Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 Desember 2013

Status atau Indikator?

Beberapa waktu yang telah lalu, saya terjebak diantara dua kata. Dua kata itu adalah kata 'status' dan kata 'indikator'. Inilah yang akan saya jadikan catatan saya kali ini. Catatan yang sebelumnya sudah pernah juga saya sampaikan, namun dengan sudut pandang lain, saya merasa ada satu hal penting yang tertinggal.

Terjebak, karena memang pada awalnya saya benar-benar masuk dalam perangkat diantara dua kata itu. Dan bersyukurnya, dari dua kata itu belum sempat satu kalipun saya deklarasikan kepada orang-orang atau pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan demikian, maka pengertian dua kata itu belum menjadi bahan polimik yang berketerusan.

Begitu seriusnya? Benar, karena dua kata itu mewakili unsur status di sebuah lembaga yang telah begitu establis, sehingga kalau saja status itu terlanjut meluncur sebagai statmen, maka runyamlah perkara. Ini karena kebetulan sekali kami belum memiliki waktu yang leluasa untuk menympaikannya. Oleh karenanya kata status atau indikator tersebut masih menjadi polemik internal, yaitu masih dalam tataran diskusi kami. Belum keluar dari koridor kami.

Bagaimana? Ini karena setelah masing-masing unit yang ada dalam lembaga tersebut mengirimkan perwakilannya masing-masing, yag tentunya para perwakilan tersebut dipilih berdasarkan status tertentu dalam sebuah diskusi, maka beberapa perwakilan tersebut secara teratur menyadari bahwa tugas yang akan diembannya adalah tugas yang membutuhkan persyaratan tertentu. Dan teman-teman yang menjadi wakil tiap unitnya tersebut nampaknya memahami alur tugas yang harus dipenuhinya. Maka pada pertemuan berikutnya, teman-teman yang menjadi wakil itu telah berganti personil.

Maksudnya?  Ketika disebuah lembaga akan dibentuk sebuah tim pengembangan, maka yang terpiir oleh tiap unit yang ada di lembaga tersebut segera memberikan mandat kepada teman-teman yang dengan 'status' senior.  Ini memang sudah daoat dengan mudah dipahami da nprediksi. Meski bukan status itu saja yang sesungguhnya diperlukan dalam sebuah gerbong yang berlabel pengembangan.

Namun ketika dalam pertemuan awal yang menguraikan maksud dan tujuan, serta tentunya keluasan dan kedalaman tugas yang akan diemban, maka lahirlah apa yang kami membutuhkan, sebagai 'indikator' dari figur-figur tersebut. Yaitu mereka yang bedarah muda, trengginas, obyektif, bervisi, persisten, dan berkomitmen.

Dan pertemuan awal itulah yang menjadi pembebas pada diri saya terhadap himpitan dan kekangan dari kata 'status'  senior, yang mungkin akan merusak harmonisasi lingkungan sosial yang telah apik itu. Pertemuan itu juga melahirkan 'indikator' bagi orang-orang yang diperlukan oleh sebuah tim pengembangan, sebagai pintu gerbang bagi kebebasan saya...

Jakarta, 24 Desember 2013.

Tidak ada komentar: