Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 Maret 2011

Remaja itu, Dina Namanya

Dina. Ya, inilah nama buatan saya dalam artikel ini. Remaja yang saya kagumi, seperti bagaimana saya mengagumi anak-anak saya sendiri di rumah. Remaja yang 'tahu diri', yaitu yang jujur terhadap kondisi dan keadaan lingkungan terdekatnya. Remaja yang tabah, yaitu remaja yang tidak menyalahkan orang lain atau lingkungannya. Remaja yang tidak mudah atau cepat menyerah serta putus asa. Remaja yang tetap remaja, yaitu yang bergairah dalam 'menikmati' usia remaja dengan berbagai pandangan serta tindakan yang positif.

Remaja yang menjadi siswa saya. Yang harus saya sembunyikan jati dirinya yang asli., agar tetap dapat menatap dunia dengan pandangan yang penuh harapan. Namun saya dan Anda dapat mengambil manfaatnya dari sana. Adalah remaja yang sejak duduk dibangku SD sudah harus mengalani keprihatinan hidup.

Keprihatinan yang lahir akibat harus tinggal bersama Ibu tirinya. Meski tidak sedikitpun ia bercerita tentang kehidupannya yang kurang nyaman dengan Ibu Tiri. Juga tentang apa saja yang menyakitkannya kepada kami gurunya.
Dia yang sebelumnya besar dalam suasana keluarga berkecukupan yang tinggal di daerah elit di Jakarta dan juga rumah peristirahatan yang luas dan sejuk di Puncak, namun harus beradaptasi untuk pergi dan pulang sekolah dengan naik transjakarta. Kondisi itu dialaminya sejak ayah dan ibunya berpisah, Dan sekarang harus tinggal bersama ayah dan Bunda tirinya. Dan kemudian ambruknya denyut ekonomi sang ayah. Ia mengalaminya bersama dengan kakak kandungnya sebelum akhirnya sang kakak memilih untuk tinggal bersama Ibu kandungnya.

  • Mengapa kamu memilih tinggal bersama ayah Dan bukan bersma Ibu? Tanya guru BK suatu kali.
  • Saya harus menemani ayah. Karena sayalah yang bisa menjaga ayah. Jawabnya tegas penuh keyakinan. Jawaban yang membuat kami yang mendengar tergagap tidak percaya meski bangga.

Pertanyaan ini lahir karena sejak masuk di bangku sekolah menengah atau bahkan sebelumnya, anak ini selalu mengalami kesulitan untuk membayar uang sekolah secara tepat waktu. Dan untuk mengatasinya, maka sekolah selalu berkomunikasi dengan Ibu kandungnya.
Bagaimana ayahnya sehingga harus ibunya yang menyelesaikan masalah pembayaran? Seperti saya jelaskan diatas, ayahnya mengalami kesulitan ekonomi pada tahap yang akut. Meski surat sekolah sudah sampai di tangan sang ayah.

Kondisi seperti inilah yang berkontribusi hebat untuknya sebagai anak. Dia sendiri justru faham bagaimana bunyi surat sekolah untuk ayahnya itu, meski amplop surat tersebut disampaikan kepada ayah dengan tetap tertutup rapi. Dan dia menyadari mengapa sekolah berkirim surat kepada ayahnya, karena selama ini memang tidak ada pembayatan yang dilakukan ayahnya. Di saat seperti itu ia akan langsung bertanya kepada guru BK, apa yang harus dia lakukan berkenaan degan surat tagihan itu?

Itulah Dina, remaja yang mengagumkan bagi saya. Karena mampu menjadi dirinya yang tetap komit menjadi remaja baik, ditengah badai keluarga yang tidak ringan.

Jakarta, 19-21 Maret 2011.

Tidak ada komentar: