Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Januari 2016

Antara Citra dan Fakta

Saya dalam kondisi yang harus merenung ketika ada teman-teman yang sibuk bukan main di organisasi profesi, yang merupakan organisasi nir-laba, yang oleh karenanya posisinya di organisasi itu seharusnya juga tidak ada pendapatan tetap bulanan. Sementara pada waktu yang sama, teman-teman itu bergelantung kepada profesinya sebagai guru! Dan dengan profesinya itu maka ia mendapatkan pendapatan tetap bulanan yang akan selalu masuk dalam rekeningnya. Tetapi jika melihat betapa jadwal hariannya yang padat, maka keberadaannya justru banyak di media sosial dengan aktivitas organisasinya daripada di lokasi dimana ia menyandang profesi sebagai guru. Inilah renungan saya, yang membuat dan mendorong saya, untuk mencatatnya di halaman ini. Inilah pula yang saya sebut sebagai kontradiksi antara citra dan fakta.

Mengapa Citra?

"Wah hebat sekali dengan Pak itu ya. Hebat. Membuat saya kagum. Kalau berbicara di depan umum dengan audiens sebanyak aula ini kok percaya diri dan terlihat pintar. Bahagia sekali lembaga atau sekolah yang menjadi tempat mengabdinya sehari-hari. Pasti jadi guru hebat di kelasnya. Juga pasti ia seorang Kepala Sekolah yang menginspirasi teman-teman kerjanya di sekolahnya." Beginilah lebih kurang deskripsi kalimat yang disampaikan oleh peserta seminar ataui peserta sosialisasi atau kegiatan publik lainnya yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dimana ia menjadi motor penggeraknya. Sebuah komentar yang dahsyat dan membanggakan.

Sebuah pernyataan yang merupakan asumsi tentang sebuah citra diri. Dan alangkah positifnya brand image yang terbangun dari sebuah kinerja panggung. Inilah gambaran dimana teman saya mendapatkan pujian dari lingkunganya di suatu acara.

Juga ada lagi seorang peserta seminar yang ketika selesai sesi menemui teman saya dan mengajaknya bercengkerama; "Pak, bagus dengan apa yang Bapak sampaikan. Saya setuju sekali. Pak apakah bisa saya disuatu saat nanti mengajak teman-teman guru di sekolah saya untuk berkunjung ke sekolah dimana Bapak sehari-hari mengejawantahkan profesi Bapak? Apakah persyaratan yang harus kami penuhi untuk itu?" 

Bagaimana Faktanya?

"Bu Kepala Sekolah, Pak itu hari ini kemana ya Bu? Kami di kelas tidak ada yang mengajar." Lapor seorang siswa di ruang Kepala Sekolah. Ia mewakili teman-temannya mengkonfirmasi sekaligus memberikan informasi bahwa ada guru yang tidak ada di dalam kelasnya ketika harus mengajar.

Jakarta, 29 Januari 2016.

Tidak ada komentar: