Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

27 Februari 2015

Percaya Pembisik

Untuk tidak menjadi salah dalam memberikan arti kepada judul tersebut, ada baiknya kalau saya membatasi makna dan lingkup dari pembisik dalam catatan saya ini. Bahwa pembisik dan bisikan-bisikannya, sebagaimana posisi saya yang berada di sekolah, maka  pembisik dan bisikannya adalah apa yang beredar di sekolah.

Oleh karenanya maka pembisik dan bisikannya merupakan aktivitas yang berada di lingkungan saya, yaitu sekolahan. Jadi berbeda sekali dengan pengertian selama ini tentang pembisik yang ada di lingkungan penyelengaraan kenegaraan. 

Bahwa dalam praktek operasional sekolah, sesungguhnya saya meminta banyak sekali masukan dan pendapat dari berbagai teman. Tidak saja dalam forum resmi, seperti rapat atau FGD, tetapi ada juga diantara teman yang menyampaikan informasi, masukan, atau pendapatnya diluar forum yang saya sebutkan. Dan juga tentang berbagai hal yang ada di lingkungan sekolah. Termasuk diantaranya adalah tentang kantin sekolah.

Bahwa ada teman yang berperan sebagai pemberi informasi  atau pembisik tersebut tidak semuanya linier antara tujuan yang diinginkan dengan apa yang disampaikan. Karena tidak semua apa yang diinginkan selalu tersirat dengan informasi apa yang disampaikan. Terlebih informasi yang disampaikan tidak dalam forum resmi. Mungkin ini yang dinamakan lobby di dunia politik. Dan pada titik inilah saya selalu memegang teguh untuk tidak mudah goyang dengan garis yang seharusnya saya berada.

Seperti tentang kantin sekolah itu. Bahwa kadang saya percaya dengan apa yang menjadi masukan. Tetapi selalu pijakan terbesarnya dalam membuat kesimpulan adalah rapat atau forum resmi.

Ini menjadi komitmen saya mengingat sayalah nanti yang harus memegang tanggungjawab atas kesimpulan yang saya ambil. Pembisik akan selalu berada pada posisi penonton. Jadi, saya tetap akan mendengarkan bisikan pembisik, namun keputusan dan kesimpulan tetap menjadi ranah saya.

Jakarta, 27 Februari 2015.

Tidak ada komentar: