Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 Maret 2015

Bersih dan Sekaligus Santun

Pagi ini, Sabtu, 21 Maret 2015, melalui berita on line saya disuguhi berbagai judul berita yang mengulas sosok pemimpin yang nampaknya  bersih dan tegas tetapi sering mengeluarkan kata kasar. Sebagiannya mungin ada yang memaknai bahwa kata-kata tersebut  bukan kasar, tetapi tegas. Apapun kata-kata yang terlanjut terucap itu telah masuk dalam ranah sosial, misalnya saja yang berada di saluran tivi, maka kita sebagai warga yang berada di depan tivi tentu akan tahu kata-kata yang dimaksud. Bahkan kita pun dapat menyimpan kata-kata yang terucap sekaligus bentuk ekspresi yang mengucapkanya dalam file. Karena semua itu sekarang ini memungkinkan untuk dilakukan.

Catatan saya ini bukan akan mencatan bagaimana dan seperti apa kata-kata pemimpin yang diindikasi bersih dan jujur serta tegas itu. Tetapi akan melihat bagaimana kita belajar dan menyerap apa yang ada di lingkungan sekitar kita sebagai sumber belajar. Dan kita yang saya maksudkan bukan saya saya dan Anda yang telah baligh usianya, tetapi semua kita yang dapat mengakses berita yang ada di udara kita masing-masing tanpa dibatasi usia dan jenjang pendidikan terakhirnya. 

Bahwa apa yang tertangkap oleh telinga dan mata, yang berasal dari lingkungan manapun itu telah masuk dalam kepala kita untuk dilakukan proses selanjutnya. Dan itulah yang oleh sebagian pendidik sebut sebagai kurikulum masyarakat. Yaitu kurikulum yang memberikan pengaruh kepada kita untuk sebagai wanaca saja, atau bahkan ada yang mengkloningnya. Menirunya untuk kemudian berlanjut sebagai perilaku. Maka lahirlah perilaku pongah. Jadi sudah bukan lagi sekedar pada tataran perilaku sombong atau angkuh saja, tetapi lebih dari itu, pongah. Sebuah kata yang pernah saya dengar dari Bapak Mantan Bupati Solok, dan Gubernur Sumatera Barat, serta juga mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia.

Santun

Atas dasar catatan sekelumit itulah saya justru sedang merindukan seorang pemimpin yang jujur atau bersih, juga tegas dan komitmen dalam apa yang pernah disampaikan kepada kami semua sebelum menjadi pemimpin, dimana langit pernah mencatatnya, namun sekaligus ia adalah sosok yang luar biasa santun.

Semoga.

Jakarta, 21-24 Maret 2015.

Tidak ada komentar: