Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

27 Desember 2013

Transformasi Pembelajaran

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya akan pulang, saya menemui beberapa anak-anak satu kelas berada di suatu tempat di sekolah. Mereka adalah anak-anak remaja. Oleh karenanya, saya bertanya kepada mereka mengapa mereka berada di lokasi yang tidak semestinya?

Saya katakan remaja, karena memang pada usia-usia itulah saya mendapati anak-anak kreatif dalam hal-hal tertentu. Maka tanpa membuang kesempatan saya segera bertanya kepada mereka tentang maksud keberadaan mereka itu. Bukankah ini sudah jam pulang sekolah? Di lokasi yang tidak semestinya, karena anak-anak remaja itu belum pernah saya menemukan berada di sebuah kelas milik adik kelasnya yang masih mungil-mungil, yaitu ruang kelas anak TK A.

"Mereka sudah izin kepada saya Pak." Seorang Ibu Guru memberikan penjelasan atas keberadaan anak-anak itu. "Katanya mereka butuh ruangan untuk rapat kegiatan assembly di kelasnya." Tambah Ibu guru itu.

Apa yang dilakukan oleh anak-anak pada saat berdiskusi untuk sebuah proyek kelasnya, yaitu dalam bentuk kegiatan assembly tersebut, pernah menjadi bagian dari apa yang anak-anak saya sendiri alami ketika mereka berada di usia remaja beberapa tahun lalu. Yaitu proyek kerja kelompok yang harus anak-anak itu lakukan di luar waktu sekolah. Alhasil? Anak saya yang tinggal di Jakarta Barat bagian ujung harus datang ke rumah salah seorang temannya yang tinggal di Jakarta Selatan ujung. Dan ini di Jakarta bung?

Jadi maksud saya apa? Ini sungguh tidak efektif. Karena transportasi sungguh menjadi problema besar. khususnya untuk saya yang tidak memiliki supir pribadi. Naik umum? jangan pernah berdiskusi tentang itu jika armada yang akan kita gunakan adalah selain taksi!

Solusi?

Di tahun 1997, ketika saya mengajar di kelas 5 sekolah dasar, proyek semacam itupun pernah saya alami bersama anak-anak didik saya. Kala itu, saya tidak memberikan anak-anak untuk tampil dalam kegiatan assembly tersebut berupa transkrip drama untuk dipentaskan, tetapi sya bersama mereka berdiskusi tentang tema yang akan menjadi drama di assembly kami dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Dan setelah tema itu menjadi kesepakatan, maka kami membuat garis besar dari adegan-adegan yang diperlukan. ketika akan ada 4 adegan yang kita sepakati, maka kami membuat 4 kelompok yang masing-masing mengembangkan cerita dalam setiap adegannya. Tentunya jalan cerita telah disepakati. Sehingga kelompok-kelompok itu hanya mendiskusikan draft transkrip. Setelah semua terlihat, maka masing-masing kelompok itu mensinergikan jalan cerita. Klop, anak-anak dalam pelajaran art and craft membuat properti drama yang diperlukan untuk penampilan drama 5 A Family tersebut.

Alhamdulillah, drama itu sukses anak-anak tampilkan dengan posisi saya sebagai benar-benar fasilitator mereka. Dari pengalaman itu saya menjadi yakin bahwa, anak-anak itu ternyata mampu. Dan yang mereka butuhkan dari kita adalah peta jalan dan pemandu. Anak-anak saat itu tidak saya sopiri dalam mengarungi jalan yang telah berpeta tersebut. 

Lalu bagaimana dengan nak-anak yang rapat di kelas TKA itu? Tampaknya itulah transformasi yang harus menjadi perjalanan kami selanjutnya. Semoga.

Jakarta, 27 Desember 2013.

Tidak ada komentar: