Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Januari 2016

Belajar dari Teman, Sebuah Catatan Subyektif

Bertemu, berdiskusi tentang suatu hal hingga juga suatu saat harus bersama-sama memutuskan suatu hal, bersama-sama juga menjalankan serta memantau, memonitoring tentang suatu hal yang telah kita sepakati, hingga menemukan titik temu untuk melakukan hal yang lainnya, menjadikan saya memiliki wawasan yang mendalam tentang karakter teman. Setidaknya setelah 10 tahun ini saya bersama-sama dengan teman untuk menjalankan banyak hal. Dan ini membuat saya belajar tentang hal baik yang akhirnya dapat saya jadikan sebuah ukuran.

Ukuran dengan mempertimbangkan bagaimana teman menilai sesuatu  menambah perbendaharaan bagi saya. Selain itu juga karena setelah sekian lamanya saya berteman, maka ketika akan mendapat even yang baru, bagus juga buat saya untuk mempertimbangkan apakah saya tetap akan bersama teman itu atau memilih teman yang lain?

Sebagai gambaran saja ketika kami sama-sama harus membuat suatu keputusan yang berdampak kepada orang banyak yang ada disekitar kami, maka ada teman-teman yang selalu berpikir prediktif dan hati-hati. Dan karena teman-teman dengan kaca mata ini yang lebih dominan dibandingkan saya, maka dengan berat hati dan penuh kegeraman, saya yang ada di pihak minor, harus mengalah untuk bilang setuju. Meski saya juga tidak ketinggalan menyampaikan sebagaimana yang sering saya sampaikan kepada mereka bahwa prinsip saya adalah "Aku adalah bagaimana hambaKu berprasangka kepadaKU."

Meskipun ada diantara teman saya yang langsung kena terhadap apa yang saya maksudkan. Tetapi atas dorongan nafsunya, ia tetap mengatakan kepada saya, sebagai argumentasi atas pilihan keputusannya; "Tidak bisa begitu Mas, bagaimana manapun kita harus melihat kapital yang kita ada. Dan sikap ini bukan bertentangan terhadap apa yang Mas Agus sampaikan."

Atau dalam hal lain, misalnya, saat kami harus menyampaikan perpisahan kepada teman kami yang telah bertahun-tahun berada dalam barusan yang sama, maka saya mengusulkan agar kiranya kita menganut saja azaz yang berlaku dan lazim. Azaz yang memang memiliki legal dan formalnya di hadapan aturan.

Namun sekali lagi, teman-teman saya mengusulkan cara pandang yang berbeda untuk membuat keputusan tersebut? Bentuknya? Merumuskan aturan sendiri, yang kemudian dijadikan sebagai ukuran dan standar. Tentunya dengan menisbikan apa yang selama ini berlaku di masyarakat luas.

Pada saat itu saya langsung memberikan komentar pedas kepada dua iorang yang mewakili kami dalam membuat keputusan, yaitu komentar "Medit!". Dan saya sama sekali tidak ambil peduli dengan reaksi teman-teman yang lain. Ujungnya?

Ketika suatu saat ada ketidakpuasan dari teman kita yang lain dan ketidakpuasannya itu ia bawa ke ranah pemerintah, maka apa yang menjadi rujukan dalam pembuatan keputusan, yang dibuat teman-temannya itu sama sekali dimentahkan. Apa komentar saya ketika itu? Lebih pedas lagi. Dalam sebuah forum kecil, saya menyampaikan bahwa; "Buat aturan atas aturan yang telah pemerintah buat untuk mengambil sebuah keputusan menjadi sia-sia. Apakah kita menganggap bahwa apa yang telah ada itu tidak sempurna sehingga kita harus membuat aturan yang berbeda? Mengapa kita beranggapan bahwa seolah kita pintar?".

Mungkin itulah catatan saya pagi ini terhadap 10 tahun perjalanan saya bersama teman-teman. Sebuah catatan pribadi yang subyektif.

Jakarta, 15 Januari 2016.

Tidak ada komentar: