Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Februari 2016

Guru Honor, Teman Saya

Ketika ada yang harus berdemonstrasi di depan Istana Presiden beberapa waktu yang lalu, sebagaimana yang menjadi berita hangat koran dan media di Indonesia, maka teman saya tidak yang termasuk di dalamnya. Dia tidak pernah bercerita kepada saya bagaimana status ke-honorannya. Apakah dia masuk yang menjadi  K2 sebagaimana yang saya dapat berita atau belum, saya sungguh tidak tahu. Sekali lagi, ia tidak bercerita kepada saya berkenaan dengan statusnya.

Mungkin sebagai gambaran kita, perlu kiranya saya sampaikan disini bahwa guru honor teman saya itu berawal ketika sekolah negeri di Indonesia ditunjuk sebagai RSBI, atau Sekolah Rintisan Bersatandar Nasional. Dan pada masa itulah teman saya yang lulus dari Fakultas non kependidikan di sebuah  Universitas di Jakarta itu tertarik dan mendaftar sebagai guru honor. Sesuai dengan latar belakang pendidikannya, ia mengajar Matematika.

Sejak kala itu, saya melihatnya ia menikmati dengan profesinya itu. Karenanya tidak pernah mendengar bahwa teman saya akan beralih profesi. Artinya, ia telah nyaman berada pada lokasi seperti itu. Sebagai guru honor Mata Pelajaran Matematika yang berbahasa Inggris dengan kurikulum Cambridge. Dan yang menjadi guru di sekolah swasta, karena memang dari sananya memang sebagai Sarjana Pendidikan juga tidak pernah banyak cerita tentangnya.

Lalu bagaimana sekarang setelah Mahkamah Konstitusi membatalkan berlakukan sekolah dengan standar RSBI/SBI yang menelan biaya besar dari APBN itu? Teman saya yang guru honorer itu tetap nyenyak berada di lokasi kegiatan utamanya itu.

"Saya mengajar lebih kurang dalam satu semester itu 20 jam pelajaran setiap pekannya. Dan itu saya lakukan sesuai jadwal yang ada di sekolah dalam tiga hari. Maka dua hari yang tersisa saya sebagai guru piket." Begitu suatu hari ia bercerita kepada saya.

"Tidak tertarik menjadi guru dengan status swasta di sekolah swasta seperti sekolah saya? Dengan kemampuan bahasa dan kompetensi mengajar mungkin akan menjadi baik untuk masa depanmu jika memang bukan PNS yang menjadi tujuanmu?" Begitu saya mencoba membuka sisi yang  berbeda. 

"Sampai hari ini saya belum tertarik. Karena secara pendapatan saya lebih menikmati posisi sekarang sebagai guru honor." Jelasnya kepada saya.

"Memang status saya sebagai guru honor. Tetapi di luar tugas jam sekolah, dengan status itu saya banyak mendapatkan tambahan mengajar secara privat. Dan itu menambah pendapatan buat saya." Lanjutnya memberikan penjelas lebih detil. Saya diam. Dari kacakapanya, saya menemukan sebuah jalan hidup yang diyakininya. Jalan yang total berbeda dengan apa yang selama ini saya yakini sebagai guru yang swasta murni sejak awal mula sebagai guru hingga kini.

Dan cara memandang yang berbeda itu, membuat saya paham bahwa memang pendapatan yang teman saya kejar dalam mengajar selama ini. Bukan sesuatu yang salah. Tetapi hanya berbeda dengan apa yang saya yakini selama ini...

Jakarta, 19 Februari 2016.

Tidak ada komentar: