Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 Maret 2015

Proposal Transformasi

Suatu malam, disebuah ruang pertemuan, saya terlibat dialog dengan teman tentang bagaimana 'ruh' transformasi menjadi langkah awal yang tercermin dalam sebuah proposal kegiatan di sekolah. Pemikiran ini lahir ketika dalam setiap Permohonan Uang Muka atau PUM untuk sebuah kegiatan di sekolah mensyaratkan pembuatan proposal kegiatan yang dibuat oleh panitia kegiatan dan disetujui oleh Kepala Sekolah.

Akan tetapi, proposal kegiatan yang dibuat oleh panitia kegiatan yang berlangsung dari tahun ke tahun seperti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas dari kegiatan yang berlangsung. Ini bermakna juga bahwa kegiatan-kegiatan yang berlangsung dari tahun ke tahun di sekolah hanya merupakan kegiatan reguler. Sebuah rutinitas yang berulang.

Apa indikasi dari pernyataan tersebut? Bagi saya, indikasi yang paling mencolok adalah bahwa rencana kegiatan yang sudah tertuang dalam proposal yang dibuat panitia kegiatan, sudah memberikan gambaran akan seperti apa kegiatan tersebut berlangsung. Bahkan, sembari berkelakar, teman kepala sekolah saya itu berkata; "Gambaran hasil kegiatan yang akan dilaksanakan saya sudah tahu Pak. Padaha kegiatan baru akan berlangsung satu pekan yang akan datang" Katanya dengan percaya diri yang penuh.

"Apa kira-kira yang dapat ibu ambil contoh dari pernyataan Ibu seperti itu?" Tanya saya meminta konfirmasi dan penjelasan lebih lanjut. 

"Karena sejak rapat pertama panitia, dimana saya ada di dalamnya sebagai peserta, beberapa masukan untuk merubah format kegiatan yang disampaikan oleh anggota panitia tidak diakomodasi Pak. Bahkan ketua panitia memberikan statmen kalau mereka tidak perlu membuat kagiatan yang melibatkan anak-anak dengan format yang beda dan aneh-aneh. Itu hanya akan merepotkan." Kata Ibu Kepala Sekolah itu. 

"Pernyataan ketua panitia itu sudah cukup buat saya bahwa kegiatan akan berlangsung sebagaimana yang berlangsung tahun lalu. Tidak ada kemauan apa lagi keberanian untuk merubah." Lanjutnya lagi.

Apa yang menjadi penjelasan Ibu Kepala Sekolah itu cukup buat saya untuk melihat bahwa dalam langkah awal sebuah kegiatan, seperti misalnya pada saat diskusi perumusan pembuatan proposal dalam sebuah kegiatan, semangat transformasi sudah dapat memberikan harapan akan adanya sesuatu yang berbeda. 

"Jika ide-ide segar diakomodasi dan menjadi format kegiatan yang berbeda dengan tahun sebelumnya, maka itu sudah memberikan angin segar bagi sebuah semangat transformasi." Jelas Ibu Kepala Sekolah itu lebih lanjut. "Maka saya hadir di forum semacam itu untuk memastikan bahwa gagasan bagus meski akan membuat format kegiatan rutin berubah, akan menjadi perhatian saya Pak Agus. Dan saya membantu panitia tersebut merumuskan proposal kegiatan lama dengan format baru yang dapat menggambarkan bagaimana bentuk operasional dari konsep yang disampaikan." Katanya lagi.

Itulah yang mereka sebut sebagai proposal transformasi di sekolah mereka. Karena sejak curah gagasan hingga kegiatan usai dilaksanakan, seluruh personal yang ada di dalamnya berhak untuk memberikan kontribusi. Sehingga ketika kegiatan dimaksud terlaksana dengan baik, itu menjadi miliki mereka bersama. Maka tidak salah bila proposal kegiatan sekolah yang mereka sebut sebagai proposal transformasi tersebut menjadi wahana dalam mengembangkan kompetensi personel yang ada di dalamnya. 

Dan saya, sebagai bagian dalam dialog tersebut, memetik pelajaran baik bagi pengembangan kualitas guru dan karyawan di sekolah dimana saya berada di dalamnya. Semoga. 

Jakarta, 26 Maret 2015.

Tidak ada komentar: