Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 November 2013

Apakah tidak ada Petani di Masa Depan?

Ada pernyataan yang menggelitik saya dan semua pengunjung ketika Cak Slamet, pengelola Brenjonk Kampung Organik di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur beberapa waktu lalu saat kami dari berbagai instansi dan wilayah datang di kampung itu. Pernyataan sederhana, tetapi menjadi sebuah realita yang secara tidak disadari akan menenggelamkan negeri kita yang agraris (?).

Di sela-sela presentasinya itu, Cak Slamet mengungkapkan fenomena bahwa tidak ada, atau paling tidak sangat sedikit, para petani yang ada di desa-desa di Indonesia ini yang mempunyai cita-cita agar profesinya sebagai pengolah lahan pertanian yang dimilikinya kembali dilanjutkan oleh keturunannya, anak-anaknya. Para petani itu mendorong anak-anak mereka untuk bersekolah setinggi dan sebaik mungkin agar nanti jangan seperti dia. Tidak saja nasibnya yang tidak seperti sia, tetapi juga profesinya.

Alhasil, jika pada suatu masa nanti tidak akan ada anak-anak muda di desa-desa yang pergi ke lahan pertanian yang dimiliki untuk diolah. Bertani! Dan fenomena ini sudah sering diungkap oleh beberapa pemerhati. Sebagaimana fenomena penggangguran yang diakibatkan oleh anak-anak muda yang belum diterima sebagai pegawai di kota, namun juga tidak mempu lagi untuk pergi ke tanah pertaniannya guna mengolah sebagai kegiatan profesi. Sebuah pernyataan sederhana yang begitu akan nyata terlihat dalam beberapa waktu yang akan datang. 

Dan atas kunjungan kami di kampungnya itu, kami justru menyaksikan bagaimana para petani yang minus lahan pertanian untuk dioleh, mampu bergerak mengikuti zaman, dan sekaligus eksis dalam menghasilkan produk pertanian yang terbebas dari bahan kimia dan cengkeraman dari raksasa industri pertanian. Yaitu dengan menghasilkan produk pertanian organik. Hebat!

Jakarta, 24 Nopember 2013.

Tidak ada komentar: