Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

22 Februari 2015

Up Grade Seluler

Entah bagaimana jalan pikiran peserta didik saya, yang sudah duduk di bangku kelas IX ini ketika melihat seluler saya di saat-saat menjelang jam pelajaran dimulai. Namun dari pernyataannya saya menjadi faham bagaimana cara dapat  'menikmati' orisinalitas kecerdasan di masa remajanya.

Bahkan sebelum dia,  pada usia yang sama, ada seorang remaja yang pada tahun ini sudah duduk di bangku kelas XI SMA,  memiliki komentar yang membuat saya kagum dan tercengang tentang alat komunikasi seluler saya.

Dan dari kedua komentar dari dua anak yang berbeda itu, saya menemukan benang merahnya, betapa mereka peduli dengan saya. Termasuk didalamnya peduli dengan apa yang ada pada saya. Dan itu adalah bagian lembaran hidup yang menjadi kesan bahagia bagi saya sebagai seorang guru. Pengalaman hidup yang tidak dapat ditukar dengan materi. 

Anak yang pertama, waktu itu ketika kami bertemu di halaman sekolah dan ketika saya sedang menemani mereka sebelum mereka dijemput oleh para orangtua atau drivernya, menyatakan bahwa usia hand phone saya sudah empat (4) tahun. 

"Tapi masih bagus Pak. Walau sekarang HP dengan jenis yang sama sudah ada seri yang terbarunya. Itu kan Bapak beli ketika saya masih duduk di kelas enam (6)." Katanya kala itu. Dan karena dikatakan dihadapan beberapa temannya, maka wajar jika ada temannya yang menyangsikan apa yang dikatakannya.

"Ah masak. Memang begitu Pak?" Kata temannya penuh ragu. Saya diam dan kembali memasukkan HP ke saku celananya setelah menyelesaikan panggilan dari teman kerja yang ada di lantai tiga.

Anak kedua, yang baru saja terjadi pada beberapa waktu lalu, adalah juga komentar orisinil yang menghibur.

"HPnya bagus Pak. Seperti HP yang dipakai ayah saya. Keren." Katanya. Juga didengar oleh beberapa teman yang sedang duduk disekitar kami. Saya tidak bereaksi sama sekali terhadap pernyataan yang sampaikan.

"Tapi sekarang sudah lahir lagi generasi 4nya Pak. Lebih optimal dari generasi 3, sebagaimana yang Bapak miliki itu. Di up grade saja Pak. Punya ayah saya juga akan di up grade." Tuturnya. Di up grade? Bayangan saya seperti perangkat komputer yang di up grade perangkat lunaknya.

"Jadi bisa di up grade ya?" Kata saya tidak mengerti dan faham dengan apa yang dimaksudkan.

"Bisa Pak. Jadi Bapak bawa saja HP generasi ke 3 Bapak ini ke toko dimana Bapak dulu beli. Lalu tukar tambah dengan yang baru. Yang generasi ke 4." Saya tentu saja batu ngerti apa yang dimaksudlan dengan up grade itu ketika kalimat terakhirnya selasai. Dan saya kagum dengan cara berguraunya itu. Dalam hati saya berkata; lucu...

Jakarta, 22.02.2015.

Tidak ada komentar: