Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

11 November 2013

Ada Kutu di Kepala Siswa

Beberapa waktu lalu, saat saya melihat data kesehatan peserta didik yang disimpan di ruang UKS,  saya mendapati data isian kesehatan yang yang telah diarsipkan oleh suster UKS dengan rapi. Dari data-data yang saya lihat, saya menemukan hasil yang baik. Tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan dari data yang terkumpul dari sebuah isian tersebut. Isian yang dikirim sekolah dan kemudian dikembalikan ke sekolah itu telah tersusun berdsarkan kelas. 


"Semua hasilnya baik suster. Bagus ini." Komentar saya ketika mencoba secara acak membuka-buka lembran isian kesehatan tersebut.


"Tapi bagaimana dengan realitas yang ada? Apakah suster dan guru juga melakukan cek fisik terhadap anak-anak ini? Maksudnya apakah data ini saja yang kemudian menjadi data kesehatan anak-anak untuk kemudian dikirim ke Puskesmas, ataukah suster juga melakukan cek lapangan untuk mengetahui secara fisik kebenaran dari data ini?" Tanya saya selanjutnya.



"Itu yang masalah Pak. Ternyata tidak semua data yang ada di daftar isian tersebut memberikan gambaran nyata tentang kesehatan anak." Jelas suster UKS kami.

"Kondisi kesehatan yang mana yang paling tidak sinkron antara kondisi badan dengan isian yang mereka kumpulkan?" Tanya saya lebih lanjut.

"Mayoritas adalah kondisi kesehatan rambut dan telinga." Jelas suster.

Kuesioner kesehatan yang terkumpul di ruang UKS.
"Bagaimana dengan kondisi rambut dan kondisi telinga yang menjadi temuan suster di lapangan setelah mengecak kondisi nyata dari anak-anak itu?" Tanya saya.

"Untuk rambut, banyak kita temukan rambut anak-anak yang kutuan. Banyak diantara mereka bahkan dengan telur kutu. Ini untuk siswa atau juga yang terutama siswi. Demikian juga dengan kesehatan telinga,  kondisi yang kurang baik pada bagian telinga adalah kotor pada lubang telinganya dan juga pada daun telinganya." Kata suster kami.

Bagaimana Orangtua tidak Tahu?

Di ruangan, saya merenungi data-data yang disampaikan oleh suster sekolah kami. Bagaimana mungkin anak-anak yang cakep dan cakap itu seperti tidak terurus oleh lingkungan keluarganya. Ataukah memang begitu sibuknya orang-orang yang ada di rumahnya sehingga kondisi kesehatan pada diri anak-anak itu menjadi terabaikan. Apakah ayah dan ibu dari anak-anak yang kutuan itu tidak pernah memeluk anak-anak mereka sehingga mereka tidak 'mencium' sesuatu yang tidak beres pada tubuh putra atau putrinya?

Lalu mengapa juga harus ada perbedaan antara apa yang terdapat  pada daftar isian dengan kondisi lapangan? Apakah para orangtua anak-anak itu memberikan kewenangan putra-putrinya untuk mengisi daftar isisan itu degan 'yang baik-baik saja'?

Dalam catatan ini tidak ada keinginan saya selain menyampaikan apa yang saya lihat. Dan saya yakin kalau kondisi ini bukan monopoli di sekolah saya...

Jakarta, 11 Nopember 2013.

Tidak ada komentar: