Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 August 2010

Belajar tentang Moral atau Karakter


Dapatkah kita memperoleh hasil yang relatif berarti tentang pembelajaran moral atau belajar karakter dari sebuah interaksi pendidikan di sekolah kita dewasa ini? Dimana kita ketahui bersama bahwa, hasil belajar siswa selain Ujian Nasional masih belum mendapat tempat. Baik secara ranking prestasi sekolah atau juga di sebagian mata masyarakat kita sendiri?

Apakah kita cukup memiliki parameter untuk mengukur keberhasilan dari hasil belajar moral atau karakter, sebagaimana kita telah memiliki dan meyakini alat ukur  untuk keberhasilan akademik mereka seperti UN? Atau mungkinkah kita tidak begitu perduli dengan kompetensi perilaku atau moral atau karakter siswa kita, karena terlanjur berkeyakinan bahwa  hasil belajar akedemik seperti UN adalah satu-satunya hasil belajar yang akan dicapai oleh sistem pendidikan nasional kita?

Rasulullah SAW pernah menuturkan dalam haditsnya bahwa; Aku diutus ke dunia ini untuk memperbaikin akhlak. Ungkapan ini mengandung arti bahwa misi utama bagi sebuah proses pendidikan adalah lahirnya sebuah akhlak, perilaku atau karakter. Tentunya akhlak baik atau perilaku luhur atau karakter mulia. Disini kita juga dapat menilik bagaimana sebuah generasi yang hidup bersama Nabi Muhammad SAW sukses mengawal kemakmuran dunia hingga beberapa generasi sesudahnya. Sebuah konsep dan aplikasi pendidikan yang secara riil dan nyata ada dalam sejarah manusia.

Dalam rumusan lain, Nel Nodding, seorang guru besar Emeritus di Universitas Stanford mengemukakan: the main of education should be to produce competent, caring, loving, and lovable people (Alfie Kohn, 2000:115).

Lalu apakah dewasa ini di dalam kelas-kelas di sekolah kita putra-putri kita belajar secara mendalam dan aplikasi tentang apa, bagaimana, seperti apa ranah moral itu harus menjadi milik mereka selain juga belajar dan mengejar SKL akademik yang akan diujikan pada  Ujian Nasional?

Saya mencoba untuk memberikan gambaran yang sangat dekat dan nyata tentang bagaimana kita bermoral dan berkarakter  terhadap sampah. Yaitu kenyataan tentang seberapa besarnya kita bermoral adalah dengan melihatnya bagaimana seseorang tersebut memberlakukan sisa atau limbah hidupnya yang berupa sampah? Marilah kita mencoba untuk memperhatian apa dan bagaimana orang di jalanan. 

Masih terdapat beberapa orang yang membuang limbah bungkus permen, puntung rokok, bungkus makanan kecil, plastik bekas botol air mineral, kartu bukti pembayaran jalan tol, atau segala rupa. Dan itu tidak saja dilakukan oleh mereka yang berjalan kaki atau menumpang bus umum, tetapi juga mereka yang mengendari kendaraan pribadi. Inilah yang dimaksud dengan NIMBY atau not in my back yard.

Kenyataan ini terjadi nyaris setiap hari dan tanpa melihat di jalanan mana mereka berada. Ada dimana-mana dan dilakukan oleh status mana saja. Inilah hasil belajar kita tentang moral atau karakter. Dan moralitas terhadap sampah sebagaimana saya kemukakan tersebut, adalah bagian kecil dari seluruh aktivitas hidup kita sebagai manusia.

Dan melihat kenyataan seperti ini, maka terbetik pertanyaan; akan dari manakah belajar bermoral baik dan berkarakter mulia hendak kita lakukan? Jawaban pastinya adalah dari diri kita sendiri, dari mulai hal yang paling mungkin kita lakukan dan harus mulai saat ini juga.

Jakarta, 31 Agustus 2010. 

No comments: