Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 January 2009

Menjadi Kreatif

Pak, apakah mungkin dalam keterbatasan yang dimiliki oleh seorang guru dewasa ini mampu menjadikan dirinya kreatif? Itulah pertanyaan yang diajukan seorang wartawan dari salah satu koran kepada penulis dalam sebuah seminar di Istora Senayan Sabtu, 5 Maret 2005 lalu. Karena seperti kita maklumi bersama bahwa kenyataan secara nasional di lapangan, sosok seorang guru adalah kurangnya jaminan kesejahteraan. Hal inilah yang menyebabkan mereka harus jungkir balik berakrobat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarganya. Dan ini pulalah yang menjadi argumentasi atau landasan bagi terbitnya pertanyaan di atas. Mungkinkah sosok guru seperti itu dapat melahirkan karya-karya yang optimal, penuh semangat dan kreatif? Kalau tidak mungkin, maka wajarlah bila guru menjadi kurang memiliki komitmen penuh dan optimal dalam melaksanakan amanah keguruannya di depan kelas. Untuk itulah maka meningkatkan kesejahteraan guru adalah langkah paling mendesak yang harus dilakukan oleh petinggi negeri ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis mengungkapkan beberapa hal sebagai ilustrasi tentang dunia keguruan.

Pertama adalah kenyataan yang harus diakui bahwa kesejahteraan guru di Indonesia, secara umum, masih kalah dibanding kesejahteraan profesi lain. Ini adalah fakta. Lalu bagaimana kita sebagai guru mensikapi fakta ini? Dapatkah kita mengharapkan pihak lain, seperti pemerintah atau lembaga atau yayasan dimana kita bekerja memenuhi tuntutatan kita untuk mensejarterakan kita. Apakah bila kita melakukan tuntutan tersebut tidak berdampak kepada pekerjaan kita sendiri? Lalu kalai tidak bisa apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi fakta ini? Haruskah melakukan demonstrasi atau mogok mengajar agar pihak yang mempekerjakan kita memenuhi tuntutat?

Stephen R Covey, menjelaskan bahwa apa yang menjadi fakta sebagaimana penulis tuturkan di atas adalah sebagai lingkaran pengaruh tak langsung, yang selalu ada dimanapun kita bekerja dengan profesi apapun. Sebagai lingkaran pengaruh tak langsung, kita sebagai personal, tidak dapat melakukan perubahan secara langsung.

Kedua, bahwa seseorang menempuh jalur pendidikan keguruan dan kemudian menjadi seorang guru adalah menjadi pilihan masing-masing pribadi. Tidak ada satu lembaga pun, baik pemerintah atau swasta, yang memaksakan kehendaknya agar kita menjadi guru atau agar bekerja di lembaganya. Semua adalah pilihan. Sebagai pilihan, maka setiap pribadi berhak untuk mengatakan ya atau tidak sebelum pilihan dijatuhkan. Tetapi setelah pilihan diputuskan, maka seseorang tersebut memiliki konsekuensi. Inilah yang oleh Covey sebutkan sebagai lingkaran pengaruh langsung. Dimana setiap pribadi dapat secara langsung menentukan dirinya sendiri tanpa pengaruh orang diluar dirinya.

Dengan melihat hal tersebut, maka sangat tidak adil bilamana seseorang yang dengan kesadaran dan ketulusannya, dikemudian hari menuding lembaga atau orang lain yang bersalah tentang pilihan yang telah dijatuhkan sendiri. Menurut penulis ini justru adalah bentuk kezaliman walau kadarnya tidak parah.

Ketiga, Allah SWT mendeklarasikan bahwa setiap umat berhak memasuki surganya sebagai konsekuensi dari apa yang telah diamalkan didunia sesuai dengan ’panduan’ yang telah diberikan melalui utusan-Nya. Dan bahwa surga bukan hanya milik golongan tertentu, semisal golongan agnia, karena itu adalah bukan sifat Allah. Dengan logika yang sama, kita pun mestinya memiiki hak yang sama untuk mejadi apapun yang kita inginkan.

Artinya menjadi mungkin bila setiap kita dapat menjadi kreatif tanpa menunggu menjadi sejahtera lebih dulu. Atau dengan kata lain menjadi kreatif tidak dapat diukur dari tingkat kesejahteraan yang telah dinikmati. Sehingga sangat tidak beralasan bila kita sebagai guru yang tidak atau yang belum kreatif atau belum mengembangkan potensinya secara maksimal, misalnya, karena disebabkan oleh pihak lain yang tidak memberikan kesejahteraan pada kita? Demikian pula sebaliknya, adakah jaminan bahwa dengan sejahtera akan menjadi kreatif? Jika demikian yang kita lakukan, maka dapatkah kita dikatakan telah berlaku adil pada diri kita sendiri?

Keempat, dalam jaman seperti sekarang ini, dimana perkembangan sekolah demikian cepatnya, maka guru yang kreatif, akan memiliki peluang lebih dibanding dengan guru yang lain. Tentu bila ukurannya adalah kompetisi sosial. Sebagaimana kita ketahui bersama, dengan perkembangan sekolah-sekolah swasta yang baru yang mengusung model belajar yang lebih memberdayakan, dimana melihat siswa secara holistik, adalah sekolah-sekolah yang membutuhkan guru-guru berkualitas. Dengan demikian maka bila para guru kreatif tersebut, kreativitasnya menjadi terbelenggu oleh otmosfer yang ada dimana ia mengabdikan kompetensinya, maka masih terbuka pintu pihak atau lembaga lain bagi dirinya. Dan biasanya kesejahteraan berjalan seiring.

Melihat dari kenyataan-kenyataan seperti yang penulis ungkapkan di atas, maka sangat tidak masuk akal bila menyalahkan kesejahteraan atau pihak lain, sebagai penyebab tidak lahirnya kreativitas atau tidak tergalinya potensi diri. Untuk itu kepada semua teman guru agar menjadikan potensi yang dimilikinya terus menerus dikembangkan melalui berbagai sarana dan wahana yang ada. Dan agar tidak menyalahkan pihak lain sebagai terdakwa dalam karier kita ...

(Sumber: PELITA, 19 April 2005)

3 comments:

Unknown said...

Alhamdulillah..masih bisa reuni dg si pembelajar ,beliau guru saya,bahasanya yang lugas dan khas sangat mudah di mengerti,kenyataan di lapangan masih jauh dari harapan tentang kreativitas guru ini ,dapat saya ambil contoh setiap Kepala sekolah mempunyai harapan pada inovasi pembelajaran di kelas,pada saat pembinaan kepala sekolah berlaku untuk seluruh guru namun pada implementasi pembelajaran di kelas bisa di bilang hanya sepuluh persen yang mengeluarkan potensi kreativitasnya pada pengembangan pembelajaran di kelas, saat supervisi ke kelas guru yang kreatif dapat mengimplementasikan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika pada bilangan cacah yang sangat menyenangkan bagi siswa,karena bahan-bahan yang di siapkan siswa dengan menggunting kertas warna warni di sesuaikan dengan apa yang di alami siswa dengan kehidupan se hari-harinya,konsep matematika akan berhasil bila di pelajari dalam tahap-tahap yang menyenangkan dapat di mulai dengan games,free play,searching for communities,symbolization,formalization,semua permainan yang bersifat pendekatan kontekstual siswa lebih banyak belajar dari pada apa yang bisa di muat di buku,siswa dapat memahami tentang hubungan bagian-bagian matematika,sekaligus belajar menganalisa,menarik kesimpulan,belajar mempunyai sikap kebiasaan berpikir logis,kritis,sistematik,bekerja cermat serta tekun dan bertangaggung jawab,ini semua sangat tergantung pada fasilitatornya yaitu guru ,sebenarnya kreatifitas guru ini dapat di bangun dari motivasi diri bermula ingin berubah menjadi yang lebih baik dari hari ini..

Unknown said...

guru sebgai pilihan

Unknown said...

guru sebgai pilihan:menjadi kreatif