Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Februari 2016

Seragam Saya basah

Benar sekali apa yang menjadi prakiraan cuaca hari ini, Rabu, 17 Februari 2016, bahwa wilayah Jabodetabek diguyur hujan. Maka ketika keluar rumah dengan sepeda motor pagi ini setelah 30 menit azan Subuh, titik-titik hujan itu mulai menetes di bagian lengan saya. Hingga akhirnya hujan itu benar-benar deras sebelum saya sampai di kantor. Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 ketika hujan itu benar-benar turus dengan lebat. Maka perjalanan selanjutnya menuju kantor saya menggunakan bajaj. 

Rupanya belum lengkap apa yang telah saya jalani ketika dari rumah menuju kantor. Ini terjadi ketika di kantor pada pukul 06.00, listrik ternyata tidak menyala sejak kemarin malam. Dan tidak ada yang mampu menangani listrik yang mati ini selain teknisi yang biasanya sampai sekolah pukul 07.00. Tidak pilihan bagi saya dan beberapa anak selain duduk di hall sekolah sambil ngobrol.

"Malu Pak saya. Seragam saya basah." Begitu ujar seorang guru di koridor sekolah. Saat itu  pukul 07.30. Dan saya baru saja akan masuk ruangan kantor setelah sebelumnya berputar-putar seputar sekolah, termasuk melihat anak-anak kelas VI yang sedang bersiap untuk melakukan Try Out di lantai 3.

"Iya Pak basah karena hujan sejak dari rumah." Lanjut Ibu guru itu seolah meminta perhatian saya sekali lagi. Dan saya memang tidak memberikan respon kalimat sedikitpun. Bukan tanpa alasan sehingga saya berbuat demikian. Ini karena saya benar-benar bingung untuk mengatakan apa atas laporan atau lebih tepatnya keluhan Ibu Guru tersebut. Dan karena bingung untuk menemukan kata atau kalimat yang tepat, maka saya hanya tersenyum.

Dan bersyukur, bahwa itu adalah kalimatnya yang terakhir sebelum akhirnya Ibu Guru itu melanjutkan langkahnya menuju lokasi dimana anak-anak kelasnya menanti di sebuah ruangan di ujung koridor. 

Dalam ruangan, saya berpikir dan mencoba membuat berapa kalimat. Apakah mungkin Ibu Guru itu tidak menyadari bahwa ia berangkat dari rumahnya yang berjarak hanya 7 ribu rupiah jika harus naik bajaj dari sekolah memang sudah terlambat? Lalu, mengapa ia melaporkan bahwa seragamnya basah?

Apakah Ibu Guru itu tidak berpikir kalau orang yang dilaporinya sudah harus keluar dari rumah pada saat beberapa menit selepas azan subuh? Sehingga kalau demikian maka jika ditimpa hujan lebih berhak untuk mengatakan dan melaporkan basah?

Apakah juga tidak terpikir olehnya kalau ada temannya yang di tinggal di wilayah Bekasi dengan mengendarai motor harus menyeberangkan motornya di wilayah Cakung yang tergenang ketika jam masih pukul setengah tujuh? Apakah ia tidak terpikir bahwa keluhannya itu sebenarnya membuktikan bahwa ia sesungguhnya telah berperilaku ego sentris, dimana tidak melihat orang tetapi hanya ber[usat kepada dirinya sendiri?

Hari ini, saya telah belajar bagaimana orang yang hanya mampu melihat dirinya sendiri. Padahal ia berada diantara orang lain dan orang banyak.

Jakarta, 17.02.2016.

Tidak ada komentar: