Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

08 November 2012

Anak 'Pintar' itu Mengaku Sakit Lagi

Hari itu, salah satu peserta didik kami kembali tidak masuk sekolah. Berita itu kami sampaikan kepada orangtuanya melalui SMS yang kita kirim kepada orangtuanya. Namun seorang temannya di dalam kelas memberikan kesimpulannya bahwa, anak itu tidak masuk karena orangtuanya yang kebetulan sedang berada di luar kota. Ini menjadi sebuah kesimpulan awal yang sangat berharga untuk kemudian kami tindak lanjuti menjadi sebuah analisa berikutnya dari ketidakhadirannya ke sekolah selama ini atau mungkin ke depannya. Sebuah teman awal yang menarik sekaligus menantang. Kami, sebagai guru, akan memperoleh pattern baru tentang perilaku anak didik kami.

Penemuan pola itulah yang menjadi perbincangan hangat kami, para gurunya untuk menelusuri informasi awal dari temannya itu. Sebenarnya, pola seperti ini juga telah telah kami dapatkan dari seorang siswa kami yang telah lulus tahun kemarin. Anak itu selalu beralasan sakit untuk tidak masuk sekolah persis ketika ayahnya tidak ada di rumah. 

Dari penelusuran tersebut, benar kami ketahui bahwa fenomena yang disampaikan di awal itu adalah benar. Namun pertanyaan kami berikutnya adalah; mengapa anak itu mengaku sakit atau tidak masuk sekolah? Apakah pergi ke sekolah untuk bertemu guru dan teman-temannya tidak menarik baginya? Pertanyaan ringan yang membutuhkan kelogowoan kami sebagai guru untuk menemukan jawabannya.

Dari diskusi kami atas fenomena menarik ini, dan dari data serta fakta yang ada, maka membuat sedikit kesimpulan sebagai berikut: Pertama; Kami meyakini bahwa anak yang memiliki pola 'sakit' atau 'malas' sehingga memilih tidak masuk sekolah ketika orangtua yang dianggapnya sebagai kontroler sedang tidak berada di rumah, adalah tipe anak-anak yang memiliki kecerdasan jauh berada di atas rata-rata. Merdeka menggunakan kecerdasannya itu antara lain untuk mengelabuhi diri dan orang-orang terdekatnya, termasuk gurunya.

Kedua; Harus kami akui bersama bahwa sekolah belum menjadi lokasi yang menarik bagi mereka yang memiliki 'kecerdasan' sebagaimana anak tersebut. Mungkin sekolah masih sangat membosankan baginya. Ini juga masukan berharga bagi kami para gurunya. Mungkin karena pembelajaran kami yang tidak atau kurang menantang model anak-anak tersebut.

Karena fakta lain yang kami temukan, ternyata anak itu begitu penuh komitmen menyelesaikan tugas atau bahkan pekerjaan rumah ketika ia sedang tidak masuk sekolah. Tentunya dengan berkomunikasi dengan temannya yang berada di satu kelas.

Setidaknya, itulah fakta yang kami dapatkan dari anak 'pintar' kami yang pada hari itu mengaku sakit dan tidak masuk sekolah.

Jakarta, 08 Nopember 2012.

No comments: