.

Namun dari apa yang saya ikuti sepanjang berlangsungnya RAT tersebut, saya turut berbahagia sekali. Saya teringat dengan komentar teman anggota di sekitar awal tahun 1995 yang mempertanyakan apa manfaat koperasi? Itu dikemukakan ketika koperasi tersebut masih menjadi koperasi simpan pinjam dan dengan modal yang kecil. Lalu karena merasa tidak ada manfaatnya, maka anggota tersebut mengundurkan diri dari keanggotaannya. Dan keadaan berbalik ketika pihak Yayasan merestui berdirinya koperasi yang diprakarsai oleh Bapak Suratno, S.Sos. di sekitar April 1995. Yang dengan restu itu, maka paket buku sekolah menjadi tanggung jawab koperasi. Juga akhirnya semua yang koperasi mampu lakukan.

Dan terhadap anggota yang pernah mengundurkan diri itu, saya sempat menunda keanggotaanya kembali beberapa waktu, sebagai bagian dari pelajaran baginya dan bagi saya sendiri, sebelum saya benar-benar mengundurkan diri jadi pengurus koperasi karena memutasikan diri ke institusi lain di Tangerang, Banten. 

Sekarang, dengan selalu mengucap kesyukuran, saya melihat apa yang terjadi pada RAT hari itu, adalah sesuatu yang membanggakan dan membahagiakan. Untuk dan atas SHU saya yang paling tinggi dalam RAT itu, saya mengucapkan terima kasih kepada pengurus koperasi periode 2008-2010. Dan ucapan selamat kepada ketua koperasi terpilih untuk periode 2011-2012.

Jakarta, 20 Maret 2011.

Tidak ada komentar: