Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Maret 2015

Bertanya tentang Praktek Sosial

Pada sebuah dialog di sekolah, ada teman guru yang mengeluhkan praktek kehidupan yang sepanjang hari berada di depan kamera sehingga mereka menjadi bagian yang selalu ada dan hadir di ruang tamu kita. " Itu adalah bagian pola dan sisi kehidupan yang lambat tapi pasti akan menjadi budaya peserta didik kita. Ini tidak lain karena kehidupan yang tersaji dalam sinetron fiksi serta berita realiti, adalah bagian dari kurikulum kehidupan." Demikianlah lebih kurang dari apa yang disampaikan.

Dan dengan apa yang disampaikan oleh teman itu, tidak ada yang saya sangkal kebenarannya. Karenanya, saya setuju. Bahwa realitas hidup yang anak didik kita, atau juga anak kita sendiri di rumah adalah bagian dari 'peserta didik' hal itu. Kita tidak akan dapat menghindar dari kenyataan itu sekalipun mengisolir diri.

Kenyataan tersebut sekaligus memberikan gambaran kepada kita sebagai orangtua di rumah dan guru di sekolah, bahwa tugas yang diemban dalam mendidik anak-anak adalah penuh tantangan. Untuk itu perlu  bagi kita semua tambahan semangat.

Karena hal-hal yang dikemukakan tersebut adalah apa yang benar berada di luar otoritas kita sebagai guru yang berada di sekolah dan di kelas. Dan akan menjadi penyakit bila kondisi yang berada di luar genggaman serta kuasa kita itu terus menerus menjadi rujukan ketidaksemangatan kita untuk berinteraksi secara positif kepada para peserta didik.

Terlebih lagi jika hal tersebut justru meracuni semangat yang terlanjur menipis. Maka akan membuat keyakinan yang menebal tentang eksistensi pembelajaran moral selama interaksi guru-siswa di sekolah. Dan pada titik inilah saya ingin mendorong diri saya untuk menjadikan apa yang berada dalam wilayah serta otoritas sebagai bagian utama bagi penegakan apa yang berada di luar tampak porak poranda.

Dan semangat serta dorongan untuk melaksanakan amanah itulah yang selalu menjadi bagian penting dalam memicu andrenalin. Pada ranah inilah saya ingin sekali mengejawantahkan apa yang teman-teman guru sebut sebagai 'praktek sosial' yang positif. Membangun mimpi akan lahirnya sebuah praktek sosial yang bebas teriakan, pencelaan, mempengaruhi untuk hanya satu pilihan, dan lain sebagainya yang bermuara kepada keburukan. Semoga. Amin.

Jakarta, 8-19.03.2015.

Tidak ada komentar: