Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 Mei 2016

"Kami Butuh Bimbingan Membimbing Peserta Didik Pak"

Akhir pekan yang lalu, atas ajakan teman, saya menghadiri sebuah pertemuan kecil se sebuah sekolah kecil yang masuk wilayah Kabupaten Bogor. Saya sampaikan di sini sebagai sekolah kecil, karena memang sekolah ini sebenarnya adalah sekolah untuk anak usia dini di pagi harinya, dan TPA di siang harinya. Dengan jumlah siswa untuk Pra Sekolahnya, yang terdiri dari TK kelompok A dan TK kelompok B, sebanyak 50 siswa. 30 siswa yang di TK B dan 20 siswa di TKA. Dengan jumlah pendidik sebanyak 6 orang.

Kehadiran saya di lokasi tersebut selain untuk menghadiri undangan teman bersamaan dengan 'wisuda' anak-anak di TK tersebut, juga akan ada dialog dengan para pendidiknya seusai acara.

Pagi hari saya sudah berada di lokasi. Melihat antusiasme warga yang datang di lokasi tersebut guna menggelar dagangannya. Makanan, bakso, gado-gado, mainan plastik, boneka barbie, dan juga petasan! Para pedagang ini adalah mereka yang hadir paling awal di lokasi 'wisuda' tersebut. 

Pukul 09.00, para 'wisudawan' mulai berdatangan dengan diantar oleh ayah ibunya, dengan diantar berbagai jenis kendaraan. Dan rupanya mereka datang setelah prosesi awal 'wisuda' berlangsung. Yaitu di arak sepanjang jalan desa dengan diiringi oleh kemeriahan drum band. Keren sekali untuk ukuran lembaga pendidikan di daerah tersebut. Dan saya benar-benar menikmati. Belum lagi dengan kehebohan daro seluruh ibu-ibu orangtua siswa yang semuanya mengenakan seragam sesuai dengan kelas anandanya.

"Saya mengusulkan agar tahun depan ada penambahan alat bermain untuk anak di halaman kita yang masih terlihat kosong Pak." Kata salah seorang pendidik ketika giliran mereka diberikan. Masukan dan usulan mengalir disampaikan oleh [ara pendidik di dalam forum dialog tersebut.

"Saya minta masukan dari Bapak berkenaan dengan cara menghadapi anak-anak di dalam kelas pada saat interaksi belajar. Saya seperti kehabisan akal. Karena anak-anak yang tidak bisa berhenti dan fokus pada satu aktivitas. Dengan mereka yang mengganggu teman pada saat tugas yang dikerjakannya telah selesai. Bahkan ada juga yang mudah putus asa ketika kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya." Kata yang lain lagi dengan penuh kesungguhan. Dan semua masukan itu disitu menjadi bahan diskusi bersama bagi yang ada di forum tersebut. Termasuk diantaranya yang hadir, saya.

"Saya mengusulkan selain nanti Yayasan memang harus menambah wahana bermain anak-anak, bagaimana kalau besok kita buat titian keseimbangan dari batang bambu yang ada di pekarangan belakang? Juga bagaimana kalau besok kita membeli karet gelang untuk kemudian menjadi wahana bermain karet? Bagaimana kalau besok anak-anak kita belajarkan membuat pesawat dari kertas untuk kemudian kita lombakan? Bagaimana kalau besok kita buat kerangka layang-layang untuk kemudian anak-anak di dalam kelas menempel kertas minyak agar layang-layang menjadi sempurna kemudian kita terbangkan bersama?" Kata saya memberikan jalan keluar sebagai alternatif bagi kegiatan guru bersama siswa.

Dan pertanyaan serta kebuntuan seperti yang dialami oleh teman-teman guru di lapangan sebagaimana yang terdapat dalam forum dialog tersebut lumrah terjadi. Hal ini karena memang begitulah kenyataan yang banyak dialami oleh teman-teman yang baru benar-benar masuk dalam dunia mengajar di sekolah.

Maka pertemuan semacam dialog sebagaimana yang teman saya lakukan dengan para guru-gurunya tersebut menjadi pintu gerbang bagi peningkatan kemampuan guru untuk lebih baik di tahun pelajaran mendatang. Terutama jika dialog semacam itu reguler berlangsung. Semoga.

Jakarta, 24 Mei 2016.

Tidak ada komentar: