Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Juni 2016

Mudik 2016 #11; Persfektif Saya, Menikmati Perjalanan

Sering ketika kami sampai  di kampung halaman, dan ternyata saudara yang juga asal Jakarta telah terlebih dahulu sampai di kampung halaman, tidak jarang saya menerima pertanyaan yang saya sendiri menjadi orang yang lelet dalam mengendara, atau terlalu lama berada di jalanan. Tentunya ini dengan membandingkan waktu tempuh perjalanan saya dengan saudara lain yang dikenal dan diketahuinya.

"Jam berapa berangkat dari Jakarta Gus?" Begitu biasa kalimat tanya kepada saya ketika kami bertemu. Ini karena saya harus berangkat ke kampung H+1 dan kami bertemu dengan keluarga pada hari lebaran ke-3. 

Pertanyaan sederhana sebenarnya, tetapi pertanyaan ini berangkat dari mind set yang berbeda antara beliau dengan saya sendiri dalam memaknai perjalanan mudik. Dan karena berbeda sudut pandang tersebut, maka istri saya sendiri selalu menolak ketika kami diajak bersama di kendaraan beliau atau sebaliknya kalau beliau ingin bersama kami. Letak keberatan terlebih karena perjalanan bersama dia akan membutuhkan daya tahan kami dalam menahan buang air. Karena sepanjang perjalanan kami, beliau biasa akan berhenti untuk keperluan seperti itu dan lain-lain tidak lebih dari dua atau tiga kali. Mengingat prinsip perjalanannya adalah mengejar waktu secepatnya. Sedang perjalanan mudik saya, untuk keperluan istirahat dan keperluan lain-lainnya, tidak kurang dari lima atau enam kali. Dan waktu untuk itu paling cepat masing-masingnya adalah tiga puluh menit.

Menikmati?

Memang kata inilah yang menjadi visi perjalanan mudik saya. Apapun situasinya saya selalu menanamkan kepada anggota perjalanan saya untuk menikmatinya. Menikmati kebersamaan dalam kendaraan yang ada dalam suasana diskusi, tukar pikiran, atau bahkan sekedar mendengarkan cerita anak atau anggota perjalanan. Dan ini menjadi bagian momentum yang luar biasa buat kami.

Menikmati semua kondisi perjalanan yang ada apapun itu. Ketika rute yang kami ambil adalah pegunungan antara Pekalongan, Kajen, Kalibening, Karang Kobar, Banjarnegara, hingga tembus ke Wadas Lintang di perbatasan Wonosobo dengan Kebumen yang penuh selingan tanaman pertanian, maka kami akan selalu mengaguminya. Sesekali anak saya akan mengabadikan hijaunya daun tembakau atau teh atau kol dengan selulernya. Demikian juga ketika kami harus menjadi bagian dari mengantri ketika keluar dari tol Palimanan di tahun 2014 lalu pada pukul 10.00 dan baru masuk di gerbang tol Cikampek pada pukul 21.00.

"Apakah kamu tidak takut memilih jalur alternatif yang tidak biasa seperti itu? Nanti kalau ada apa-apa? Berapa lama kamu lewat jalur itu?" Kembali pertanyaan saudara saya dengan persfektif berpikir yang masih sama, pragmatis. Dan saya menjawabnya dengan kalem. Bahwa perjalanan mudik bagi saya adalah perjalanan wisata. Dengan begitu saya harus menikmati setiap ruas jalan yang menjadi pilihan saya. Dan saya selalu menginginkan situasi yang baik, menyenangkan, sekaligus mengesankan. Oleh karenanya, saya selalu berpikir baik dalam setiap perjalanan saya.  InsyaAllah.

Jakarta, 29 Juni 2016.

Tidak ada komentar: