Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

08 August 2010

Tidak Berwacana

Catatan ini tidak untuk mengajak pembaca semua menjauhi atau bahkan meninggalkan budaya berwacana yang hidup subur di negeri tercinta ini. Karena saya yakin jikapun itu saya lakukan, ikhtiar seperti itu tidak akan menjadi bagian penting. Apalagi dilakukan oleh saya, Agus Listiyono. Bukan kapasitas saya untuk melakukan hal seperti itu.

Namun bagi saya sendiri, usaha untuk tidak berwacana adalah ikhtiar sadar yang harus saya tumbuh kembangkan dan hidupkan sepanjang waktu. Dan inilah pandangan saya itu:

Ketika kali pertama saya mendapat berita dan permohonan untuk memberikan ‘pembekalan’ kepada guru di sebuah lembaga di sebuah kota, saya merasa tersanjung. Bukan karena saya menjadi merasa besar, justru sebaliknya, ketersanjungan itu membuat saya takut. Takut tidak ada sesuatu yang dapat saya berikan atau bagikan kepada para teman guru yang ada di lembaga tersebut yang layak disebut sebagai bahan ‘pembekalan’.


Saya tercenung dan berusaha mengkalkulasi jumlah seberapa banyak hal baik yang mungkin dapat menjadi bagian yang baik juga untuk orang lain bila hal itu saya bagikan. Ini terjadi setelah pembicaraan telepon dari pihak lembaga yang membutuhkan bantuan saya itu selesai. Usaha itu sulit. Karena begitu sulitnya menemukan sisi yang dapat saya bagikan, lahir pertanyaan dalam diri saya: Jadi, setelah sekian lama saya mengajar dan berdiri menjadi 'manajer' di kelas atau bahkan 'manajer' di sekolah, tidak banyak bagian yang dapat saya bagikan untuk orang lain? Pertanyaan itu membuat saya malu hati. Merasa kalau diri saya begitu lambat melakukan proses belajar.

Alhamdulillah, Allah Maha Pemurah, membukakan pintu ide kapada saya, dengan berpandukan kepada kisi-kisi kebutuhan lembaga yang dikirim via faksimili, saya mencoba membuat apa yang saya miliki itu dalam bentuk sesi-sesi pertemuan pelatihan. Dua belas jumlah sesi yang ada. Yang kemudian saya saya coba rangkai sebagai bentuk lesson plan pelatihan saya sepanjang tiga hari. Sekali lagi, karena tidak banyak yang saya miliki, dan dibagi dalam banyak sesi, maka dapat dipastikan gambaran betapa tipisnya sesi-sesi yang berhasil saya rumuskan itu.

Satu prinsif dasar saya dalam membuat dan menyusun rencana tersebut. Yaitu semuanya harus telah menjadi bagian hidup dalam diri saya. Baik dalam hal belajar mengajar atau juga dalam hal manajemen sekolah. Hal ini menjadi panduan bagi saya, karena saya ingin menyampaikan testimoni dan bukan laporan pandangan mata. Saya memposisikan diri sebagai pelaku yang menceritakan kembali apa yang saya dengar, lihat, dan lakukan. Saya berusaha bukan sebagai komentator.


Dan dalam sesi-sesi yang terlaksana itu, banyak hal tak terduga menjadi bahasan hangat dalam diskusi dan dialog serta berbagi. Dan syukur saya berikutnya adalah, karena berbekal dari apa yang telah berlangsung dalam hisup saya sebelumnya, maka pertanyaan, diskusi, dialog dan berbagi pengalaman itu saya ambil sebagai bagian berikut dalam belajar saya, dan saya tambahkan sekelumit memori dalam bentuk penjelasan dari sisi yang berbeda. Semua berjalan sesuai dengan apa yang diperkirakan.

Tidak Berwacana

Pengalaman itu, membuat keyakinan pada diri saya bahwa, menyampaikan pengalaman dari sisi pelaku dalam sebuah pemberian 'pembekalan' lebih membuat audien dalam pelatihan menjadi hidup dalam alam yang nyata. Dan itu lebih memberikan gambaran utuh yang jauh dari verbalisme.
Dan karena permintaan pula, saya pun pernah menyampaikan apa yang baru saya lihat dan dengar tapi belum pernah satu kali pun saya mengalaminya sendiri. Meski saya mengupayakan materi ‘pembekalan’ itu sekonkrit dan senyata mungkin, tetap ada rasa mengawang dalam kalimat dan bahasa yang keluar dari kerongkongan saya. Saya menjadi malu karenanya.

Hal itu pula yang membuat saya di waktu belakangan ini menghemat apa yang saya sampaikan. Baik ketika sahabat saya datang mengunjungi saya di sekolah, baik saat pertemuan dengan para orangtua siswa, atau baik pada saat saya menuangkan apa yang sedang bergejolak dalam alam pikiran saya dalam bentuk artikel. Semuanya saya usahakan untuk menakarnya secara seimbang. Takut bila apa yang saya sampaikan adalah sesuatu yang masih dalam tataran wacana.

Takut jika wacana bagus yang saya kumandangkan akan mendorong teman dari luar kota mengunjungi sekolah saya untuk melihat bukti nyatanya. Lalu teman itu bertanya kepada saya: Yang Pak Agus sampaikan saat pelatihan tempo hari itu seperti apa ya Pak? Lalu karena saya baru berwacana, maka saya menjawab: Maaf Saudara, yang saya sampaikan waktu itu adalah wacana saya. Bagaimana pula jika yang bertanya seperti itu kepada saya adalah malaikat Allah?

Jakarta, 8 Agustus 2010

No comments: