Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 Maret 2015

Bicara tentang Konten yang tak Difahaminya

Kami datang di ruang rapat hanya lima menit sebelum jadwal rapat, sebagaimana undangan yang kami terima kemarin siangnya. Berdua. Saya mewakili pihak yang menjaga secara operasional sekolah. Dan seorang yang menjadi atasan saya di yayasan, dimana kalau dalam struktur organisasi adalah sebagai pengelola sekolah. Ruang rapat berada di sebuah gedung bertingkat-tingkat yang kalau dilihat dari luar terlihat mentereng. Sedikit berbeda dengan apa yang ada di dalamnya. Mulai dari toilet dan rupa-rupanya.

Jangan kaget. Karena apa yang saya lihat pada saat rapat terakhir itu, ruangan sudah relatif rapi. Sekat-sekat ruang kerja para karyawan terlihat dan tertata rapi. Meski di setiap meja kertas-kertas, nampaknya dokumen penting, masih menumpuk. Tetapi yang paling menonjol selain dari penataannya adalah lenyapnya bau rokok dari ruang rapat. Pendek kata, apa yang saya alami dalam ruangan tersebut masih belum sinergi 'wah' nya dengan tampilan gedung tersebut dari luar.

Rapat dimulai setelah 45 menit jadwal dalam surat undangan yang kami terima. Artinya terlambat. Sebagai orang yang berasal dari luar institusi, kami berdua menunggu dan hadapi saja apa yang akan berlangsung. Dan, antara lain, kami melihat dan menonton sekaligus bagaimana gaya bicara yang mendekati duplikasi sebagaimana gaya bicara pemimpin mereka ketika diwawancarai.

"Begini saja Pak Ketua Rapat, kalau memang lembaga ini sudah tidak bisa atau tidak sanggup mengelola aset yang kita punya, mungkin yang lain masih banyak yang mampu dan sanggup mengelolanya." Kata seorang peserta rapat dengan gaya bicara yang pintar.

"Begini Bapak dan Ibu semua, apa yang kita lakukan bersama Bapak-Bapak ini berlandaskan kepada nota kerjasama. Jadi kita harus melihat dengan cermat sumber hukum yang ada ini. Jadi bukan sanggup atau tidak sanggup." Pemimpin rapat mencoba menengahi.

Kami diam dan menunggu kesempatan yang akan diberikan untuk mengemukakan pendapat. Dan sementara kami menunggu kesempatan yang diberikan itu, saya mengambil pelajaran, jangan asal bicara kalau konten yang akan kita bicarakan kosong. 

Pendek kata, rapat itu berlangsung hingga 120 menit kemudian dengan pola bicara yang sebagiannya tidak sadar konten apa yang dibicarakan. Padahal orang-orang yang berada di ruang rapat tersebut sedang mengundang kami untuk diajaknya berdiskusi tentang apa yang seharusnya kami lakukan. dan mereka adalah representasi pemimpin mereka?

Jakarta, 20 Maret 2015.

Tidak ada komentar: