Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

02 September 2010

Sekolah Favorit, Cerita Rina dan Ibunya

Malam itu seperti juga malam-malam sebelumnya, Rina, kelas 4 SD sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah hingga pukul sembilan malam lewat. Padahal sebagaian anak yang lain yang seusia dia telah terlelap. Rina sendiri tampak sekali kalau sedang menahan kantuk. Namun karena tugas rutinnya sebagai siswa di sekolah favorit, yaitu mengerjakan PR, belum selesai, maka ditahannya rasa kantuk itu sekuat tenaga.
Sementara itu duduk di sebelah dia adalah ibunya yang baru sampai rumah saat magrib tiba. Selain menahan penat oleh kerjaan di kantor, Ibunya juga terlihat menahan kantuk. Dan untuk mempercepat penyelesaian PR itu, kadang ibu membantunya dalam menemukan jawaban dari soal-soal foto kopian dari bu guru.
Dan selain memberikan bantuan-bantuan yang dibutuhkannya, ibunya juga mengeluh tak henti-hentinya. Ibunya mengeluhkan adanya PR yang lebih dari satu mata pelajaran yang menurutnya melampai batas. Namun anehnya ibunya sendiri yang memilihkan sekolah bagi Rina. Kata ibunya, sekolahnya sekarang adalah sekolah terbaik diwilayahnya. Dan untuk itu ibunya harus melakukan ini dan itu agar dirinya diterima serta tetap eksis menjadi siswa disekolah itu. Aneh, pikir Rina sambil menuliskan jawaban ibunya di kertas PR.

Tapi yang menurut Rina lebih aneh lagi, hingga ia sekarang menjadi siswa kelas 4, yang artinya telah 4 tahun ibunya memberikan komentar buruk atas pekerjaan rumahnya yang selalu bertumpuk, ibunya tidak pernah baik secara sendiri atau secara bersama dengan orangtua murid lainnya yang ada di komite sekolah untuk menyampaikan hal yang menurut ibunya buruk tersebut agar menjadi perhatian bagi sekolah dalam memperbaiki koordinasi antar guru Sehingga tidak setiap guru mata pelajaran berlomba memberikan pekerjaan rumah pada siswanya.

Oleh karena itu, masih menurut Rina, wajar saja bila keluhan yang dialaminya belum akan segera berakhir. Bahkan mungkin akan terus menjadi trend bagi semua guru di sekolah favoritnya itu. Dan artinya, ia dan semua temannya yang masih memiliki les sesudah pulang sekolah akan selalu terlambat memejamkan mata setiap malamnya.

Cepat Rina. Tulis, jawabannya dua pangkat dua ditambah 3 ditambah lima.” Kata ibunya. “Cepat! Itu yang namanya faktorisasi prima!”

Rina menuliskan apa yang diucapkan ibunya. Namun karena kantuk, ia keliru tempat dimana ia seharusnya menuliskan jawabannya tersebut. Maka dihapusnya dan ditulisnya ulang di tempat yang seharusnya. Waktu sekian detik terbuang, dan ia menjadi tambah kantuk. Sedang kepala ibunya sebentar-sebentar terangguk-angguk antara sadar dan tidak. Dan ketika Rina menunggu jawaban pada nomor soal berikut, ia harus menyadarkannya. “Nomor tiga puluh tujuh Mam?” Ibunya tersentak melihat lembar kertas Rina.
Begitulah gambaran paradigma belajar pada sebuah sekolah favorit yang hidup di masyarakat kita. Yaitu sekolah yang banyak memberikan pekerjaan rumah. Tekanan akademik yang tinggi kepada anak, baik yang datang dari pihak sekolah atau dari pihak rumah. Koordinasi yang kadang masih sering kurang antar personal dalam satu lembaga. Kesiapan siswa untuk mendapatkan 'angka kredit' menjadi harga mati bagi mereka yang mengejar sukses akademik.
Cerita tentang Rina dan sekolahnya serta Rina dan Ibunya, adalah secuil ilustrasi masyarakat kita tentang bagaimana mereka memandang sekolah sebagai wahana menempa potensi anak. Yang sering hanya dilihat dari kaca mata akademik semata. Tanpa melihatnya jauh lebih dari itu.
Cerita Rina, sekolahnya, dan Ibunya, adalah gambaran paradigma berpikir yang keliru tentang apa itu hasil pendidikan. Namun semoga gambaran itu saat sekarang ini hanyalah minoritas belaka. Semoga.
Jakarta, 2 September 2010.

No comments: