Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Maret 2015

Benar-Benar 'Kesing'

Saya pernah menuliskan catatan dari dialog antara saya dengan tukang bajaj sepulang dari sebuah lokasi di Pondok Indah beberapa waktu lalu. Dan dalam dialog tersebut si tukang bajaj mengungkapkan pendapatnya bahwa dewasa ini kelakuan pengguna jalan telah sama saja. Dia sesungguhnya ingin menyatakan bahwa perilaku menyodok antrian saat kendaraan harus antri karena lampu lalu lintas atau karena galian kabel, bukan menjadi monopoli pengendara kendaraan plat kuning saja. Bahkan kendaraan plat hitam pun juga. Dan dilalahnya, pas kami sedang asyik bicara pada tema seperti itu, ada kendaraan 4 X 4 yang memotong antrian kami melalui bahu jalan. Jadilah komentar si tukang bajaj saya itu : "Tu kan Pak, baru saja saya selesai ngomong, Bapak sudah melihat buktinya kan? Jadi kelakukan plat kuning dan hitam kan sama saja. Yang embedakan kami hanya 'kesing'nya!".

Itu adalah catatan saya ketika berdiskusi dengan si tukang bajaj. Lalu bagaimana catatan saya yang lain yang senada dengan hal yang saya temui itu? Tidak lain adalah perilaku buruk, yaitu dengan nebeng untuk mendapat donasi dengan cara mengakali teman kerjasamanya, yang dilakukan secara berulang. Anehnya, orang yang saya kenal itu adalah sosok yang sehari-harinya tidak bisa naik kendaraan umum semacam taxi atau naik sepeda motor. Tetapi masih mengantar anaknya ke sekolah dengan kendaraan pribadi (?). 

Artinya, tidak akan mengira orang yang baru kenal dengannya memiliki pendapat bahwa orang tersebut layak untuk dikasihani. Karena apa yang dia kenakan dan lakukan dalam menjalani hidupnya layak masuk dalam kelompok super mapan. Tetapi saya dan teman-teman yang mendapat aduan akan sisi yang berbeda tentang orang tersebut, benar-benar geleng-geleng kepala dengan apa yang dilakukannya.

Bahwa ia harus berpindah armada angkutan yang satu ke armada angkutan lain karena apa yang orang tersebut lakukan dan komitmenkan benar-benar hanya omong kosong untuk durasi sekian bulan (?). Juga beberapa orang lain yang bertanya tentang keberadaan orang tersebut selama ini, sesuatu yang pasti saya tidak tahu menahu, karena sudah sekian ribu juta rupiah belum dikembalikannya (?). 

Dan atas kenyataan itu, saya benar-benar yakin bahwa 'kesing' telah menjadi topeng yang relatif sempurna bagi orang tertentu. 

Jakarta, 19 Maret 2015.

Tidak ada komentar: