Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Maret 2011

Siaran Langsung Penjinaan Bom

Ketika Jepang dilanda gempa bumi dahsyat yang kemudian disusul dengan gelombang tsunami yang juga luar biasa dahsyat, kita yang ada di luar Jepang dapat melihat momentum itu secara langsung di layar tv. Ini adalah sebuah peristiwa yang mengagumkan sekaligus memilukan. Peristiwa ini kita dapat lihat di tv lokal kita pada Jumat, 11 Maret 2011.

Mengagumkan, karena kehebatan bangsa ini dalam memprediksi tsunami yang akan datang serta evakuasi kehidupannya. Lebih hebat lagi ketika bangsa ini menghadapi bencana yang terjadi dengan penuh kakuatan mental dan kedewasaannya. Dalam derita karena kekurangan posokan air bersih, para penduduk tetap sabar antri dan tidak terjadi penjarahan. Inilah bangsa yang kembali mengagumkan dunia. (Kompas, 16 Maret 2011). Memilukan, karena bencana yang menimpa negeri sakura itu memang benar-benar luar biasa dahsyat.

Apa yang ditunjukkan bangsa Jepang di halaman peradaban kita sekarang ini adalah bentuk konkrit daripada hasil pembelajaran bangsa itu. Sebuah pembelajaran yang menghasilkan manusia beradab, tangguh, dan teguh. Setidaknya itu yang dapat saya nilai.

Berbeda dengan siaran langsung peristiwa tsunami Jepang, pagi ini, Kamis tanggal 17 Maret 2011, meski terlambat karena peristiwa sesungguhnya terjadi pada Selasa tanggal 15 Maret 2011, saya sempat menyaksikan siaran langsung yang juga tidak kalah dahsyatnya di layar televisi kita. Bukan tentang kemenangan Real Madrid 3:0 melawan Lyon dalam laga Eropa, tetapi tentang bagaimana keberanian aparat kita dalam menjinakkan bom.

Dalam dua peristiwa yang merupakan siaran langsung tersebut, sangat mudah bagi kita untuk dapat menarik pelajarannya. Tentu yang berkenaan dengan hasil belajar kita. Dan ketika benang merah dari hikmah peristiwa tersebut dapat kita ambil, marilah kita sebagai guru menuangkannya dalam proses belajar di kelas bagi peserta didik kita.

Cita-citakan kepada mereka sebuah generasi yang cerdas, tangguh, etos kerja tinggi, serta berakhlakul karimah. Sebuah generasi yang tidak mudah dimakan gosip dan hoax. Semoga.

Jakarta, 17 Maret 2011.

Tidak ada komentar: